Catatan Program : Bioskop Kampus Mesin Waktu

Masa kecil, masa disaat tingkah laku kita masih polos dan jauh dari bayang-bayang ikatan dan peran kehidupan dewasa; gemar bermain, spontan, banyak akal, imajinatif, dan terkadang nakal. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, sifat-sifat tersebut seakan-akan luntur dari diri kita. Banyak kejadian yang terlahir dari berbagai perangai kekanak-kanakan kita dahulu. Dari yang membawa kegembiraan sampai membuat pilu, yang riang maupun masygul. Terlepas dari persepsi kita saat kanak-kanak terhadap pengalaman tersebut, mengingatnya saat ini dapat menjadi kenangan yang lucu dan menghibur. Berangkat dari hal tersebut, Bioskop Kampus Mesin Waktu menyajikan tiga buah program yang melekat dengan kehidupan masa kecil kita—Bengal, Dongeng, dan Ngotot.

Dimulai dari program Bengal, yang berarti tidak menurut, keras kepala, suka mengganggu, dan sebagainya yang seringkali dilakukan anak-anak. Kenakalan itu pun terkadang terjadi bersamaan dengan kepolosan yang dimiliki anak-anak.  Sifat Bengal tersebut disampaikan melalui film Sore Hari karya Andrie Sasono dan Silang karya Shinta Rachma, kedua film tersebut mampu menggambarkan kenakalan anak kecil yang biasa dilakukan dengan dalam keseharian bersama teman-temannya.

Program kedua, Dongeng. Program tersebut mengangkat tema takhayul yang masih banyak dipercayai anak-anak. Seperti kepercayaan akan gigitan capung untuk menghentikan kebiasaan mengompol pada film Mayday! Mayday! Mayday! These Insects are Hard to Find karya Meidinda Tiara Syahputri, mitos-mitos terkait larangan berkegiatan di luar rumah ketika waktu matahari terbenam (magrib) tiba pada film Ucing Sumput karya Afif Syahtrian, dan mitos bersentuhan antar lawan jenis  pada film Joshua karya Alvin Ardiansyah.

Terakhir, Ngotot akan menutup Bioskop Kampus dengan cerita-cerita yang menunjukkan sifat anak kecil yang memiliki tekad kuat ketika menginginkan sesuatu. Sifat tersebut ditunjukkan melalui rasa ingin tahun yang tinggi dalam The Flower and The Bee karya Monica Vanesa Tedja, keinginan untuk menang pada film Mak Cepluk karya Wahyu Agung Prasetyo, dan keteguhan pada cita-cita yang ditunjukkan melalui Astronot karya Syarief M. Ibrahim.

Film-film yang disajikan melalui ketiga program ini diharap bisa menjadi penggerak roda-roda mesin waktu bagi tiap penonton untuk mereka ulang masa-masa kecil yang jenaka dan bahagia. Dengan bernostalgia tentang masa kecil, kita dapat sejenak melepaskan lakon orang dewasa, meredam hiruk pikuk kehidupan, dan tertawa lepas menilik momen-momen menarik yang tidak akan terulang lagi.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *