Bicara Soal Star Wars

Hari ini saya menamatkan Star Wars untuk ketiga kalinya, dan masih belum bosan, dan masih terlalu sedikit untuk membanggakan diri sebagai Star Wars freak. Dari tiga kali menamatkan film dengan durasi 6 x (kurang lebih) 120 menit ini, saya selalu merasa bahwa Star Wars edisi lama (sebelum tahun 1998) jauh lebih seru dibanding edisi baru (setelah tahun 1998). Cukup ironis mengingat budget dan teknologi yang jauh lebih canggih ternyata berbanding terbalik dengan tingkat kualitas sebuah film. Mungkin saya terdengar subjektif, namun melalui artikel ini saya ingin berbagi pandangan mengapa hal seperti itu bisa terjadi.

Episode terbaik menurut saya adalah episode 6 dan episode 2 merupakan episode terburuk.  Kenapa saya bisa menentukan mana episode terbaik dan mana episode terburuk? Parameter yang saya gunakan untuk menentukan aspek kesukaan saya terhadap film ini adalah, kenimatan saat menonton, dan seberapa besar film ini akan mempengaruhi saya setelah menontonnya. Ah kurang terkuantisasi. Tapi itulah film, ada unsur rasa, dan perasaan pribadi seseorang yang bersifat intangible bermain didalamnya. Nah ini lah unsur terbesar yang menurut saya menjadi pembeda antara Star Wars era lama (episode 4-6) dan Star Wars era baru (episode 1-3).

Saya mengaitkan hal ini dengan salah satu mata pelajaran saya, yaitu Perencanaan Sistem Informasi, dalam menentukan visi perusahaan yang akan berkaitan dengan penentuan sistem informasi yang ingin dirancang, kita perlu memilih operating vision terlebih dahulu. Operating vision menurut buku Anita Cassidy dapat dibagi kedalam 3 jenis, yaitu :

Product Leadership : Keberhasilan diukur apabila kita berhasil menciptakan produk yang paling unggul dari produk sejenis.

Contohnya Burger King, harganya jauh lebih mahal dibanding outlet burger lainnya, tetapi mengapa masih banyak yang ingin mencicipi burger satu ini? Karena Burger di Burger King diyakini sebagi burger terenak saat ini. Burger King dapat terus mendapatkan konsumen walau terus menjual dengan harga yang tinggi, karena mereka berhasil menciptakan produk yang lebih unggul dibandingkan produk kompatitornya.

Atau jika bicara tentang film, menurut saya The Lord of The Rings adalah salah satu film epic terbaik. Banyak film epic diciptakan, tak sedikit film kolosal berbudget miliaran di luncurkan. Tapi tetap The Lord of The Rings memimpin klasemen sebagai film kolosal terbaik, tak pelak film ini masih dikenang dan menjadi film favorit untuk banyak orang (saya contohnya) HAHHA.

Operational Excellent: Keberhasilan diukur apabila kita dapat mengefisiensikan semua sumber daya yang dibutuhkan (baik waktu, biaya, atau manusia) untuk menciptakan produk yang baik.

Huawai memiliki tingkat penjualan yang tinggi di Indonesia ini, mengapa? Karena mereka berhasil menghadirkan produk elektronik dengan harga yang termurah!

Hmmm, kalau bicara film saya mungkin tidak terlalu memiliki referensi budget yang memadai. Tapi kalau saya boleh berpendapat, film Black Dynamite berhasil menjadi film sukses dengan operating vision Operational Excellent, lihat kesederhanaan yang diberikan oleh film itu, mobil terguling yang diambil entah dari film apa (diulang 2 kali lagi!), adegan tembak-tembakan sederhana dengan editan minimal, tapi lihat film berkatagori B movie ini berhasil menarik perhatian jutaan umat. Terbukti sumber daya minimal tidak menjadi halangan untuk mengahadirkan film yang menghibur.

Costumer Intimacy : Keberhasilan pencapain produk sangat disesuaikan dengan kebutuhan dan perilaku konsumen. Produk yang diciptakan harus mampu memenuhi kebutuhan dan melayani kostumernya.

Pinterest misalnya, salah satu web dengan metode user ganarated content ini berhasil menjadi salah satu situs terbeken saat ini, kelebihannya? Kita para penggunanya diberikan keleluasaan untuk memodifikasi ‘board’ milik pribadi. Kita membuat sendiri spesifikasi jenis board yang kita inginkan, memilih pin yang akan ditempelkan pada masing-masing board, memilih katagori gambar yang ingin dilihat, board kita, benar-benar menjadi board milik pribadi.

Hal ini juga yang saya rasa dijalankan oleh Star Wars lama, pada ketiga episode lama itu, para penikmat dibuat  lebih dekat dengan semua komponen film. Semua karakter film dibuat begitu dekat dengan kita. Coba lihat intensitas keberadaan C3PO, keenam episode cukup banyak menghadirkan tokohnya, tapi pada episode lama kita akan lebih merasa kenal dengan sifat C3PO yang ribut dan penakut. Lihat juga peran tokoh Ewok di episode 6 dibandingkan dengan para kaum Gungan di episode 1. Keduanya sama-sama kaum pembantu bala tentara tokoh utama, tapi kita jauh merasa terentuh dnegan kehadiran para mahluk berbulu ewok dibanding kaum Gungan yang seolah hanya kaum tumbal yang membatu perang melawan para droid. Tidak ada emosi khusus yang didapat dalam melihat perjuangan kaum Gungan.

Kaum Ewok :3
Kaum Gungan

Tokoh Gungan yang ditonjolkan dalam sosok JarJan Binks pun hanya banyak diceritakan di episode 1, walaupun kerap muncul di episode 1-3. Lihat tokoh Lando, salah satu tokoh yang sebenarnya tidak terlalu terkenal, namun kita masih sangat jelas mendapatkan sosoknya sebagai pria playboy dan seorang penerbang yang handal. Kemunculannya di episode 5-6 terasa cukup penting.

Pemberian nama juga menjadi salah satu faktor pendukung untuk membuat penonton merasa terikat dengan para tokoh. Siapa tak kenal death star, star destroyer, speeder, atau sang legendaris millennium falcon. Bahkan kendaraan pun memiliki nama. Lalu siapakah nama pesawat yang terus menerus mengantar Queen Amidala untuk melintasi galaksi? Entahlah.

Millennium Falcon

Apa yang diharapkan ketika menonton Star Wars? Wars! Perang, aksi, tembakan, mahluk-mahluk aneh yang berseliweran. Kita tidak mengharapkan intrik dan konfil yang terlalu dalam dan kelam. Namun itulah yang terjadi pada Star Wars baru, terlalu banyak intrik dan dialog panjang melelahkan. Film action miliki Star Wars di episode 4-6 menjadi lebih drama di Star Wars episode 1-3 apalagi di episode 2.

Lihat persahabatan Chewbacca dan Han Solo, terasa sekali kan. Mereka 2 mahluk dengan perbedaan ras yang mampu saling memahami satu sama lain, persahabatan Luke dan Han Solo, R2-D2 dan C3PO, percintaan Han Solo dan Laia, perselisihan Jabba dan Han Solo, semua terasa tepat pada porsinya. Kita dibiarkan semakin dekat dengan tokoh Laia yang pemberani, Han Solo yang keras kepala, atau Darth Vader yang berkuasa. Sifat dari para tokoh ini pun terasa mudah untuk dimengerti bahkan untuk anak-anak, saya yang waktu itu menonton film ini masih diusia SD pun masih dapat menangkap karakter dari setiap tokoh.

Han Solo dan Chewbecca

Sedangkan pada film Star Wars edisi baru, para tokohnya memiliki tingkat kompleksifitas yang lebih dalam namun tidak ditampilkan dengan sempurna. Hubungan Anakin – Obi Wan yang entah saling benci atau saling sayang membuat bingung hingga akhir. Adegan penyampaian perasaan Obi Wan terhadap Anakin pada akhir episode 3 pun tidak disampaikan dengan  cukup baik menurut saya. Tidak ada perasaan sayang yang terpancar antara murid dan guru. Bahkan kebenciaan dan keraguan Anakin pun terasa tidak disampaikan dengan baik oleh Hayden Christensen,  yang muncul  hanya tokoh Jedi labil yang mudah berprasangka.

Anakin dan Obi Wan

Penonton dibuat lebih harus ekstra bekerja keras untuk memahami keseluruhan cerita. Ada banyak intrik dan penghianatan yang terjadi dalam plot utama cerita pada Star Wars baru. Entahlah mungkin segmentasi usia para penontonnya berubah. Star Wars episode lama untuk semua umur, dan Star Wars episode baru untuk kalangan yang lebih tua. Saya diusia SD begitu terikat dengan Luke, lalu berharap menjadi bagian petualanngannya  dan merasa asing dengan Anakin. Lalu kini diusia 20, saya masih merasa dekat dengan Luke dan semua tokoh didalamnya, dan masih merasa jauh dengan Amidala.

Menurut saya, hal ini dikarenakan perubahan dari operating vision dari kedua era pembuatan film. Dalam episode lama, dengan kesederhanaan cerita ia membangun film dengan pemberian kedalaman perilaku dari setiap tokoh-tokohnya, kita dibiarkan berkawan dengan ewok, chewbacca, millennium falcon, R2D2 dan C3PO. Costumer Intimacy tercapai! Sedangkan pada episode baru, mereka berubah visi menjadi Product Leadership, mereka berusaha menciptakan film yang WAH, dengan animasi yang super canggih, editan disana-sini, efek perang yang lebih membahana, dan menghabiskan bermiliar-miliar untuk menghadirkan film yang lebih baik dari pendahulunya. Hasilnya, perasaan dari kostumer lah yang bicara, mungkin Star Wars episode baru memang lebih enak dipandang mata dan lebih memberikan efek yang sempurna, namun ia tidak berhasil menyentuh aspek intangible berupa perasaan memiliki dari kostumernya. Hal yang tertinggal setelah menonton Star Wars episode baru hanya lah “Wah, filmya keren”, sedangkan pada Star Wars episode lama “Wah, asik bangeet petulangannya, aaa ewok lucu banget, han solo keren deh, tapi darth vader paling juara, ih pengen deh nyobaik naek Millennium Falcon”.

Yah tapi walau terdapat perbedaan kualitas dari keenam episode Star Wars, saya tetap merasa puas dengan keseluruhan film Star Wars. Salah satu film terbaik sepanjang masa. Film yang menemani saya dari kecil hingga kini dewasa. Salah satu film inspiratif yang dulu bahkan membuat saya bercita-cita menjadi astronot agar bisa pergi keluar angkasa. Semoga yang belum tertarik untuk menonton film satu ini ingin mencoba berpetualang bersama Star Wars. Dan yang sudah mencintai Star Wars semakin mencintai Star Wars

Dan untuk semua yang membaca tulisan ini semoga mendapatkan makna yang berusaha saya sampaikan. Hiduplah dengan suatu visi yang kuat.

Jika memilih untuk menjadi seorang pimpinan, jadilah yang paling menonjol. Buatlah film yang memang paling mendekati sempurna dikatagorinya. Jika ingin menjadi terefisien, jadilah yang paling pandai mengatur sumber daya namun tetap mampu memberikan hasil yang layak. JIka ingin menekankan pada experience bersama orang lain, jadilah yang paling pandai membaca keinginan pasar, jadilah dekat dan bersahabat. Jadilah seperti Star Wars episode 4-6 yang selalu terkenang para penontonnya.

Wah ternyata dunia Star Wars yang saya suka dapat digabungkan dengan dunia kuliah yang saya….ehmmm suka juga sih. Hhe 🙂

Maytheforcebewithus 🙂

Latifa Dwiyanti

Author: admin