Catatan Program BK Realitas : Buka Mata Lihatlah Realitas

Apakah kita sudah merasa cukup peka dengan lingkungan sekitar? Sadarkah kita bahwa orang – orang di sekitar kita belum tentu baik – baik saja hari ini? Taukah kita di setiap senyuman yang tersirat di wajah mereka, mungkin ada ketakutan yang luar biasa di baliknya? Sudahkah kita tau realitas apa saja yang terjadi di kehidupan sekitar? Kalau kita belum pernah menemukannya, mungkin kita belum sepenuhnya sadar akan keberadaan realitas di sekitar kita.

Menurut KBBI, realitas berarti kenyataan. Peter Berger dan Thomas Luckman dalam buku mereka yang berjudul The Social Construction of Reality mengemukakan bahwa realitas adalah kualitas yang berkaitan dengan fenomena yang kita anggap berada di luar kemauan kita (sebab ia tidak dapat dienyahkan). Pengertian realitas adalah kenyataan yang dapat diartikan hal – hal yang benar benar ada dan terjadi. Hal – hal yang terjadi tersebut mungkin saja baik maupun buruk adanya.

Tema realitas diangkat oleh Bioskop Kampus yang diadakan pada tanggal 2 Juni 2017. Bioskop Kampus kali ini menampilkan 3 film yang ber-genre dokumenter untuk memberikan sudut pandang lain dari kehidupan melalui kacamata buruh, pemulung, bahkan orang yang sakit jiwa. Film Angka Jadi Suara, Harta Karung, Sa.sar Interaksional merupakan film yang memberikan realitas pada lingkup sosial sekitra kita dengan cara mengangkat topik yang berbeda pada setiap filmnya. Ketiga film ini diharapkan berdampak sebagai media penyampai pesan bahwa tidak hanya kita sendiri yang memiliki permasalahan dan diharapkan juga untuk menimbulkan rasa peka atas masalah – masalah yang ada yang pada akhirnya mampu menggerakkan kita untuk peduli atau bahkan menolong mereka.

Angka Jadi Suara merupakan film dokumenter yang menceritakan buruh – buruh perempuan di PT Kawasan Berikat Nusantara daerah Cakung, Jakarta Utara yang dilecehkan oleh buruh – buruh laki laki yang bekerja mulai dari sebagai mekanik sampai penguasa atau petinggi pabrik. Buruh – buruh perempuan ini tidak tau harus melaporkan pelecehan ini kemana dan alhasil mereka takut dan memilih untuk menutup mulut. Sisi menarik dari film ini yakni produksinya yang dimulai dari workshop yang diikuti buruh – buruh perempuan korban pelecehan seksual yang mempunyai komitmen untuk membela dan menyadarkan kaum – kaum buruh perempuan yang dilecehkan. Dari film ini dapat dilihat bahwa mereka tidak perlu takut untuk mengangkat suara untuk memberantas pelecehan seksual demi kebaikan diri sendiri. Judul film ini juga diangkat berdasarkan niat para buruh perempuan yang sadar bahwa sebelum angka korban pelecehan seksual bertambah banyak, mereka harus mengangkat suara. Lucunya, pada beberapa bagian film ini ditunjukkan pemerintah yang tidak tau akan permasalahan pelecehan seksual pada buruh perempuan tersebut. Entah apa faktor yang menyebabkan pemerintah sampai acuh tak acuh, apakah faktor masyarakat di sekitar pabrik itu yang bersikap ‘bodoamat’ atau para korban yang sangat ketakutan untuk mengungkap kebusukan – kebusukan yang terjadi di dalam pabrik. Film ini menyadarkan saya bahwa ternyata hidup kita itu sekeji ini. Saya yang juga seorang perempuan jika berada di posisi korban juga akan merasa sedih apabila diperlakukan seperti itu.

Harta Karung merupakan film dokumenter yang menceritakan kehidupan orang – orang yang hidup di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah di Jatirejo yang sebagian besar bekerja sebagai pemulung. Pada secuplik film ini menayangkan pemulung menggembalakan ternak dan memberi makan ternaknya dengan sampah. Film ini mengangkat satu masalah yang muncul saat tempat kerja mereka sehari – hari akan dibangun menjadi PLTSA (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) oleh pemerintah yang bekerja sama dengan perusahaan negara lain. Lebih menariknya lagi, pemikiran mereka yang merasa mereka adalah orang – orang yang mampu karena mereka menggunakan hak mereka sendiri bukan mengambil hak orang lain. Saya tersanjung saat melihat film ini pertama kali, semangat para pemulung mencari nafkah tiap harinya patut diacungkan jempol. Mereka tidak pernah mengeluh walaupun pekerjaan mereka bisa dibilang tidak berupah banyak. Mereka hidup dengan percaya diri dan mencari nafkah dengan bahagia. Saya sebagai mahasiswa terkadang – kadang menanyakan pekerjaan seperti apa yang akan saya dapatkan setelah lulus nanti. Dan dari film ini saya memperoleh nilai – nilai baru, di luar sana banyak orang yang kekurangan dan bekerja seadanya tapi mereka bisa menikmati hidup dengan bahagia.

Sa.sar Interaksional merupakan film dokumenter yang menceritakan sebuah yayasan tempat rehabilitasi orang sakit jiwa bernama Al-Fajar. Pak Marsa, pengelola tempat rehabilitasi Al-Fajar, menyembuhkan orang – orang sakit jiwa dengan berinteraksi dengan mereka dan menolak menggunakan obat – obatan kimia karena hanya akan menyebabkan ketergantungan. Film ini secara tepat membuktikan orang – orang sakit jiwa ternyata susah disembuhkan karena memiliki latar belakang yang berbeda – beda. Bahkan, banyak dari mereka yang telah pulih, justru kembali terganggu jiwanya akibat tekanan batin dari lingkungannya. Pada kenyataannya, keluarga yang seharusnya merangkul mereka dan membantu rehabilitasinya, malah mengasingkannya sehingga membuat mereka tersingkir dan trauma – trauma yang dialami sebelumnya kembali muncul. Mereka butuh diterima kembali oleh keluarga dan lingkungannya, tapi terkadang kita lupa akan hal itu dan lebih memikirkan diri sendiri.

Sebenarnya secara tidak sadar, pandangan kita hanya terbatas pada diri sendiri dan sekitar kita yang notabene setingkat atau segolongan dengan kita. Kita sebagai warga Negara Indonesia yang katanya menjunjung tinggi Pancasila terutama sila ketiga yaitu “Persatuan Indonesia” dan sila kelima yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, nampaknya lebih memilih untuk menutup mata atau berpura – pura tidak tau bahwa di luar sana terdapat banyak golongan yang posisinya masih di bawah dan membutuhkan pertolongan. Kita terlalu egois mementingkan diri sendiri dan sibuk memikirkan masalah masing – masing. Padahal di luar sana, golongan yang tertindas tersebut yang permasalahannya lebih berat dan tak kunjung selesai sangat membutuhkan pertolongan dan dorongan dari kita.

Di negara Indonesia sendiri sudah ada peraturan perundang – undangan yang mengatur warga negaranya. Misalnya, UUD 1945 pasal 28 yang mengatur Hak Asasi Manusia. Pasal 28 A berbunyi “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”. Pasal tersebut mempunyai makna bahwa setiap manusia mempunyai hak hidup yang sama sejak dilahirkan, dan barangsiapa yang melanggar hak hidup manusia lain akan menanggung hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku. Maka peraturan ini berlaku pula bagi pihak – pihak di luar sana yang masih dilecehkan, dikucilkan, dan diremehkan. Tetapi dalam keberjalanannya, belum ada tindak nyata dari pemerintah sendiri. Ketiga permasalahan yang ditampilkan dalam ketiga film ini kurang mendapat dukungan pemerintah sehingga terkesan melakukan aksi sendiri, seperti contohnya pada film Angka Jadi Suara yang tergambar pada scene saat pihak federasi buruh membicarakan masalah pelecehan seksual buruh perempuan ke pemerintah tetapi pemerintah malah menyangkal.

Kita harus bangkit dan sadar bahwa bangsa ini sudah berjalan tidak benar. Daripada menunggu pemerintah turun tangan, alangkah baiknya kita sebagai masyarakat mulai tau, kenal dan paham masalah – masalah di sekitar kita. Tau adanya masalah – masalah, kenal siapa yang mengalami pihak – pihak mana yang mengalami masalah, dan paham apa yang mereka butuhkan. Tidak hanya sekedar tau kenal paham, peka dan peduli adalah cara yang tepat untuk membantu menuntaskan masalah. Peka dengan tidak menyepelekan masalah dan peduli dengan mulai menanyakan apa yang bisa dibantu ditindaklanjuti dengan melakukan upaya – upaya untuk menolong. Upaya – upaya kecil pun jika dilakukan bersama – sama akan membentuk upaya besar.

Lalu sampai kapankah kita akan diam? Sampai orang – orang tersebut hancur dan mati akibat kita menutup mata dan menolak peduli?

 

 

 

Author: Jessica Nancy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *