Catatan Pemutaran Bioskop Kampus : Lentera

Berbeda dengan Bioskop Kampus sebelumnya, pemutaran Bioskop Kampus kali ini menjadikan “kehangatan” sebagai tema yang diangkat. Bersinggungan dengan tema tersebut, pemutaran kali ini menjadi wadah berkomunitas bagi kru LFM dengan penggiat-penggiat film di Bandung yang turut hadir dan sebaliknya. Wadah berkomunitas ini menyajikan kesempatan untuk para sineas Bandung memutarkan karyanya melalui Bioskop Kampus. Ditambah lagi, Bioskop Kampus juga menyajikan sesi diskusi film yang semakin mendekatkan antarkomunitas. Setelah melalui proses submisi dan kurasi, terdapat tujuh sineas yang diputarkan karyanya.

Dibuka dengan memperkenalkan salah satu sineas ternama Indonesia, film pertama yang diputar adalah film Awal karya Gilang Bayu Santoso (Gilang) salah satu perwakilan dari ISBI. Pemutaran kedua disusul dengan film Bubar Jalan karya Gery Fairuz (Gery) yang membawa mood pemutaran menjadi lebih humoris. Setelah memecah tawa, suasana mencekam pun langsung hadir setelah film Alas Lali Jiwo karya M. Alif Bagus Saputra dari Avi Pictures diputar. Kemudian suasana kembali netral dengan diputarnya film Hotel’s Water karya Roufy Nasution (Roufy) perwakilan dari Mawar Putih. Berjalan dengan mood yang cukup menyenangkan, film selanjutnya yang diputar juga menyinggung soal percintaan dan kerinduan, yaitu film Rindu karya Muhammad Taufiq (Opik) Rana Kamera. Pemutaran dilanjutkan dengan film yang menunjukkan ketabuan edukasi seksual bagi sebagian besar anak Indonesia, yaitu Recto Impala karya Adie Maulana (Adie) dari UPI. Mood pemutaran ditutup dengan suasana humor-horor yang dibawakan oleh film Jirim karya Reza Maulana dari CC Fikom Unpad.

Setelah seluruh film diputar, sesi diskusi pun dimulai. Diskusi ini dipandu oleh M. Daffa Robani (Daffa) perwakilan dari LFM ITB selaku moderator. Yang membuatnya ramai, diskusi ini dihadiri oleh sineas dari setiap perwakilan film. Film Jirim diwakilkan oleh Safina dari CC Fikom. Sementara untuk The Hotel’s Water diwakilkan oleh Roufy. Untuk film Awal diwakilkan oleh Gilang, film Rindu diwakilkan oleh Opik. Tidak kalah, film Alas Lali Jiwo yang diambil di luar Bandung diwakilkan oleh DOP film tersebut, Fikri Muttaqin (Fikri). Terakhir, film Recto Impala diwakilkan oleh Adi dari UKM Satu Layar. Sayang, perwakilan dari film Bubar Jalan berhalangan untuk hadir.

Dibuka dengan melempar pertanyaan kepada para penonton, diskusi pun dimulai. Pertanyaan pertama datang dari salah satu perwakilan komunitas/sineas, yaitu Epic Roll.

Rizky, perwakilan dari Epic Roll: Untuk film Recto Impala, sebenarnya film ini mengarah ke pendidikan seks, lalu bagaimana pendapat sutradara atau pihak produser tentang pendidikan seks yang masih tabu? Serta bagaimana seks dibutuhkan sebagai pemanis dalam sebuah film?

Adie, perwakilan dari film Recto Impala: Recto Impala merupakan karya yang diambil dari pengalaman pribadi gue. Waktu itu gue lagi makan di rumah tante, terus pas gue lagi makan, tiba-tiba sepupu gue yang baru bangun tidur datang menanyakan celananya yang basah. Posisi gue saat itu lagi makan dan tante gue langsung menjawab, “Halah paling kamu udah gede.” Dari situ gue simpulkan bahwa pendidikan seks di Indonesia masih dianggap tabu. Lebih baik, dijawab dengan jujur karena pendidikan seks termasuk hal yang penting. Minimal dikasih penjelasan yang jelas dan mendidik, khususnya untuk anak-anak. Daripada dijawab seadanya dan mencari sendiri, memicu untuk mendapat jawaban yang salah.

Pertanyaan kedua datang dari salah satu penonton bernama Saryo Avi yang tertarik dengan film Jirim.

Saryo Avi, salah satu penonton Bioskop Kampus: Untuk film Jirim, inspirasinya dapat dari mana, ya? Itu kan tuyul ya, jirim budayanya dari mana ya?

Safina, perwakilan dari film Jirim: Jirim itu berasal dari bahasa Sunda yang artinya makhluk menyeramkan. Idenya berasal dari urban legend, seperti anak kecil yang meminta ayahnya untuk mengecek bawah kasurnya dan menemukan anak tersebut justru berada di bawah kasur. Selain itu, juga terinspirasi dari urban legend lainnya yang kami amati, tiru, dan modifikasi.

Pertanyaan dari penonton masih terus berlanjut dan datang lagi dua pertanyaan baru, dari Faldi perwakilan Epic Roll dan dari Aurora yang berasal dari ITB.

Faldi, perwakilan dari Epic Roll: Saya ingin bertanya untuk film Awal, tepatnya untuk Mas Gilang. Film Awal sendiri merupakan film dokumenter, apakah dari sineas ada motif sosial, poilitis atau perdebatan antar keduanya?

Aurora, penonton dari ITB: Sebenarnya film Alas Lali Jiwo itu tentang apa, sih?

Gilang, perwakilan dari film Awal: Awal mula pembuatan film Awal hanya ingin memperkenalkan kepada khususnya masyarakat Bandung bahwa pada generasi Sjumandjaja masih ada salah satu orang penting, yaitu Alm. Bapak Awal. Lebih tepatnya ingin meluruskan stigma di masyarakat bahwa Almarhum adalah seorang Lekra dan PKI adalah kebohongan. Sebenarnya Almarhum jauh dari stigma-stigma tersebut dan menunjukkan bahwa beliau sangat cinta dengan Pancasila. Intinya, yang dapat dipelajari bahwa kita harus berhati-hati dengan stigma yang beredar.

Fikri, perwakilan dari Film Alas Lali Jiwo: Film Alas Lali Jiwo sebenarnya bercerita tentang mitos Gunung Arjuno yang memiliki tempat bernama Alas Lali Jiwo, serta ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan atau pelanggar dapat tersesat bahkan berdampak buruk. Kami meceritakan bahwa ada seseorang yang tersesat dan melanggar dengan menggunakan baju merah serta memakan buah-buahan yang ada. Maka dari itu, Ia memasuki dunia lain. Sejujurnya syuting dari film ini bukan di gunung tersebut, tetapi di Banyuwangi.

Selanjutnya, diskusi diambil alih oleh Daffa dan dibuka dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai film yang ditujukan untuk masing-masing sineas.

Daffa, moderator: Pertanyaan ini untuk film Alas Lali Jiwo, bagaimana sih proses produksinya?

Fikri: Berawal dari kami mengikuti workshop dari Jawa Timur. Kemudian kami melakukan proses produksi hanya tiga hari. Sebenarnya rencana awal bukan seperti ini, tetapi karena waktu yang terbatas, kami memutuskan untuk menggunakan cerita ini. Membuat cerita ini hanya 3-6 jam dikarenakan waktu yang cukup padat dan tidak sesuai rencana awal, tempatnya juga akhirnya kami rombak ulang, hanya premis yang sama kemudian langsung produksi.

Daffa: Untuk film Awal, bagaimana cara menghubungi Almarhum Bapak Awal? Apakah ada cerita menarik di balik proses produksi?

Gilang: Waktu itu saya mendapat kontak Beliau dari teman saya saat kumpul-kumpul komunitas. Setelah dapat kontak Beliau, saya langsung datang ke rumah Beliau dan Beliau menyambut baik. Untuk proses prouksi yang sejujurnya sangat banyak, menarik karena saya men-direct seorang director dengan pengalaman jauh lebih daripada saya, Beliau melahirkan banyak aktris dan director hebat juga. Kami berdua saling belajar dan saling mengatur dalam proses produksi. Saat produksi banyak diatur oleh Almarhum juga. Akhirnya proses kreatifnya saya ikutin Pak Awal, baru di meja editing saya sesuaikan.

Daffa: Untuk film The Hotel’s Water dan Rindu, ada penonton yang ingin bertanya?

Khalid, perwakilan dari LFM ITB: Mau nanya untuk film The Hotel’s Water, teknis film kan lebih mengarah ke Wes Anderson, sebenarnya idenya memang seperti film Jirim yang mengangkat dari urban legend, atau ide terseut berasal dari pikiran sendiri?

Safina: Buat Mas Roufy juga, apakah Mas Roufy memang memiliki gaya konsisten dengan film-filmnya atau mau mencoba gaya baru?

Roufy, perwakilan dari film The Hotel’s Water: Kalau dibilang Wes Anderson pun, sudah banyak yang bilang begitu, sampai media juga bilang seperti itu. Banyak yang menginspirasi, Wes Anderson menginspirasi bagaimana Ia men-direct film dengan gagasan yang cukup jelas. Ada juga sutradara-sutradara lain yang menginspirasi saya dan banyak memberikan pembelajaran. Film The Hotel’s Water ini sebenarnya film yang cukup iseng, idenya didapat saat berada di hotel dan melihat housekeeper. Kemudian berpikiran kira-kira apa yang mereka lakukan saat membersihkan kamar. Ternyata banyak yang menikmati fasilitas hotel dan untuk objek perempuan itu hanya imajinasi liar.

Menjawab pertanyaan kedua, sebelumnya terima kasih sudah mengikuti film-film saya. Sebenarnya konsistensi akan seperti itu terus karena setiap membuat film memang selalu seperti itu secara spontan dan tidak disengaja. Kedepannya mungkin akan seperti itu terus, tapi dengan tambahan-tambahan lain.

Daffa: Untuk Mas Opik, film Rindu sendiri merupakan pengalaman pribadi atau gimana? Dan film ini film ke berapa, ya?

Opik, perwakilan film Rindu: Bisa dibilang film ini sebenarnya curhatan saya. Sebenarnya film Rindu bukan film pertama, tapi selama ini hanya membantu proses produksi, tidak pernah megang kamera dan edit sendiri. Saat dapat momentum yang tepat untuk memproduksi film sendiri, langsung dicoba dengan modal sotoy-sotoyan dan emang saat itu lagi galau. Bermula dengan meminjam kamera dan mencoba Premier Pro, langsung jadi film ini. Bisa dibilang ini film pertama yang diaplikasikan dengan melihat orang lain dalam membuat film. Awalnya hanya dari curiosity dan berlanjut hingga sekarang.

Daffa: Dari Rana Kamera sendiri, apakah ada film lain?

Opik: Belum ada, lebih ke membantu proses produksi orang lain. Pernah juga membantu production house teman tahun ini, yaitu membuat film dokumenter pada bulan Januari lalu. Porses produksinya sampai ke Ujung Kulon dan kebetulan menjadi pemeran juga. Saat proses pembuatan film dokumenter itu juga ada perasaan-perasaan tertentu yang ikut terlibat. Sejauh ini belum ada rencana lagi untuk membuat film dan belum ada waktu juga.

Daffa: Untuk seluruh sineas, kalian kan bergerak di kota Bandung. Apakah merasa film Bandung memiliki ciri khas sendiri?

Gilang: Sejujurnya perkara film Bandung ini sudah menjadi kegelisahan saya. Sudah banyak film Bandung yang saya tonton dan cari ciri khasnya, tapi tetap tidak ketemu, di Bandung ini setiap sineas memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Saya menyimpulkan Bandung itu tidak satu warna, tapi pelangi.

Roufy: Film-film Bandung memang sangat pop culture dan bebas. Di sini lebih cenderung untuk berkarya tanpa permisi, sesuka hati saja. Perlu diakui, Bandung memiliki film-film yang keren.

Safina: Film Bandung sangat berbeda-beda. Ketika mengangkat culture tentang Bandung, ciri khas yang bisa diambil ada banyak.

Opik: Menurut saya di Bandung memiliki dukungan antar satu dengan sineas lainnya dengan seperti adanya salah satu kedai di Sekeloa yang kalau ada acara, power-nya adalah udunan dari setiap sineas.  Kalau mau lihat tradisi ini, dapat dilihat di Kedai CAS, saya ketemu beberapa teman di situ. The power of udunan sangat membantu, tinggal minta tolong saja dan saling membantu.

Fikri: Sebenarnya saya ini pendatang, tapi saya setuju bahwa Bandung sagat pop culture. Kebanyakan sineas yang pendatang jika dibandingkan dengan sineas-sineas di kota lain. Berbeda dengan sineas kota lain, mereka memiliki ciri khas untuk masing-masing kota. Kalau menurut saya, di Bandung ini adalah campuran dari berbagai macam budaya.

Adie: Film-fillm di Bandung beraneka ragam. Kalau bikin film di Bandung, tinggal bikin aja sesuai yang gue suka. Di Bandung banyak aneka film yang beragam, termasuk gue yang pendatang, gue merasa bebas berekspresi.

Daffa: Kalau untuk komunitas yang bergerak di film, sekarang kondisinya bagaimana, ya? Apakah ada gap antarkomunitas? Kalau iya, apakah ada solusi?

Safina: Sebenarnya usaha dari komunitas untuk komunitas sudah banyak.

Roufy: Sejujurnya saya tidak tergabung dalam komunitas produksi, saya lebih mengarah kepada kritik dalam Bahasinema. Kalau melihat komunitas Bandung melalui kacamata saya, komunitas di Bandung lebih didominasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dalam kampus yang masing-masing membuat acara film. Tahun ini menjadi fenomena lucu, kehadiran Kedai CAS menjadi tempat pertemuan yang menyatukan para komunitas.

Gilang: Menurut saya yang membuat film-film Bandung berwarna adalah komunitasnya yang terlalu egois, punya ego masing-masing yg merasa acaranya jauh lebih keren. Karena keegoisan itu tersebut, akhirnya berlanjut dan luntur dengan adanya Bandung Film Community, setelah itu para komunitas menurunkan egonya. Saat itu baru kita tersadar bahwa antarkomunitas saling membutuhkan dan kita bisa berkarya bersama.

Opik:  Sebetulnya Rana Kamera juga bukan komunitas. Saya berkuliah di ITB dan merasa bahwa komunitas film sudah diwadahi oleh LFM ITB. Kami juga sering mengundang LFM untuk nongkrong bareng di Kedai CAS. Di sana, kami jadi tahu adanya komunita-komunitas lain. Dari sana kami saling mengundang kalau mau berkomunitas, selain itu dalam berkomunitas kita juga harus menurunkan ego dan saling mengapresiasi, minimal datang ke acaranya.

Fikri: Saya baru aktif dalam dunia perfilman 1-2 tahun. Pertama kali ikut acara kumpul komunitas saat diundang oleh CC Fikom Unpad. Bagus bisa kumpul bareng, tapi komunitas Bandung belum bisa keep in touch. Di Jawa Timur yang komunitasnya hadir dari berbagai macam daerah, benar-benar keep in touch. Mulai dari kumpul-kumpul, membuat grup, ngobrol-ngobrol, dan lain-lain. Kota Bandung memiliki sineas-sineas yang lebih jago daripada Jawa Timur, saran saya kalau ada acara lagi, terutama kumpul komunitas, kita berbagi kontak biar bisa keep in touch.

Diskusi film ditutup dengan harapan-harapan para komunitas di kota Bandung untuk kedepannya, dalam segi perfilman maupun berkomunitas.

Safina: Harapan untuk film-film Bandung agar lebih bebas, tidak harus terpaku dengan tiruan yang lebih strict. Selain itu juga lebih meng-explore lagi, tapi jangan lupa untuk tetap bisa memberi pandangan dan kesan yang positif untuk masyarakat. Perlu disadari, para pembuatn film juga bertanggung jawab kepada masyarakat.

Roufy: Intinya Bandung harus tetap ada film-film baru atau filmmaker baru. Selain itu adakan pemutaran dan festival secara rutin. Di Bandung sendiri ada empat pemutaran yang bisa menjadi wadah konsisten agar Bandung dapat dikenal dengan film-film yang asik.

Gilang: Untuk teman-teman filmmaker dan komunitas jangan menjadi Jogja atau Jakarta, tetaplah Bandung.

Opik: Film itu kan industri, kalau melihat Jogja dan Jakarta, mereka sudah punya industrinya masing-masing. Saya rasa di Bandung juga sangat bisa, kan posisinya lebih dikenal sebagai kota design. Kalau bisa 5-10 tahun ke depan komunitas Bandung bisa membuat platform atau semacamnya bersama-sama, kalau mau bertanding pun juga silahkan dengan industri yang berjalan.

Fikri: Untuk komunitas, harapannya bisa bersama-sama lagi membuat acara dan prduksi film. Bandung sendri sudah dikenal sebagai kota design dan film, tapi kurang muncul budaya identiknya. Komunitas Bandung bisa bersama-sama membuat Kota Bandung lebih hype lagi di mata Indonesia.

Adie: Jangan berhenti membuat acara-acara keren dan film-film keren lainnya.

Setelah munculnya harapan-harapan dari komunitas sebagai penutup diskusi, pemutaran Bioskop Kampus ini dilanjutkan dengan mata acara kumpul komunitas. Berkaca dengan tujuan awal, Bioskop Kampus Lentera memang menjadikan dirinya sebagai wadah untuk kru LFM berkomunitas dengan para penggiat film di Bandung, begitu juga sebaliknya. Makanan ringan serta minuman instan disajikan untuk melengkapi hangatnya pertemuan antarkomunitas tersebut. Hembusan dingin angin malam itu menjadi saksi lain pertemuan komunitas-komunitas Bandung ini. Merupakan pengalaman baru dan menarik, terutama untuk para kru LFM ITB.

Author: Syaviera Aninda Putri Said

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *