Catatan Bioskop Kampus: Lewat Djam Malam

Bandung di tahun 1954, baru berlalu 9 tahun pascakemerdekaan Indonesia. Itulah yang menjadi latar film Lewat Djam Malam besutan sutradara kondang bernama Usmar Ismail. Lewat Djam Malam berkisah seputar Iskandar (A. N. Alcaff), seorang mantan tentara dan juga seorang mantan mahasiswa alias seseorang yang terpelajar. Selepas perang, Iskandar memperoleh kesempatan untuk hidup menikmati kemerdekaan dengan tenang, tanpa harus menumpahkan keringat dan darah di medan perang lagi. Namun, Iskandar juga dihadapi oleh sebuah realita yang pahit. Kemerdekaan, yang diraih akibat perjuangan Iskandar dan tentara-tentara lainnya, hanya dimanfaatkan oleh golongan-golongan tertentu untuk mencapai kekuasaan dan harta. Realita ini membuat Iskandar tidak serta-merta berpangku tangan ketika ia sudah tidak perlu berperang lagi, melainkan justru menggugah nurani Iskandar dan memuatnya untuk tidak tinggal diam.

Ketika Indonesia merdeka, negara ini sudah menjadi milik rakyatnya sendiri. Pascakemerdekaan sudah bukan merupakan periode untuk melawan penjajah. Namun, bangsa yang sudah menjadi milik sendiri ini menghadapi sebuah masalah baru, yaitu korupsi seperti yang digambarkan oleh film Lewat Djam Malam. Jangankan sekadar menontonnya saja, namun rasanya masih relevan jika kita membuat ulang film Lewat Djam Malam, yang dibuat dan berlatarkan ketika negara ini masih berumur jagung, pada masa sekarang (saat negara ini sudah merdeka 71 tahun), terutama apabila relevansi yang dimaksud didasarkan pada aspek kondisi sosial dan politik yang diangkat film tersebut. Isu menghalalkan segala cara untuk mencapai keuntungan pribadi (baca: korupsi) masih selalu muncul di permukaan. Meskipun, isu tersebut sudah berlangsung lama namun nampaknya kita belum bisa melihat resolusi dari isu tersebut. Bahkan, kita juga masih melihat hanya sedikit “Iskandar” yang berlaku sebagai agen-agen perubahan yang semestinya membawa bangsa ini ke arah yang seharusnya. Yah, sama saja seperti Iskandar, yang berjuang tanpa dukungan dari pihak manapun untuk mewujudkan idealismenya akan kemerdekaan.

Menyaksikan film Lewat Djam Malam di hari-hari ini mengajak kita untuk berefleksi akan isu yang diangkat oleh film ini. Mulai dari Kota Bandung, latar film ini, yang begitu dekat dengan kita, hingga kondisi sosial-politik seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Melalui film ini, kita juga dapat sedikit menilik sejarah. Kisah jam malam itu sendiri pada film ini, yang diberlakukan di Kota Bandung pada masa tahun 1950an, dapat memberi bayangan pada kita bagaimana rawannya Kota Bandung pada masa tersebut dari aspek keamanan. Hal ini juga sekaligus mampu membuat kita membandingkan kondisi tersebut dengan masa sekarang (Apakah keamanan lingkungan hidup masyarakat masih menjadi isu di zaman sekarang? Sudahkah ada perubahan?) Selain itu, kita juga diajak untuk semakin mengapresiasi film karya sineas Indonesia. Film Lewat Djam Malam yang diputarkan pada masa ini merupakan hasil restorasi pada tahun 2012 dari film yang sama produksi tahun 1954. Oleh karena itu, rasanya memutarkan film Lewat Djam Malam di Institut Teknologi Bandung, yang target penontonnya adalah mahasiswa, merupakan suatu hal yang sangat relevan dan baik. Mahasiswa, yang notabene merupakan pribadi-pribadi muda penerus bangsa yang masih kritis, diharapkan dapat menikmati film ini di tengah kegiatan akademik dan kemahasiswaan sambil mengkritisinya serta menjadikannya sebuah bahan refleksi.

Author: Christopher Fernaldy Kusuma

Biasa dipanggil Kester. Mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (FTMD ITB) 2015. Saat ini juga menjadi kru Liga Film Mahasiswa ITB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *