Catatan Menonton The LEGO Batman Movie

Satu hal yang saya soroti dan nikmati dari menonton ini adalah : humor-humor ironi dan intertekstual yang bertaburan dimana-dimana. Penekanan humor terutama ada pada imaji Batman yang biasa kita kenal garang, cool, gentleman, perkasa, dibuat kontras dengan imaji Batman di film ini : mudah baper, narsis, dan secara berlebihan kelewat mudah sedih karena orangtuanya. Dobrakan ini juga bahkan terjadi pada arch-rival Batman : Joker. Ia ternyata adalah penjahat posesif yang demi mendapatkan perhatian Batman, rela mengajak villain kelas kakap dari antah berantah untuk mengusik Gotham.

Tidak lupa juga ditabur berbagai referensi ke dalam satu film ini. Misalnya, Alfred mengolok Batman yang punya scene paling aneh dalam sejarah Batman, villain kelas kakap tersebut juga mencakup Saruman dari Lord of The Rings, dan sebenarnya masih banyak bisa dilihat di (http://screenrant.com/lego-batman-movie-easter-eggs/). Permainan naratif macam itu tentunya menimbulkan gelak tawa (saya juga menikmati sih). Lalu mengapa dipilih humor postmodernis macam ini? Sebagaimana pembacaan tentunya saya melihat ini dari dua sisi.

Yang pertama, Batman Lego Movie mencoba mendobrak stereotype Hollywood itu sendiri. Bagaimana? Dengan secara sengaja menaruh referensi Hollywood dan pop culture di dalamnya (yang misalnya terdapat pada komik DC), ia menjadikan Batman Lego Movie itu sendiri sebuah “rangkuman budaya pop”. Akan tetapi, menjadi menarik ketika hal-hal yang terjadi disana tidak se-cliché yang sudah ada. Ia bisa seperti deskripsi pada paragraph pertama, ditunjukkan sekontras-kontrasnya – konflik Batman dan Superman digambarkan dengan pengucilan dari pesta Superman – atau semirip-miripnya – adegan akhir film yang kelewat instan (di satu sisi akhiran film kebanyakan pun instan, tapi karena dijadikan humor, Batman Lego membuat semakin instan). Maka pembacaan pertama dapat dianggap sebagai sebuah hinaan terhadap ke-arus utama-an. Ingat Deadpool? Deadpool juga sama, dan efektifitasnya pun juga sama.

Disinilah pembacaan kedua saya dapat dimulai. Bisa jadi ada sebuah pergeseran selera, baik dari penonton maupun pembuat. Pada kasus Batman, setelah trilogi Batman buatan Nolan, seolah tidak ada lagi film Batman lain yang lebih membekas. Imaji Batman yang demikian (dan rivalitasnya dengan Joker, lantas dijadikan humor) sudah terlanjur kuat sehingga apabila akan membuat film Batman yang gelap dan kelam lagi, kemungkinan besar akan gagal (Batman vs Superman?). Juga, melihat antusiasme penonton pada film Deadpool (yang dapat menjalar bahkan pada non Marvel fanboy), apa posmodernismenya hanya sekedar gimmick dan peraup keuntungan saja? Lagipula, mengingat adanya intertekstualitas yang dibanjiri referensi, tentu setelah menonton kita akan menonton kembali film-film yang ada di dalamnya. Secara tidak sengaja kita jadi korban konsumerisme, atau saya berlebihan?

Entahlah, mengingat “yang tidak tertebak” adalah salah satu selera penonton yang paling dominan, “yang tidak tertebak” ini kemudian jadi masuk pada meta. Bisa jadi, ia jadi sebuah genre, dan masuk dalam daftar “4th Breaking Wall Films” di selerasinema.com.

mm

Author: Albertus ‘Obe’ Wida

Biasa dipanggil Obe, besar di pinggiran Jakarta, berkuliah di ITB sebagai mahasiswa fisika teknik. Mulai menaruh hati pada film sejak masuk Liga Film Mahasiswa ITB, sekarang sering hinggap ke pemutaran di sana-sini sebagai pelarian kuliah yang sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *