Bioskop Kampus Montase : Catatan Program Dimensi

Baik kaya, miskin, tua , maupun muda, setiap orang pasti menilai – dan dinilai oleh –  orang lain. Bentuk penghargaan satu kepada yang lain baik materi maupun immateri mempengaruhi pandangan lingkungan terhadap seseorang. Hal ini lebih umum dikenal dengan strata sosial atau lapisan – lapisan yang ada pada masyarakat. Paling kontras dapat kita lihat dalam pembagian kelas. Ada kelas pekerja atau marjinal adapula kelas pemilik modal yang tidak jarang memiliki jabatan politik dalam organisasi masing-masing. Hasil dari pembagian kelas pekerja ini berdampak pula dalam peradaban masyarakat. Seringkali terjadi segregasi kelas-kelas sosial kaum bawah, menengah, dan atas. Semakin hari pun semakin kentara bahwa ada jurang yang memisahkan tiap-tiap lapisan ini.

 

Lewat film Kok Kemana karya Chairun Nissa dari Sedapfilms, dan Lady Caddy karya Yosep Anggi Noen kami berharap dapat membawa siapapun yang menontonnya menyadari keberadaan dimensi-dimensi sosial dalam konteks masyarakat (mereka yang digusur dan mereka yang menggusur). Belum lagi hal-hal yang tidak masuk akal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti salah satu scene dalam film kok kemana yang memang terkesan tidak masuk akal ketika si anak bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

 

Lewat kedua film ini, tentunya kami tidak berusaha menggurui untuk pro kaum marjinal dan kontra terhadap para lapisan atas masyarakat ataupun sebaliknya. Tentu tidak. Kami berusaha memberikan gambaran bahwa layaknya dimensi, lapisan masyarakat tidak dapat di segregasi sedemikian rupa hingga yang satu tidak lagi membutuhkan yang satunya. Justru sebaliknya. Ruang tidak akan menjadi ruang tanpa adanya bidang. Demikian pula bidang tanpa adanya garis, dan garis tanpa adanya titik. Bahwa sebenarnya kesadaran akan kesinambungan tiap lapisan masyarakatlah yang mampu membentuk peradaban yang beradab.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *