Dua Zaman, Satu Wanita: Hiroshima, Mon Amour / Amour 1959-2012

85 tahun bukanlah usia yang muda untuk seorang pelaku dunia hiburan. Terlebih lagi untuk seorang wanita, di mana umumnya kecantikan adalah senjata utama untuk menjamin keberlangsungan karirnya di layar lebar. Maka ketika Emmanuelle Riva mendapatkan nominasi aktris terbaik di ajang Academy Awards 2013 lewat Amour arahan sutradara Michael Haneke, ucapan bahwa aktris hanya dapat bertahan selama kemudaannya belum pudar seakan terbantahkan seketika. Nominasi tersebut ia dapatkan tidak karena keberuntungan belaka: karirnya telah membentang selama lebih dari 50 tahun, dengan berbagai film yang sukses secara kualitas maupun komersial. Perannya bersama Jean-Louis Trintignant sebagai pasangan tua yang berhadapan dengan kematian merupakan sebuah studi karakter dalam skala mikroskopis yang sangat menggugah, dan melihat interaksi mereka sedikit banyak mengingatkan kita akan peran Riva yang lain dalam sebuah film drama tahun 1959 yang paling dibicarakan pada zamannya, Hiroshima, Mon Amour.

Kedua film tersebut berasal dari satu ranah yang sama: seorang pria, seorang wanita, hanyut dalam hubungan mereka berdua, dengan interaksi minim terhadap orang-orang di sekitar mereka. Sebuah bentuk paling dasar dari film romansa yang mungkin telah disempurnakan dalam karakter Jesse dan Celine dalam Before Sunrise dan Before Sunset (dan juga salah satu film paling dinanti tahun ini, Before Midnight). Formula seperti ini selalu menarik untuk ditonton, baik ketika tokohnya masih berusia muda maupun sudah uzur, karena tidak seperti film aksi atau fiksi ilmiah, inti ceritanya adalah sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian kita: rasa cinta kepada seseorang yang memburamkan segala yang ada di sekitar kita.

Masa muda yang menjadi masa paling bergiat mencari cinta, sering dirasakan banyak orang sebagai masa paling bahagia sekaligus paling menderita – karena bagaimanapun menyenangkannya menemukan cinta baru, yang terjadi di masa lalu seringkali sulit untuk dilupakan begitu saja. Begitulah yang dialami Emmanuelle Riva usia 32 tahun yang memerankan seorang aktris wanita tak bernama dalam Hiroshima, Mon Amour, yang jatuh cinta dengan pria Jepang (Eiji Okada) saat sedang mengambil gambar untuk film terbarunya di Jepang. Namun tentunya ada sedikit masalah yang terjadi. Sang pria telah beristri, sang wanita telah bersuami, dan ia terus dihantui kenangan cinta pertamanya di kampung halamannya di Nevers, Perancis.

Serangkaian cuplikan korban bom atom Hiroshima di awal film menjadi perpanjangan pemikiran sang aktris bahwa, sepahit apapun, kenangan masa lalu merupakan bagian dari diri kita masing-masing. Jepang berhasil membangun kembali kotanya dan membuat museum untuk mengenang para korban tersebut, sementara sang wanita – yang sempat menjadi gila karena kehilangan kekasihnya – menemukan jalan keluar sementara melalui sang pria Jepang yang telah lepas dari kenangan keluarganya yang dihancurkan bom atom, dan sekarang terus mendorongnya untuk melupakan masa lalu sekaligus merasa iri karena tidak bisa dicintai sedalam pria Jerman di Nevers tersebut. Ketika seorang wanita terikat dengan masa lalu dan seorang pria mencoba menariknya kembali ke dunia nyata, siapakah yang salah? Ingatan menjadi tema utama di antara mereka, dua orang di usia prima yang mencoba berdamai dengan kapasitas manusia dalam menyimpan dan memanfaatkan kenangannya. Tatapan menerawang Emmanuelle Riva terus-menerus menembus Eiji Okada, menembus masa kini, kembali ke masa lalu sementara mereka berdua berusaha menemukan kembali posisi mereka di masa sekarang, Hiroshima pasca perang.

Meski merupakan film pertama dari Alain Resnais, Hiroshima menuai banyak pujian atas kerangka narasinya yang tidak linear dan menjadi salah satu film besar dalam gerakan French New Wave tahun 1960-an. Bahkan penonton awam sekalipun akan menyadari bahwa film ini tidak sekedar kisah cinta antara seorang Jepang dan wanita pendatang – kesan kehancuran Hiroshima dan ingatan penuh trauma yang ditinggalkannya membayangi sebagian besar adegan dalam film ini, dan menjadikannya salah satu film penting dalam sejarah sinema modern pasca perang dunia.  Namun, hal lain yang tidak bisa dilewatkan adalah bagaimana film ini menjadi batu loncatan seorang pendatang baru bernama Emmanuelle Riva dalam puluhan tahun karir perfilmannya – sebuah kata yang tidak pernah ia suka, karena ia tidak pernah merasa menjadikan aktris sebagai sebuah karir. Sang wanita yang ia perankan adalah tokoh yang bekerja dalam berbagai lapisan, di paling atas sebagai pecinta yang belum bergerak dari masa lalu, dan di tingkat yang lebih mendalam sebagai ujung tombak dari citra kebangkitan sebuah kota terhadap kehancurannya limabelas tahun yang lalu, sebuah isu yang terkuatkan sekaligus menutupi masalah yang dimiliki sang wanita itu sendiri.

“You are not endowed with memory.”

Ucapan dari pria Jepang kepada kekasih aktris Perancisnya tersebut seolah perlu dibuktikan ketika Emmanuelle Riva kembali, 53 tahun kemudian, dalam sebuah romansa-tragedi yang serupa namun sama sekali berbeda berjudul Amour. Bersama Jean-Louis Trintignant, mereka menjalani hidup sebagai Anne dan Georges, pasangan tua yang hidup di sebuah apartemen di Paris. Sebuah karakter yang bisa saja dibayangkan menjadi kelanjutan hidup sang aktris dalam Hiroshima, meski dengan latar yang berbeda dan sutradara yang sama sekali berbeda. Di sini, Anne tidak hidup dalam masa lalu: memori yang mereka miliki adalah memori akan puluhan tahun kehidupan mereka berdua, pasangan yang saling mencinta meski kehangatannya lebih sering tertutupi ego di antara mereka. Seperti warga lanjut usia yang lain, urusan fisik lebih banyak menyulitkan mereka dibandingkan intrik perasaan yang lebih sesuai untuk pasangan muda. Setelah Anne terkena stroke yang melumpuhkannya, Georges memusatkan perhatiannya terhadap melayani istri tercintanya tersebut menghadapi keseharian yang kini menjadi jauh lebih sulit, menjadikan bahkan mandi sebagai proses yang menyakitkan untuk disaksikan. Sebuah kenyataan yang lambat laun akan diterima setiap orang ketika tua nanti. Ruangan gelap dan Anne yang tertahan di tempat tidurnya mengantarkan Georges perlahan tenggelam dalam kondisi depresi dan menyeret penonton terkubur bersamanya. Sulit membayangkan bahwa para manula berambut putih dan bertubuh ringkih itu pernah menghidupi gelora masa muda – kenyataan yang disisipkan ketika Anne meracau dalam keadaan setengah sadarnya, yang diladeni Georges dengan sabar. Tanpa musik latar, hampir tanpa gerakan kamera, Amour berdiam di sisi ruangan, memaksa penonton menelan kesendirian orang tua yang hanya ingin hidup dengan wajar. Namun hidup wajar pun ada batasnya, dan pada akhirnya, hidup itu sendiri pun ada batasnya.

Ekspresi Emmanuelle Riva sebagai manula yang lumpuh sebegitu nyatanya sehingga sulit dipercaya bahwa ia sesungguhnya masih sehat dalam usianya yang sudah mencapai 85 tahun. Di antara bangunan Hiroshima yang sedang dibangun kembali, kisah hidup sang wanita memang masih bisa mencuat dengan dorongan cinta dan birahi jiwa muda, namun lebih dari setengah abad kemudian, kisah Emmanuelle Riva dengan pasangannya menjadi sentral karena mereka tidak memiliki yang lain lagi kecuali satu sama lain. Dunia terus berputar, dan mereka menjalani hari demi hari, perlahan di dalam sebuah apartemen sunyi di Perancis. Georges memiliki pilihan untuk hidup mereka, namun hal itu berarti memisahkan Anne dari sisinya. Pada akhirnya, dalam usia tua tidak ada lagi faktor luar yang mendorong mereka berdua untuk terus menjalani hidup selain rasa cinta, sesuai dengan judul satu kata yang digunakan, Amour (cinta).

Sang aktris Perancis di tanah Jepang terus berusaha untuk menggapai masa lalunya, sementara Anne tua telah menjalani hidup yang berkecukupan, hidup di tengah Paris tanpa memedulikan apa yang telah lalu selain Georges. Ketika manusia bertambah tua dan kenangan yang terkumpul semakin banyak, apakah kita semakin menghargai kenangan atau justru melupakannya? Menjadi tua adalah sesuatu yang tidak bisa dialami sebelum waktunya, dan melalui Amour, Riva memberikan gambaran yang rinci kepada kita bagaimana rasanya hidup di atas usia 80 tahun. Usia di mana segala kenikmatan hidup telah datang dan berlalu di hadapan kita, dan apa yang tersisa adalah keseharian hidup yang sederhana sambil menanti hari datangnya maut. Satu per satu teman mereka meninggal, dan perlahan rasanya masa lalu tidak lagi sepenting hari esok yang masih bisa dinikmati. Sesuatu yang tecermin dalam kepribadian Riva yang dahulu menolak banyak tawaran komersial hingga orang-orang melupakannya, yang hanya ingin menanti Oscar cepat berlalu agar ia bisa kembali istirahat dari berbagai wawancara setiap harinya. Pada kenyataannya, Riva tidak pernah menikah dan memiliki anak, dan sekarang tinggal sendirian di Paris. Peran Anne diterimanya karena naskah yang sangat menggugah, bukan karena ingin kembali mengejar kebintangannya di masa lalu. Di masanya masing-masing, Hiroshima, Mon Amour dan Amour merupakan pencapaian yang menakjubkan, dan Emmanuelle Riva seakan menjadi cerminan kehidupan kedua karakter tersebut, yang bisa saja merupakan satu orang yang sama dalam kisah yang berbeda, seorang yang mengalami pendewasaan akan kenangan masa lalu dan tumbuh tua menjadi pribadi yang sederhana. Karakter tersebut seolah terpatri dalam diri Riva sendiri, seorang yang tidak terlena dengan kenangan dan kebintangannya di masa lalu, bahkan masa kini. Baginya, kenyataan bahwa dua film tersebut bisa dinikmati oleh berbagai generasi yang berbeda sudah lebih membahagiakan dibandingkan rentetan penghargaan yang dinominasikan untuknya.

Kevin Aditya

Author: kevinaditya