Diskusi Santai tentang Sinema Superhero

Tulisan ini merupakan hasil rangkuman dari forum seru yang membahas tulisan dari popteori.wordpress.com dengan judul War of Heroes. Diskusi pada forum dilakukan pada tanggal 16-18 Juni 2016 di sebuah grup Facebook rahasia #yea.

Ada perdebatan seru (dan sengit) yang terjadi pada suatu forum Liga Film Mahasiswa ITB mengenai tulisan dari blog popteori.wordpress.com mengenai film-film superhero di bioskop berjudul War of Heroes oleh Mbak Ratri Ninditya.

“Film superhero bikin kita makin impoten. Dunia ini semrawut penuh teror dan dalam keputusasaannya membutuhkan figur penyelamat sehingga kita berbondong-bondong ke bioskop menyaksikan sebuah dunia paralel yang sama hancurnya diselamatkan aneka ria pahlawan semua dua setengah jam.”

“Sepertinya film kayak gini makin bikin kita kebas. Mata kita terlalu dimanja sama visual jadi nggak menyisakan ruang di otak untuk berimajinasi, atau minimal, berpikir. Bentar lagi kita udah lupa kalo film itu isinya bukan gambar sama suara doang tapi cerita juga.”

Rasanya menggeneralisir seluruh film superhero “impoten” karena terlalu memanjakan penonton dengan visual dan audionya menjadi tidak adil. Tidak semua film superhero mengorbankan ceritanya demi “gambar dan suara yang bagus”. Di sini penulis War of Heroes pun menunjukkan poin yang menarik mengenai karakter Xavier pada film X-Men Apocalypse yang terlalu positive thinking dan naif, dengan privilege-privilege yang ia punya, ia jadi lupa akan kesulitan yang dihadapi saudara-saudara sesama mutannya.

Film-film superhero masih dapat memikat penonton lewat jalan ceritanya. Lewat film X-Men, kaum-kaum marjinal dunia seperti diwakilkan oleh para mutan yang dengan perbedaannya, menjadi dikucilkan dan bahkan dibasmi. Lewat film Captain America: Civil War, musuh utama yang karakter-karakter superhero-nya hadapi justru adalah seorang manusia biasa yang melihat celah bahwa superhero-superhero ini juga adalah manusia biasa. Hal ini seperti membuat bertanya-tanya, apakah alasan negara Amerika Serikat tidak bisa melepas aturan senjata api mereka dikarenakan oleh ancaman-ancaman nyata seperti ini?

Masing-masing karakter pada film Civil War masih dapat membuat penonton relate dengan kehidupan nyata. Ada kemanusiawian berbentuk cara pikir dan ego. Ada keunikan yang tidak dipukul rata seperti pada figur Power Rangers. Ada konsistensi yang terus dibawa pula, seperti bagaimana pengkhianat tim pada film Civil War adalah Black Widow, yang memang dari dulu merupakan seorang double agent. Atau bagaimana karakter yang ditunjuk sebagai lawan Captain America adalah Iron Man karena dia yang paling keras kepala akan apa yang dia yakini.

Walau formula film-film superhero tidak jauh-jauh dari “nanti akhirnya yang baik akan menang”, ada pula kelebihan-kelebihan yang terlihat tidak signifikan antara satu film superhero dengan film superhero lain namun patut diapresiasi. Film-film Marvel Cinematic Universe (MCU), contohnya, selalu menekankan untuk melindungi masyarakat sipil. Berbeda dengan film Man of Steel yang masyarakat sipilnya seperti hanya menjadi kecoak-kecoak gepeng di reruntuhan kericuhan, pada film-film MCU, prioritas para superheronya adalah melindungi. Superhero sepatutnya adalah superhero yang bertugas untuk melindungi manusia dari bahaya, sosok super ideal yang diciptakan manusia sebagai proyeksi dirinya, mungkin?

Bahkan jika dilihat lebih jauh, penghiburan yang ditawarkan macam film popcorn adalah yang mampu menyuapi fantasi-fantasi yang diinginkan oleh penontonnya, sejauh bagaimana ia juga menginterpretasi filmnya, atau mengambil makna kehidupan di dalam filmnya (sounds familiar?!). Bukan berarti film-film seperti ini menjadi kurang unggul dibandingkan film-film yang istilahnya “lebih mikir”. Seperti halnya makanan, ada istilah “junk food” dan “food betulan”. Mungkin “junk food” lebih tidak bernutrisi, tapi toh itu adalah hak selera masing-masing orang. Ketika mengkritisi suatu film, mungkin tidak bisa di-judge baik atau buruknya suatu film lewat ia adalah film popcorn atau film serius. Film mempunyai semestanya masing-masing, di mana lewat semesta tersebut film tersebut dapat dikritik. Tidak adil mungkin, untuk menilai film-film superhero lemah karena ia tidak menyinggung suatu realita sosial yang ada di dunia. Padahal, tiap penonton dapat mengambil suatu makna tergantung dari referensi konteks yang ia miliki atau pernah dialami.

Namun mungkin ada efek samping yang timbul dari terlalu banyak mengonsumsi “junk food”, yaitu sempitnya referensi dan perspektif akan film. Barangkali menonton film popcorn telah menjadi sebuah comfort zone sehingga penonton semacam ini menjadi menutup diri pada film yang bukan popcorn (terlepas ada di festival, pemutaran alternatif, atau yang cult), dan akhirnya melabeli yang dia sukalah yang paling baik. Bahkan hal yang sama dapat pula dikatakan untuk penonton yang saking “indie”nya hingga lupa rasa coca-cola di Blitz Megaplex.

Ini juga terjadi karena tidak seimbangnya jumlah film macam popcorn dan yang bukan. Film-film bukan popcorn ini butuh effort lebih untuk didapat, mulai dari torrent, bikin paypal, sampai bayar Rp250.000,00 ke Buttonijo, bahkan mengumpulkan niat dan rasa penasarannya saja sudah setengah mati. Hal ini sangat berbeda dengan membayar 35.000 di bioskop yang menjamur di dalam mall-mall di penjuru kota Indonesia, sambil menunggu ba’da maghrib atau dijemput pulang supir.

Film-film yang disajikan di bioskop pun terjebak untuk menjadi homogen, dan produksi film-film semacam itu ikut terpengaruh. Ada yang menjadi asal-asalan, asal sesuai tipenya dengan keinginan pasar. Logika film menjadi tidak terselematkan (ini sudah membahas hal yang lebih besar dari film superhero), latar belakang karakter, pemilihan lokasi atau aktor menjadi tidak diabaikan. Sederetan judul film di bioskop menjadi sama rupa sama rasa.

Tapi kok kami masih bingung sama film yang lebih Deadpool? Jangan-jangan tulisan ini juga terlalu serius dan kurang Deadpool? Ah, tolong jelaskan pada kami, Mbak!

Hasil rangkuman ditulis oleh Permata Adinda Priyadi dan Albertus Wida Wiratama.

Manusia-manusia yang turut meramaikan diskusi:  Albertus Wida, Permata Adinda, Ilham Rijal, Sarah Nadia, Satrio Bagus, Farraz Akbar, Theofilus Wisnu, Gladyza Vanska, Fajar Eka, Reza Andhika, Elba Andera, Chandra Goldie, Adipraja Al Rasyid, Ikhsan Saumantri, dan masih banyak lagi.

 

Author: admin

One thought on “Diskusi Santai tentang Sinema Superhero

  1. hai teman2 dr itb! aku seneng banget ternyata sebuah tulisan kecil di blog bisa memicu diskusi seru di antara kalian. ada beberapa poin menarik yang kalian sampaikan di sini:
    pertama, bahwa film non mainstream sulit sekali diakses . ini menurut gue emang jadi lingkaran setan. bayangin brp bnyk duit yang hrs dikucurin buat biayain sebuah film megaheroes (tentu krn udah pasti lebih jualan jd balik modal cepet, untung gede) sehingga jd gak ada yg minat biayain film yg lebih indie. konsekuensinya distribusi jg makin terbatas jd lbh sedikit org yg nonton. kenapa film dgn satu superhero aja jadi gak cukup lagi? knp harus ramean jd biaya bengkak? mgkn krn alasan balik modal untung gede tadi ya. gue kebayang kok jadi tim kreatifnya film2 itu, pasti mrk struggle juga utk bikin crt ttp bgs dan make sense dan enjoyable sementara ttp jualan, sama publik umum dan hardcore fans komiknya. pasti idupnya syulit tu hahah. that being said, pendapat kalian ttg konsistennya karakter Marvel memang bener. bahwa X-men merepresentasikan orang-orang marjinal jg bener. apalagi bahwa mrk lebih unggul dr power rangers.
    kedua, gue juga setuju bahwa film2 pop(corn) itu penting karena itu adalah sebuah refleksi yang akurat akan masyarakat dan jaman, desire kita apa, ketakutan kita apa. bahkan itu pula yang menjadi alasan kami bikin popteori.
    ketiga, film yg lebih deadpool? ya stick to one hero aja dgn skrip yg witty dan kocak. itu sih preferensi gue aja yah. agak mustahil dalam 2 jam bisa simpati sm belasan karakter. hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *