Diskusi Film Rocket Rain bersama Anggun Priambodo

Rocket Rain adalah film dari seorang sutradara Anggun Priambodo yang mengangkat tema kehidupan seputar pernikahan, perceraian, dan segala konsekuensi yang akan dihadapinya. Film ini dikemas  dengan berbagai pendekatan estetis serta memiliki karakter yang unik.  Dalam film ini, Anggun berperan sebagai sutradara dan pemeran utama.

Culapo yang sedang mengerjakan proyek video ditemani oleh Jansen berkeliling kota dengan Pak Kancil dan Rain yang menemani petualangan mereka. Sepanjang film digambarkan percakapan antara kedua lelaki, Culapo dan Jansen, yang bertukar pikiran seputar hal pernikahan, mengasuh anak, serta hubungan antar keluarga dalam perspektif lelaki dengan kejutan- kejutan menarik.  Pada tangal 19 Mei, Bioskop Kampus memutar fim Rocket Rain dan berkesempatan untuk berdiskusi dengan Anggun Priambodo.

 

Penonton 1: Apakah berani dalam membawa konten yang bakal sulit diterima di Indonesia?

Anggun: Sesungguhnya sama sekali gak mikir akan sulit diterima di Indonesia. Pemilihan tema ini juga bukan karena berani dan gak berani, tapi memang tema ini adalah sesuatu hal yang wajar.

 

Penonton 2: Pada adegan minum beer Culapo dan Jansen, mengapa dibuat gak berhenti- berhenti minumnya?

Anggun: Pada karakter Jansen, perjalanan ini adalah hal baru buat dia yaitu yang jarang keluar kota. Di sinilah dia bisa menjadi diri dia sendiri tanpa batasan- batasan biasanya. Ketika dia ketemu beer, mungkin saja dia sedang haus dan dia sangat suka beer.

 

Penonton 3: Kenapa memilih Bali?

Anggun: Culapo sedang membuat proyek yang ditemani supir ke tempat- tempat yang sepi dari turis di Bali. Jadi, satu dua tahun sebelum shooting memang pernah mengunjungi tempat- tempatnya. Kejutan tempat- tempat baru memang ingin dibawa di produksi film, dan tempat- tempat ini diharapkan bisa dirasakan oleh kru. Jadi, kru juga mendapatkan sensasi baru sehingga experience pembuatan fil ini menjadi menarik. Dan saya gak bisa membayangkan kalau shootingnya di Jakarta karena tidak terlalu suka dengan kota tersebut. Sehingga lebih baik membawa tempat shooting di spot- spot di Bali yang berbeda- beda biar seru dan mendekatkan pertemanan serta liburan bareng juga.

 

Penonton 4: Tokoh Rain digambarkan sebagai umur berapa? Di film ini, Rain tidak pernah dicari oleh keluarganya padahal dia sering keluar sampai malam dengan Culapo dan Jansen.  Apakah bisa dibilang Rain itu impuslif?

Anggun: Saya membayangkan, kalau saya jadi seorang perempuan, saya ingin menjadi seperti Rain. Dia tidak perlu dicari sama keluarganya karena mandiri. Dia memegang kendali atas tubuhnya sendiri dan mewakili wanita yang bebas namun tetap bekerja dan bahagia. Iya, bisa dibilang juga ia impulsif.

 

Penonton 5: Sangat suka pesan tersebut dibawakan lewat percakapan sehari- hari. Tapi belum terlalu mengerti dengan karakter Rain yang surreal dan kenapa tiba2 ada objek surreal diantara percakapan yang real?

Anggun: Hal imajinatif dan realistis keduanya memang objek yang kita temukan sehari- hari. Misalnya kita tuh suka berkhayal juga jadi wajar ada karakter seperti Rain. Kita juga melakukan hal2 yang imajinatif, hal- halantara mungkin dan tidak mungkin. Adegan- adegan surreal tersebut yang menggambarkan khayalan imajinatif kita. Jadi Rain adalah sangat karakter real tapi di suatu sisi itu sangat real.

 

Penonton 6: Scene apa yang menjadi favorit Anggun? Dan kenapa?

Anggun: Scene favorit adalah scene penyu. Bagian tersebut sangat dipertanyakan saat menulis. Produsernya gak setuju dengan adegan penyu. Personally, waktu melakukan scene tersebut terasa sangat menyeramkan tapi menyenangkan saat shooting. Pas melakukan, kok aneh ya rasanya, waktu nonton apalagi. Sampai sekarang masih terbayang bagaimana sulit dan sakitnya adegan melakukan itu.

 

Penonton 7: Skenario untuk binatang- binatang di awal itu khusus atau tidak? Adakah implementasi lain?

Anggun: Opening itu spontan sekali. Opening yang penjaga hutan itu juga sebernarnya ga ada di skenario.

 

Penonton 8: Dari mana Anggun mendapat ide untuk Rocket Rain?

Anggun: Kurang lebih adalah kisah nyata. Rocket Rain menceritakan hal yang emosional  dalam 3 taun terakhir saya yaitu perceraian dan juga menceritakan percakapan saya dengan teman- teman  dekat.

Saya membayangkan untuk membuat sebuah film dan saya memilih untuk ngambil isu yang dekat dengan saya sehari- hari. Keinginan untuk membuat video art yang bertemu dengan masalah sehari- hari.

 

Penonton 9: Kenapa diambil judul Rocket Rain?

Anggun: Saya suka banget dengan karakter Rain. Saya  suka dengan imajinasi dia. Dan tidak ingin menjelaskan pada penonton bahwa ini film membahas tentang keluarga.

 

Penonton 10: Gimana pengalaman ngedirect sambil main? Apakah memudahkan atau menyulitkan? Apakah Mas Anggun ada fungsi mengarahkan pembicaraan dalam karakter- karakternya?

Anggun: Antara susah dan tidak. Ada pembagian perannya. Kesulitan agak dirasakan  dalam kru namun justru memberi ruang yang besar pada cameraman. Itulah bagian dari seni, melakukan bermain sekaligus mengontrol. Dialog antar karakter itu alami, tapi semuanya tertulis di skenario. Tapi bagian dari yang terjadi dibuat seperti lagi gak baca skenario.

 

Penonton 12: Antara realis dan surrealis, dalam suatu sisi Mas anggun berkata film ini adalah film art. Adegan- adegan seperti penyu, apakah mas ingin melemparkan ke penonton? Karena saya tidak merasakan didikte apapun di film ini.

Anggun: Penonton yang punya presepsi masing- masing itu menarik sekali, memang ada adegan yang sangat jelas dan ada yang tidak agar ada ruang ‘bermain’ di dalam film ini. Itu juga yang menjadi bagian menyenangkan. Akhirnya apabila terlihat sesuatu yang tidak berpola, hasilnya menjadi menarik. Dalam medium film memang cara bermainnya seperti itu.

 

Penonton 12: Saya sangat senang dengan adegan “ngewe” bule dan Mas Kancil di ruang makan! Terasa sangat tiba tiba, yang jadi semangat filmnya juga. Rain kan datang tiba tiba, adegan surreal datang tiba-tiba bahkan Jansen dan Culapo hadir juga tiba- tiba. Mungkin ini yang bikin saya lebih suka nonton film Mas ketimbang film alternatif lainnya yang biasanya lambat dan membosankan!

Anggun: Iya, adegan  itu juga bahkan tidak direncanakan sebelumnya, dan diputuskan untuk dilakukan sekali, mungkin karena ada perasaan enak/ gak enaknya.

 

Pengalaman menonton Rocket Rain bisa dibilang pengalaman menarik, ditambah lagi dengan adanya diskusi dengan Mas Anggun Priambodo. Dialog- dialog tentang jamu dan keju memancing imajinasi penonton. Karakter Rain yang “ceplas-ceplos” dan percakapan  dengan Pak Kancil juga membuat penonton tersentil. Rocket Rain, film dengan percakapan antar karakter yang intim dan adegan- adegan yang mengejutkan, mengajak penoton keluar batas dalam menonton.

 

 

 

Rocket Rain// Durasi: 99 menit// Sutradara: Anggun Priambodo// Produser: Meiske Taurisia// Screenplay: Tumpal Tampubolon

 

Notulensi oleh Afia Lubis.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *