Catatan Menonton Fantastic Beasts And Where To Find Them: Soal Bernostalgia

Saya sering merasakan ada perbedaan yang cukup signifikan ketika menyikapi film “bioskop” serta film “non-bioskop”. Film-film “non-bioskop” seringkali dicap sebagai film yang “nyeni” bahkan “sulit”. Maka timbul suatu kebiasaan untuk memikirkanya berulang kali, mencoba memaknai (kadang berlebihan) suatu adegan dengan melihat kembali adegan tersebut lagi dan lagi, berdiskusi panjang lebar soal isu yang dibawa dan pentingnya dalam peradaban manusia, serta wacana-wacana lainnya. Sedangkan film-film “bioskop” seolah disederhanakan sebagai “penghibur” atau film “ringan”. Maka diskusi tipikal yang sering saya dengar adalah sebuah evaluasi rasa dari pengalaman yang muncul setelah menonton filmnya. Mana adegan yang disukai, mana yang disukai, mana yang mungkin logis dan tak logis. Diskusi film-film “bioskop” sering mentok pada konten film sehingga terkesan pendek dan begitu-begitu saja, berbeda dengan diskusi film-film “non-bioskop” melalang buana ke luar konteks fim. Namun apa iya diskusi yang “menarik” harus seperti diskusi film-film “non-bioskop”?

Baru-baru ini saya juga mengamati bahwa film-film yang ada di bioskop kebayakan adalah franchise atau remake : Warkop DKI Reborn, Ini Kisah Tiga Dara, Marvel Cinemtic Universe, DC Cinematic Universe, Star Wars Saga, dan Fantastic Beasts And Where To Find Them. Tidak dipungkiri film-film ini juga sering dicap sebagai film “bioskop”. Namun ada sebuah bentuk diskus yang baru saya sadari tidak ada di film-film jenis serupa. Lebih seru dan lebih lama, memberikan efek yang serupa dengan mengorek-ngorek film-film sekuel atau prekuel di hardisk lama, atau bahkan mengeksplorasi medium lain dengan isi serupa. Betul, bernostalgia namanya.

Watching movies is fun, katanya. Talking about it is even more, katanya pula. Saya melihat bernostalgia adalah sebuah bentuk diskusi yang mungkin melahirkan cendekia-cendekia dalam taraf tertentu, sebagai geek dari franchise tertentu. Saya menyebutnya sebagai franchise hanya sebagai penyederhanaan saja, tanpa maksud menjelekkan atau bagaimana. Yang pasti mereka menjadi sekumpulan orang yang sangat ahli dalam membicarakan kemungkinan Grindelwald menjadi jahat, atau hubungan Scamander dengan Lovegood, mungkin juga implikasi dunia Fantastic Beasts dengan dunia Harry Potter. Mereka adalah analis-analis unggul yang mampu mengorek-ngorek isi plot, trivia, dan isi karakter-karakter saga tersebut, seolah merekalah sang auteur. Apabila para antusias film “non-bioskop” berbicara soal konteks fenomena sosial yang berhubungan gagasan film, maka antusias film “bioskop” berbicara soal konteks semesta fiksi spesifik filmnya.

Kebutuhan menonton dan menikmati karya seseorang tentulah berbeda dengan seorang yang lain. Apabila dialog antar manusia terjalin karena kebutuhan untuk mengemukakan pendapat (dasarnya), maka terlepas dari konten bicaranya, tidak masalah kan? Kalaupun film (dan bentuk karya yang lain) ada untuk merangsang p ikiran, saya kira pendalaman melalui nostalgia adalah cara lain untk memahami karakter dalam semesta fiksi tersebut. Pendalaman karakter macam ini akan memberikan pendalaman aspek kemanusiaan, yang disebabkan karakter lain (interaksi dengan makhluk sosial lain) atau kondisi konflik cerita (interaksi dengan lingkungan karakter). Nyatanya tidak ada yang jauh berbeda daripada penonton film yang “lain”.

Lagipula ada semangat dan emosi meluap-luap yang sama ketika kedua jenis antusias ini berbicara. Bernostalgia adalah upaya merekonstruksi dan mengalami semesta fiksi yang ada. Ujungnya adalah sebuah “oh shit betul juga” yang mungkin bikin pelongo sebentar, diakhiri ujaran “keren banget emang JK Rowling!”. Saya kira seluruh penonton sadar bahwa karya yang dialaminya adalah sebuah fiksi, namun keyakinan dan kepercayaan atas semesta fiksi tersebut membutuhkan pemahaman logika yang ada di dalamnya. Setelah percaya, barulah ada semacam lonjakan emosi, hasil bersimpati dengan karakter yang ada. Pada akhirnya dialek soal logika akan mengarah pada upaya untuk “merasa”, sebuah elemen yang saya kira paling penting dan pertama dirasakan dari sebuah film.

Saya kira berbagi pikiran dan pendapat yang terjadi antar antusias ini adalah ungkapan perasaan dalam untai kata-kata yang mampu-tidak mampu mewakili pengalaman “rasa” yang mereka dapat setelah meninggalkan ruang teater. Menonton film mungkin dapat disamakan dengan berdoa di dalam rumah ibadat. Film adalah tuhannya, bahasa sinema – gambar dan suara – beserta kefiksiannya adalah mukzizat “keagungan” yang berusaha menjelma menjadi kenyataan, dan bediskusi adalah kegiatan saling membagi pengalaman mengalami mukzizat tersebut. Jangan lupa juga, diskursus yang terjadi akan lebih sehat dan menyenangkan apabila tidak ada duel antara bigot mazhab film “bioskop” melawan  film “non-biosokp”. Film tidak melulu harus dibicarakan melalui satu perspekitf saja, kan?

mm

Author: Albertus ‘Obe’ Wida

Biasa dipanggil Obe, besar di pinggiran Jakarta, berkuliah di ITB sebagai mahasiswa fisika teknik. Mulai menaruh hati pada film sejak masuk Liga Film Mahasiswa ITB, sekarang sering hinggap ke pemutaran di sana-sini sebagai pelarian kuliah yang sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *