Catatan Pemutaran Bioskop Kampus : Montase

Dalam rangkaian Open House Unit di Institut Teknologi Bandung, Bioskop Kampus yang mengangkat tema keberagaman di Indonesia diadakan pada 26 Agustus 2017 lalu. Bioskop kampus yang bertajuk Montase ini menyajikan tiga program dalam tiga sesi yang berbeda. Setiap sesi terdiri atas pemutaran film dan diskusi mengenai film-film yang ditayangkan pada setiap sesinya. Program tersebut diputarkan secara berurutan : program mozaik, kolase, dan dimensi. Masing-masing program terfokus pada keberagaman yang berbeda di Indonesia.

Program pertama, mozaik, memberikan gambaran bahwa layaknya sebuah mosaik, lingkungan seyogyanya terdiri dari berbagai “bentuk”dan “ukuran” manusia penyusunnya. Namun seringkali keinginan untuk memenuhi “standar bentuk dan ukuran” untuk diakui manusia lainnya, membuat manusia berusaha mengubah dirinya. Film Bermula dari A karya B. W. Purbanegara dan Gendut karya Eko Junianto dianggap mampu menunjukkan keberagaman tersebut. Setelah pemutaran dilakukan, sesi diskusi dimulai. Diskusi pada program mozaik dipimpin oleh Syaviera Said (Syav) dari LFM ITB sebagai moderator, serta diisi oleh narasumber yaitu Johanes Deninov (Deni) sebagai Pegiat Film dan Lita, Mahasiswa SBM ITB yang memiliki pengalaman terkait tema yang diangkat dalam program. Berikut adalah notulensi diskusi pada sesi tersebut.

Program Mozaik

Syav, Moderator        : Bagaimana tanggapan kakak-kakak terhadap film-film yang ditayangkan?

Deni, Pegiat Film      : Untuk film yang judulnya Bermula dari A, gue penasaran, scene yang ngeraba-ngeraba tuh agak rancu sih sebenernya. Kok bisa ya dua orang difabel malah jadi bisa berkomunikasi dengan caranya sendiri. Kalau kalian rasain film ini tuh romantisasi orang difabel, tapi ada sesuatu yang lebih yaitu prejudis orang terhadap orang difabelnya tuh sebenernya ngegambarin filmnya. Kalau film yang berjudul Gendut sendiri menurut gue,  aktornya kocak, obsesi sama tubuh six pack. Masih kecil tuh ngapain sih ngejar postur tubuh yang bagus. Film ini beda, si gendut tuh gapunya temen gitu seakan angin lalu buat temen temennya. Ya hasilnya dia termakan sama obrolan orang lain. Padahal masih kecil, udah rela mengubah dirinya gitu.

Lita, Mahasiswa SBM ITB         : Menurut gue, film pertama itu sindiran buat kita yang diberikan kesempurnaan. Contohnya yang satu tunarungu, yang satu tunawicara. Mereka aja bisa saling bantu gitu, tapi kita malah mandang sebelah mata.  Kalau yang kedua, sebenernya itu hal sepele, cuma hal yang sepele itu bisa jadi luka buat diri gitu. Salahnya kita bercanda tapi malah buat orang lainnya celaka.

Bagus, Mahasiswa FTMD ITB      : Saya mau ngasih pendapat tentang filmnya, film pertama sangat dekat dengan saya. Saya sendiri punya saudara yang tuli. Kalau buta kan masih bisa bicara. Nah sedihnya tuh sehari-hari ngeliat dia ngomong, komunikasi susah, dan orang difabel serba salah dan filmnya tuh kayak negur diri kita sendiri. Jadi intinya sih bantu aja orang-orang yang susah, baik difabel maupun gak. Kalau film yang judulnya Gendut, intinya jangan nge-judge, mendingan jangan nilai orang dari sampulnya karena gak tahu orangnya tuh kayak apa.

Syav             : Terima kasih, Mas Bagus sudah mau membagikan pengalamannya. Kalau kakak-kakak sendiri ada gak sih relasi dengan film-film yang ditayangkan? Pernah gak mengalami apa yang ada di film atau semacamnya?

Deni             : Gue sendiri lebih dekat ke film Gendut, pernah jadi yang di-bully sama yang nge-bully. Nge-bully tuh kayak gak ada tanggung jawab. Nah perasaan tertekan tuh gue rasain juga untuk kondisi ketika gue di-bully. Jangan bersandar atau mengandalkan orang sih, andalkan diri sendiri. Terus kalau di film Gendut kan badan tuh yang dibahas, sebenernya badan tuh kan cuma wadah dari roh kita. Walaupun simple, statement-nya jelas. jangan terlalu fokus benerin badan, rohnya juga harus sih!

Lita                : Kalau gue, adik gue down syndrome, beda umurnya 7 tahun. Misalnya kalau umur 5 tahun atau berapa harusnya sudah bisa ngomong. Nah kalau down syndrome tuh masih terbata-bata. 12 tahun harusnya udah sekolah kelas 6, sedangkan adik gue sendiri baru kelas 2. Tahap tumbuh kembang adik gue tuh lambat gitu sebenernya. Dia udah umur 14 tahun tapi belum bisa ngomong. Untuk bilang kata “makan” juga cuma bisa bilangnya “kan”. Kalau keluar pun harus didampingi. Stigma autis tuh malah dijadiin bercandaan. Padahal kalau orang autis tuh penyakit. Bukan ejekan yang biasa. Coba deh mulai kurangin hal-hal yang bisa nyakitin orang lain. Kan di Indonesia ini kita penerus bangsa, masa iya kalau jadi petinggi negara tidak bisa memberi concern kita untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Jumlah anak keterbelakangan mental tuh udah 3 juta. Nah orang-orang yang difabel ini tuh gak difasilitasi sama negara. 3 juta tuh bukan nominal yang sedikit. Kalau kita punya temen dan ada yang butuh pertolongan, ya jangan mandang rendah. Jadi, do to others what you need others do to you.

Syav              : Nah pertanyaan tadi sekaligus menutup sesi diskusi ini, kalau dari Kak Deni dan Kak Lita adakah pesan terakhir utnuk menutup sesi?

Denijoh          : Tokoh Aji tuh pada film Gendut sedih banget gitu. Si Aji aja sampai hilang kepercayaan dirinya, coba deh diperhatikan lagi cara ngomong kita sama orang lain. Nah terimakasih buat LFM ITB yang udah mengangkat isu kayak gini.

Lita                : Ayo bantu orang-orang yang difabel!

 

Selanjutnya program yang diputarkan adalah program kolase. Program kolase menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk akan membentuk keindahan apabila keberagaman tersebut disadari dan dihargai. Film Indonesia Bukan Negara Islam karya Jason Iskandar, Generasi Sekian karya Vonny Kanisius, Rumah karya Novia Puspa Sari mewakili kemajemukan masyarakat Indonesia dan sikap masyarakat Indonesia dalam menyikapinya. Berikut adalah notulensi diskusi pada program kolase tersebut dengan Maura Nadine (Maura) dari LFM ITB sebagai moderator dan Damar Bagaskoro (Damar) sebagai narasumber.

Program Kolase

Maura, Moderator          : Bagaimana tanggapan Kak Damar terhadap film-film yang ditayangkan? Kira-kira film-film yang ditayangkan tentang apa sih?

Damar, Pegiat Film         : Film pertama mengenai dua orang muslim yang bersekolah di sekolah katolik dan pendapat mereka sebagai minoritas disana. Film kedua ceritanya mengenai kehidupan director film dan keluarganya tersebut yang pergi ke Malaysia, Singapura, China, Taiwan pasca kejadian 98. Kalau film ketiga mengenai masyarakat Tionghoa yang dipisahkan saat demonstrasi tahun 98. Mungkin kemiripan ketiganya bagaimana rumah sebagai tempat yang seharusnya paling nyaman tapi malah membuat tidak nyaman.

Maura               :   Menurut kakak, isu yang menarik dari ketiga film ini apa sih?

Damar               : Setahu saya sih programmer bioskop kampusnya membahas lebih ke arah keberagaman. Isu yang memang sedang hangat.

Rafi, Mahasiswa FTMD ITB : Mau berbagi pandangan aja sih, menurut gue, Indonesia krisis toleransi. Padahal Indonesia merdeka karena keberagamnnya. SMA dari Jakarta ada hiruk-pikuk mayoritas dan agama dipicu dari pilkada kemarin. Ada keturunan Tionghoa. Ibu gue sempet jadi bagian keributan pas kuliah. Harus pakai kerudung pas keluar. Pas keluar ada anak kecil yang nunjuk doi “Kamu Cina ya?”. Kalau anak kecil aja bisa begitu, berarti ada yang salah yaitu orang tuanya. Ya mungkin bisa diperhatikan lagi nilai-nilai yang ditanamkan ke anak kecil sih.

Wida, Mahasiswa FTI ITB             : Dari perspektif orang muslim sekolah di Kanisius kan merupakan pendapat dari minoritas. Ada gak film yang dari pendapat mayoritas?

Damar               : Setahu saya ada sih, ada film “Aku adalah aku yang lain”.

Maura               : Dari definis katanya sendiri, apa definisi paling simple dari keberagaman menurut Kak Damar?

Damar               : Kita beragam, berbagai macam suku, agama, tinggi badan,  berat badan. Keberagaman ya beragam.

Mayang, Mahasiswa SAPPK ITB : Mau berbagi pengalaman aja sih, gue seorang katolik yang sekolah di sekolah negeri. Gak ada diskriminasi, temen-temen gue mostly muslim. Meskipun kita di lingkungan yang berbeda dari kita harus toleransi ke yang lain.

Maura               : Terima kasih, Kak Mayang sudah membagi pengalamannya. Keharmonisan gak akan tercapai kalo dari masyarakat gak bisa menerima keberagaman, baik suku atau agama. Keberagaman tersebut realita dan harus bersyukur akan keberagaman itu. Nah dengan pengalaman dari Kak Mayang tadi sekaligus menutup sesi diskusi kali ini. Kira-kira dari Kak Damar ada closing statement gak?

Damar               : Kebhinekaan bukan sebagai konsep. Kita tinggal di dalam kebhinekaan. Hidup bhineka bukan tuntutan tapi suatu keharusan. Mahasiswa-mahasiswa membuat film. Film adalah salah satu media untuk menyampaikan sedikit keresahan kalian. Ketika film itu tersebar dengan baik dan tersebar dengan tepat punya power yang sangat kuat.  Salah satunya bisokop kampus sebagai alternatif untuk mengajak membuat film.

 

Terakhir, program bertajuk Dimensi diputarkan. Program ini terfokus pada lapisan-lapisan yang ada pada masyarakat (strata sosial pada masyarakat) dan dampaknya dalam peradaban masyarakat. Program berisikan film Kok Kemana karya Chairun Nissa dan Lady Caddy Who Never Saw A Hole in One karya Yosep Anggi Noen. Pada sesi tersebut diskusi dipimpin oleh Arliza Nathania (Thania) dari LFM ITB sebagai moderator serta Fadil Dwijatmiko (Fadil), Menteri Pengembangan Sosial Kemasyarakatan KM ITB dan M. Nandradi Toyib (Toyib) sebagai narasumber. Berikut adalah notulensi diskusi pada sesi program dimensi.

Program Dimensi

Thania, Moderator          : Bagaimana tanggapan Kak Fadil terhadap film-film yang ditayangkan?

Fadil, Menteri Pengembangan Sosial Kemasyarakatan KM ITB   : Hal hal itu terjadi di sekitar kita, seperti orang yang mampu dan orang yang tidak. Di film pertama, orang yang akan bikin lapang golf melawan orang yang di desa. Di film kedua ada orang yang gak punya rumah dan orang yang punya tapi gak ditinggalin. Film-filmnya memperlihatkan strata sosial.

Thania               : Menurut Kak Toyib, kenapa sih kedua film tersebut masuk ke program ini?

Toyib, Pegiat Film           : Kedua film memiliki tematik yang sama, apa yang ingin disampaikan oleh film tuh sama. Satu melalui padang golf tersebut dan satu yang melalui isu yang lebih dekat, letaknya di Jakarta. Memperlihatkan bagaimana orang mampu dan tidak mampu direpresentasikan di film tersebut dan apa yang kita harus simpulkan.

Fitri, Mahasiswa FMIPA ITB : Untuk film pertama, teknik kameranya goyang. Apakah itu karena ada maksudnya? Atau memang tidak sengaja? Dan, untuk film pertama, jeda diantara frame-nya sengaja dilamain atau gimana?

Toyib                 : Teknis pengambilan gambarnya memang tidak seperti biasa. Kenapa banyak gerak-gerak itu tuh karena dalam bahasa pengambilan gambar, gerakan kamera yang bergoyang itu bisa menampilkan emosi. Atmosfer yang dibawa oleh goyang-goyang ini mencampurkan emosi. Digejolakkan emosinya. Jedanya agak lama, emang dilamain, karena kalau tau film-film dari Yosep Anggi Noen, dia suka ngambil long shot dan shot-shot lain yang tidak lazim.

Thania               : Menurut Kak Fadil, mahasiswa peduli gak sih terhadap isu terkait strata sosial?

Fadil                   : Harus peduli dengan strata sosial karena sering terjadi. Contohnya ada mall yang dibelakangnya tuh permukiman yang sangat kumuh. Yang dekat dengan kita deh misalnya Ciwalk, walaupun sangat mewah, belakangnya tuh permukiman yang kumuh.

Azkara, Mahasiswa Jurusan Kriya ITB      : Di film kedua, alasan si abang kenapa pas nyari kok, kenapa tiba-tiba bisa ke langit-langit terus kesedot terus bisa di pantai. Itu ada maksudnya gak ya?

Toyib                 : Sebenernya, saya melihatnya dalam film itu sendiri kalau mau menyampaikan suatu joke, kalau lucu atau gak-nya, itu bagian dari kita sendiri, cara persepsinya. Mungkin sutradaranya ingin hanya sekedar memunculkan humor dengan suatu gimmick lucu. Yang kayak pembawaan lucu yang lewat lubang-lubang gitu, kita bukan ketawa aja, tapi masih dapat pesannya. Sebenarnya itu hanya medium dan menurut saya itu pertanyaan keberhasilan dan mencoba eksperimen baru untuk melucu di dalam film itu sih, seperti film-film science-fiction tertentu.

Thania               :  Nah kalau scene favorit kakak-kakak apa nih?

Fadil                   : Lebih suka film yang pertama karena diangkat dari kisah nyata. Yang dari Yogyakarta, yang tanahnya harus digusur dan dijadikan hotel dan lapangan golf. Janjinya untuk memperkerjakan orang sana, tapi kenyatannya gak. Perbandingan hole-in-one itu sebenarnya perbandingan masyarakat yang ada dengan yang sebenernya dipekerjakan.

Toyib                 : Sangat tertarik dengan film pertama karena ladang sawah yang diubah jadi golf ini, karena lebih produktif dijadikan ladang sawah daripada lapangan golf. Karena anggap si golf itu untuk orang-orang yang kaya dan cuma bisa menghasilkan 1% keuntungan dibanding sawah yang bisa lebih beruntung untuk lebih banyak orang.

Thania               : Terakhir nih, ada gak pesan dari Kak Fadil dan Kak Toyib?

Fadil                   : Perhatikan sekitar, dan juga banyak film-film Indonesia lain yang juga patut diapresiasi. Jadi, banyak-banyak lah nonton film film indonesia yang lain.

Toyib                 : Ya, kurang lebih sama.

 

Setelah berakhirnya sesi diskusi program dimensi, pemutaran Bioskop Kampus pun berakhir. Harapannya, penonton yang telah datang di setiap sesinya dapat menambah pandangan mengenai keberagam itu sendiri.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *