Catatan Forum Arkipel: Dokumenter dalam Eksperimentasi

Dalam diskusi panel pada tanggal 18 Agustus 2016, pembicaranya adalah Shalahuddin Siregar selaku sineas dokumenter, Hafiz Rancajale selaku ketua Forum Lenteng, dan Sow-Yee Au selaku seniman yang berdomisili di Taiwan dengan tema Dokumenter dan Eksperimental. Diskusi di forum ini lebih menekankan kepada eksperimentasi pada film dokumenter, di mana film dokumenter sebetulnya punya potensi besar untuk bermain dan mengeksplor bahasa visualnya. Film dokumenter di Indonesia cenderung membatasi potensialnya dengan mencari “jalan praktis” dalam berbahasa visual: karakter di film dikondisikan untuk menceritakan kisah hidupnya dengan berbicara langsung di depan kamera. Dalam tulisannya di tautan berikut, http://hujantropis.com/post/146644769616/tidak-ada-karpet-merah-untuk-dokumenter, Mas Udin menganggap film dokumenter di Indonesia bukan lagi mencoba untuk bercerita, tetapi hanya sekadar memberikan informasi.

Karakter yang dipilih di dalam film kemudian juga berpengaruh. Sineas dokumenter cenderung untuk memilih pemeran yang supel dan reaktif di depan kamera, dengan asumsi karakter yang seperti itu mempunyai cerita yang lebih banyak dan menarik. Padahal, menurut Mas Udin (Shalahuddin Siregar), kemampuan film bercerita terletak pada kemampuan sineasnya untuk mengolah teknik bercerita. Dalam film Negeri di Bawah Kabut misalnya, Mas Udin sangat menghindari adanya wawancara karakter film. Mas Udin lebih mengupayakan untuk merekam aktivitas mereka sehari-hari dan membangun keintiman antara penonton dan karakter dari sana, sehingga batas antara fiksi dan dokumenter menjadi kabur di dalam film ini.

Selain itu, film dokumenter di Indonesia juga mempunyai kecenderungan untuk merekam cerita-cerita kehidupan yang “masif” dan mempunyai nilai jual yang tinggi. Padahal, film dokumenter yang baik seharusnya mempunyai kemampuan untuk mengekstrak suatu hal menarik lewat kehidupan sehari-hari yang kelihatan biasa saja. Lewat film dokumenter pula, seharusnya penonton diberi ruang untuk menafsir dan “mengalami”, bukan hanya menjadi entitas pasif yang menerima informasi begitu saja, seperti yang dinyatakan Mas Udin lewat tulisannya di tautan di atas.

Pengkaburan batas antara fiksi dan dokumenter juga terjadi antara film eksperimental dan dokumenter. Teknik pasca produksi berupa editing, misalnya, dapat menguatkan potensi film bercerita, bahkan membuka perspektif-perspektif lain bagi penonton. Hafiz Rancajale lewat filmnya yang berjudul Menggali Buaya (2015) memberikan contoh yang mengaburkan batas antara film dokumenter dan eksperimental. Adegan seseorang mencakul tanah dibarengi dengan montase-montase berupa gambar timbul/pahatan yang menunjukkan pembunuhan orang-orang sipil oleh tentara. Pada satu sisi Hafiz merekam sesuatu yang nyata, tidak dibuat-buat, tetapi di sisi lain cerita yang disajikan pada film terkesan abstrak karena alurnya yang tidak umum. Film pendek Indonesia lain, seperti film yang berjudul Pagi Di Kala Waktu Itu (2012) dan 05:55 (2015) juga hanya menunjukkan potongan-potongan adegan kegiatan masyarakat pada suatu pagi tanpa ada alur cerita, sehingga kedua film tersebut seakan-akan baru dapat didefinisikan sebagai film fiksi ketika sang sutradara menyatakannya demikian. Dari ketiga contoh film tersebut, begitu jelas bahwa batas antara film dokumenter, fiksi, eksperimental dapat menjadi begitu kabur, sehingga hal yang menjadi menarik adalah interpretasi dari penonton itu sendiri.

Kembali ke topik awal, film dokumenter sesungguhnya mempunyai keluwesan untuk bercerita. Lewat ceritanya yang sebetul-betulnya menampilkan realita, film dokumenter seharusnya dapat menjadi lebih intim dari film fiksi. Teknik penceritaan yang tidak instan dibutuhkan pada film dokumenter. Hal ini dapat dieksplor melalui proses rekam adegan maupun teknik editing yang membikin interaksi antara film dengan penonton menjadi dua arah, bukan hanya satu arah dari film ke penonton.

mm

Author: Permata Adinda

Dinda, berkuliah di ITB jurusan teknik kimia. Menggemari film sejak kecil, namun baru berusaha memahami film sejak masuk ke Kineklub LFM ITB. Sampai saat ini juga aktif di komunitas Bahasinema demi menghidupkan pemutaran film-film Indonesia di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *