Catatan Menonton Star Trek Beyond

PendapatĀ mengenai filmĀ diambil dari kru-kru LFM yang telah menonton, yaitu: Adrian, Hans, Elba, Ona, Shadiq, Sarcil, Cepil, Bilah, dan Sandhya.

 

Tadinya Kenal

Star Trek Beyond lumayan asik sebenarnya untuk diikuti, easter egg foto teh first crew sebagai interlokalitas yang nostalgik sebenarnya cukup menyenangkan. Sayangnya, rasanya terlalu banyak kemiripan dengan Fast & Furious (ke-auteur-an Justin Lin?). Ledakannya, benturannya, penggunaan motor masteng maskulinnya, sampai lompatan maha jauh yang beku dalam waktu lewat slow motion. Jauh berbeda dengan Star Trek biasa yang menaruh kekuatannya pada dialog panjang dan lelucon pintarnya sambil mengarungi galaksi, bukannya sekedar nebula dan serangan pasukan lebah Krall yang beruntun. Star Trek yang sekarang terlalu duar-duer-wam-boom, ketimbang rasa menegangkan atas petulangan dan dicovery planet dan ras baru. Star Trek yang sekarang malah sangat terasa lebih Fast & Furious.

 

Tak Kenal Maka Tak Sayang

This is just another mediocre popcorn movies. Pada tahun 2016 ini, selain ledak dan adrenalin-pumping scenenya, film-film hollywood mulai memasukkan adegan sarat anti rasisme dan homophobia (roman beda genus, keluarga homoseksual Sulu yang beranak, etc). Tapi toh universe Star Trek sudah demikian ideal sehingga tidak ada kompleksitas atau konflik yang dapat ditunjukkan di dalam film ini. Konflik berpusat pada masalah jati diri dan rasa percaya diri Captain Kirk yang dibayang oleh mendiang ayahnya serta pangkat lebih tinggi. Premis individualistik ini kemudian diselesaikan lewat kerjasama manusia-manusia yang terbukti ampuh melawan Captain Krall, fallen hero yang sendirian. Kirk pun percaya dirinya adalah seorang alpha yang harus berada di antara kru-kru USS Entreprise untuk romantisme kebersamaan dan pembuktian maskulinitasnya.

Star Trek : Beyond tidak dapat beyond daripada hal-hal di atas. Kalaupun ada, hanya pada elemen fisik fillm berupa gerak kamera yang melingkar-lingkar, penggunaan EDM dan sedikit macho-rock di sepanjang film, dan tentu ledak bombastis skala galaksi. Tapi sayang euforia yang ditimbulkan tidak melewati batas fisik belaka. Tidak ada hiburan pada mental yang dipuaskan. Kebutuhan menonton film popcorn memang hanyalah sebagai media penghibur, tapi bukan berarti penokohan tidak bisa dibuat simpatik (MCU do it well) dan kompleks (Inside Out dengan riset 6 tahunnya menjadikan hal ini premis bahkan!). Star Trek hanya bisa jadi popcorn yang lalu, dengan premis cliche dari zaman Metropolis sampai One Piece.

mm

Author: Albertus ‘Obe’ Wida

Biasa dipanggil Obe, besar di pinggiran Jakarta, berkuliah di ITB sebagai mahasiswa fisika teknik. Mulai menaruh hati pada film sejak masuk Liga Film Mahasiswa ITB, sekarang sering hinggap ke pemutaran di sana-sini sebagai pelarian kuliah yang sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *