Galih & Ratna: Gita Cinta ‘Kekinian’ dari SMA

Apa sih yang pertama kali muncul di pikiran kita ketika mengenang zaman SMA? Jajan di kantin bareng teman – teman? Main bola di lapangan sekolah sampai sore? Dihukum guru karena memakai kaos kaki yang kependekan? Atau justru si cinta pertama?

Galih & Ratna adalah sebuah film remake dari film tahun 1979 berjudul “Gita Cinta dari SMA” yang menjadi teen movie popular pada era nya. Sama seperti film pendahulunya, Galih & Ratna mengalir dalam dunia romansa cinta pertama dua remaja SMA . Namun Lucky Kuswandi sebagai sutradara tidak sertamerta meng-copypaste alur cerita lama dari film “Gita Cinta dari SMA” lalu jadilah film remake dengan sentuhan masa kini dan beredar di bioskop. Jika awalnya penonton mengira seperti itu, film Galih & Ratna bukan hanya versi modern dari “Gita Cinta dari SMA” tetapi film ini justru menampilkan alur cerita baru yang lebih related dengan kehidupan remaja SMA masa kini.

Perbedaan yang cukup signifikan terletak pada alur ceritanya. Film “Gita Cinta dari SMA” bercerita tentang Galih dan Ratna dua sejoli SMA yang kisah cintanya harus berakhir karena hubungan mereka tidak disetujui orangtua Ratna dengan alasan perbedaan etnis jawa – sunda dan status sosial. Ratna pun akhirnya dijodohkan dengan orang lain. Sebuah formula klasik yang cukup sering menjadi benang merah film – film romance pada masa nya.

Dalam film remake ini, Galih dan Ratna dipertemukan dan dipisahkan oleh musik. Galih sosok sederhana yang memiliki selera musik yang terbilang old school, gemar mendengarkan lagu lewat kaset, dan memiliki passion di bidang musik karena keakrabannya dengan musik sejak kecil saat Ayahnya mendirikan toko musik. Ratna juga memiliki passion dalam musik, ia sangat suka menulis lagu dan memainkan alat musik. Bedanya dengan Galih, Ratna hadir dalam tipikal remaja ibukota zaman sekarang yang up to date dengan sosmed dan gadget, kerap berpikir instan, dan sifat – sifat lain yang muncul akibat modernitas.

Saya pribadi menyukai bagaimana film ini bisa meleburkan sisi jadul Galih dalam dunia milenial Ratna lewat adegan – adegan yang kontras dengan apa yang kebanyakan remaja kekinian lakukan. Seperti mixtape pemberian Galih yang tidak hanya menjadi media untuk mengutarakan perasaan, tetapi secara implisit ‘menyentil’ budaya generasi muda milenial yang serba instan, dimana kita dengan mudahnya melewatkan beberapa lagu untuk sampai ke lagu favorit. Generasi muda sekarang tidak banyak yang menghargai dan mengapresiasi proses untuk mencapai suatu tujuan.

Film ini mengemas kehidupan remaja as it is and authentic. Setiap adegan dengan mudahnya dinikmati sekaligus menjadi sarana throwback ke masa – masa SMA. Kata – kata ‘jadi inget dulu pas SMA’ bisa jadi muncul dalam hati ketika menontonnya. Karakter pendukungnya jika dikorelasikan adalah orang – orang dengan berbagai tipe kepribadian yang di SMA mana pun pasti ada saja. Termasuk dialog antartokoh, humor, dan kelakuan semasa SMA yang membuat penontonnya merasa dekat. Berbeda dengan film lain dengan setting yang sama namun terlalu banyak bumbu yang ditambahkan hingga kadang terkesan palsu dan terlalu dibuat – buat.

Betapa bahagianya menemukan passion dalam cinta dan cinta dalam passion. Musik ibaratnya menjadi jembatan cinta antara Galih dan Ratna. Inilah yang menjadikan Galih dan Ratna dalam pandangan saya bukan hanya sekedar dua sejoli yang kasmaran tetapi mereka adalah partner satu sama lain dengan mimpi dan passion yang sama.

Dari segi konflik pun sebenarnya adalah konflik yang kerap dialami oleh remaja saat ini. Galih dan Ratna yang sedang dalam masa transisi dimana mereka memiliki perbedaan prinsip dalam menentukan tujuan hidup selanjutnya. Galih adalah pribadi yang step-by-step sedangkan Ratna tidak cukup berpikir panjang dalam hal ini. Ditambah lagi orangtua mereka lebih mementingkan apa yang terbaik menurut mereka untuk masa depan anaknya tetapi tidak pernah benar – benar mendengarkan keinginan anak yang sebenarnya. Hal ini menyebabkan salah satu dari mereka harus meninggalkan mimpi, passion dan cinta yang pernah ada demi sebuah tuntutan dan tanggung jawab pada kenyataan hidup.

Menonton film ini seperti melihat refleksi dalam kehidupan masa remaja kita yang tidak lepas dari cinta juga cita – cita. Masa abu – abu dimana proses pendewasaan dan pembelajaran baru dimulai. Film ini tidak memberikan suguhan cinta dan cita – cita yang selalu mulus sesuai yang kita harapkan atau seperti yang kita tonton di film lainnya, tetapi bagaimana ketika kita dihadapkan pada realita yang berbeda.

Author: mayanglrst

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *