Catatan Menonton Istirahatlah Kata-Kata

Film, saya kira tidak pernah lepas dari konteks sosio-politik pada masa ia diproduksi. Kalaupun ia tidak berbicara soal tahun tersebut, paling tidak mewakili tanggapan dan respon sang sutradara – sebagai auteur – yang telah terpengaruh akibat masa itu. Hal di atas saya rasa juga tidak berlaku pada pembuat filmnya saja, namun juga pada penontonnya. Minimal, hal tersebut tercermin dari apa-apa saja yang ia telah konsumsi. Apabila film saja sosio-politis, tidak memungkiri penonton pun tidak sosio-politis, kan? Apalagi film yang memang dengan jelas ingin membeberkan situasi sosio-politik masa dan tempat tertentu : Istirahatlah Kata-Kata (IKK).

Berbicara soal situasi orde baru dan penyair sekaligus aktivis – didaulat kiri – yaitu Wiji Thukul, cukup sulit imaji dia dengan karismanya membaca puisi (saya sendiri mengenal Wiji Thukul karena puisi-puisinya dahulu ketimbang aktivismenya, sehingga yang melekat adalah imaji dia sebagai penyair). Ditambah dengan imaji yang diberikan pasca-reformasi tentang situasi 1998, yang saya ingat banyak adalah demonstrasi, distopia di jalan-jalan kota besar, dan huru-hara dengan gemuruh suara ribuan mahasiswa sekaligus derap ledak pihak militer waktu itu. Disini, IKK nyatanya menyajikan hal yang berbeda dari imaji yang biasa saya dapatkan.

IKK menyajikan hidup Wiji yang penuh sunyi dan rasa teralienasi daripada imaji di atas. Kebanyakan adegan pun mengingatkan kita pada sosok Wiji sebagai ayah, mengingat imaji Sipon di Solo selalu diselipkan dengan subtil oleh Yosep Anggi Noen. Saya kira, imaji di atas menjadi cukup penting, untuk mengingatkan kita bahwa Wiji pun masih manusia, bukan nabi. Imaji demikian sebetulnya mengingatkan saya pada cerita Yesus – nabi umat Kristen – sebagai Tuhan, masih berdoa pada Bapanya (trinitas Kristen) untuk menyelematkan-Nya dari ketakutan akan disalib. Sungguh, momen tersebut menunjukkan betapa manusianya Yesus, yang dipercaya juga sebagai Tuhan sekaligus. Wiji, rupanya, perlu juga diberikan imaji demikian oleh Yosep Anggi Noen : bahwa aktivis, bisa juga berada dalam ketakutan dan ketidakberdayaan (adegan paling impresif adalah ketika Wiji – yang sudah seret uang – bahkan sulit meminum air putih yang gratis sekalipun karena ada kumpulan semut. Kata-katanya, yang keluar dari mulutnya, nyatanya membawa malapetaka pada perutnya karena akan selalu menarik perhatian “semut-semut pemerintahan”).

Dari sini menjadi bebas pada penonton, apakah hal tersebut jadi sebuah pernyataan deradikalisasi atau tidak. Namun, hal tersebut juga dapat dibaca sebagai terror orba sesungguhnya. Baru-baru ini juga saya melihat video Soeharto yang menanyakan balik pada siswa anak SD yang bertanyanya padanya kenapa Presiden RI hanya ada satu (bisa dibaca sebagai hanya 1 sebagai ‘sendirian’, atau 1 nama dari tahun ke tahun). Soeharto sambil tertawa dan senyum bertanya, “itu siapa yang suruh kamu tanya begitu?” Seramnya bukan main.

Menarik, bagaimana hal ini juga turun sebagai tokoh yang ditampilkan menyaru dengan keseharian : calon tantara gagal yang jadi gila dan suka jalan-jalan tengah malam dalam keadaan mabuk, juga pada perwira yang dipangkas secara gratis di tempat tukang cukur. Pertemuan Wiji dengan mereka selalu terkesan tiba-tiba, tidak diduga, sehingga Wiji pun jadi latah menanggapinya. Imaji ini, lagi-lagi, berbeda dengan imaji teror orba yang terkesan formal.

Hal ini, yang mungkin disasar Yosep Anggi Noen. Menyadari ia akan memasukkan filmnya ke bioskop dan ditonton oleh kaum muda (yang bisa jadi belum mengenal Wiji dan Orba lebih dalam), dengan subtil memberikan gambaran keduanya. Mungkin, narasi-narasi yang sekarang sudah beredar lewat medium lain sudah dapat menjadi gambaran umum (kalau tidak cukup), dan Yosep Anggi Noen berupaya memberitahukannya lewat cara lain. Sayup-sayup, tapi mungkin efektif.

Maka, film IKK bisa jadi lebih relevan dalam menyuarakan kritiknya terhadap orba. Ia, justru berfungsi melengkapi peta bahasan soal Orba dan Wiji. Mungkin, masih banyak area yang perlu dikupas. Namun, hal tersebut tentu dapat diteruskan oleh sineas-sineas lainnya. Bagaimana cara pandang Yosep Anggi Noen (meski ada yang tidak relevan seperti adegan sabun dan plesetan sobeknya celana Sipon) bisa jadi adalah pengalaman dan responnya terhadap situasi Orba macam itu. Maka, kami-kami yang lebih muda, yang tidak secara langsung mencicipi Orba, dengan menonton IKK seharusnya sudah tercelup sedikit dalam kolam konteks Orba dan Wiji ini.  Mengingat film-film yang membahas Orba (dan aktivisme) masih jarang disentuh oleh kaum-kaum penonton bioskop (terakhir Surat dari Praha?) , IKK dengan impresinya tentu akan memengaruhi pikiran kaum tersebut, barang secuil.

Tidak apa. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, kan?

mm

Author: Albertus ‘Obe’ Wida

Biasa dipanggil Obe, besar di pinggiran Jakarta, berkuliah di ITB sebagai mahasiswa fisika teknik. Mulai menaruh hati pada film sejak masuk Liga Film Mahasiswa ITB, sekarang sering hinggap ke pemutaran di sana-sini sebagai pelarian kuliah yang sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *