Istirahatlah Kata-Kata: Sisi Sederhana Seorang Pejuang

Istirahatlah Kata-Kata merupakan film karya Yosep Anggi Noen yang tayang pada Januari 2017 lalu. Film ini berkisah tentang Widji Thukul, seorang penyair pada Orde Baru. Ia terkenal karena puisinya yang secara gamblang mengkritik Soeharto dan pemerintahannya. Widji juga mempelopori sebuah partai yaitu Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dianggap pelanggaran karena menjadi sebuah oposisi pemerintah yang sebenarnya (pada masa itu hanya boleh ada tiga partai politik dan diciptakan suasana seakan-akan ketiga partai tersebut sedang berkompetisi).

Dengan adanya PRD, masa kekuasaan Soeharto terancam. Ditambah pergerakan Widji melalui puisinya, Peringatan. Puisi-puisi Widji Thukul yang dianggap sebuah propaganda oleh pemerintah dan aksi-aksinya di jalan cukup membuat Widji Thukul menjadi seorang buronan. Oleh karena itu, ia kabur ke berbagai tempat, meninggalkan istri dan kedua anaknya.

Film ini menunjukan sisi yang berbeda dari Sang Pejuang. Pada saat Widji dalam persembunyiannya, ia merasa takut dan gelisah. Adegan-adengan di mana ia memilih bertahan di dalam rumah-rumah yang ia tinggali dan menghindari kontak dengan dunia luar mengambarkan hal tersebut. Ditambah dengan pengakuannya bahwa ia tidak bisa tidur, membaca, ataupun menulis menunjukkan kondisi psikis Widji. Keberanian baru ia dapatkan ketika tidak sengaja bertemu dengan seorang anggota ABRI. Proses yang tidak tiba-tiba membuat tokoh Widji dalam film ini lebih manusiawi.

Perjuangan Widji Thukul dalam hal berkarya tergambar dengan pendekatan yang sederhana tetapi menyentuh. Dalam persembunyiannya, Widji masih mengalami hal-hal biasa seperti makan, berkumpul dan berbincang dengan teman-temannya, mati lampu, mencari sebuah pekerjaan, dan basa basi dengan tetangga sekitar. Dari kesederhanaan itulah ia mendapat inspirasi, bukan melalui medan tempur maupun aksi-aksi heroik yang biasa disajikan dalam film biografi tokoh pahlawan.

Penggambaran tentang kondisi tegang antara pemerintah dan gerakan reformasi pun cukup disajikan dengan baik oleh Yosep. Penggeledahan rumah Widji yang diselingi perbincangan sehari-hari. Berita tentang pemberontakan saat mendekati turunnya Soeharto diperdengarkan dari radio sebuah mobil yang menuju sebuah destinasi normal. Humor-humor yang disajikan dalam film tersirat makna mengenai ilusi kebebasan saat itu. Semua menggambarkan bahwa kehidupan sehari-hari masyarakat masih berjalan walau adanya pergolakan pada pemerintahan. Entah dari orang awam sampai orang-orang sedang memperjuangkan reformasi.

Namun, akhir yang terlalu mendadak membuat film kurang memiliki penyelesaian yang memuaskan. Kurangnya build up alur menjelang akhir film membuat penutup dirasa terlalu mendadak. Transisi dari tempat persembunyian Widji sampai dia berada lagi di Solo, di mana istri dan anak-anaknya bertahan, masih kurang diberi kejelasan supaya penonton dapat mengantisipasi Widji akan berada di mana.

Dengan kelebihan maupun kekurangannya, film Istirahatlah Kata-Kata turut diapresiasi. Pemaparan tokoh Widji Thukul yang sederhana selaras dengan puisi-puisinya yang lebih mengutamakan makna dibandingan kata-kata flamboyan. Pemilihan kata-kata lumrah itu lah yang membuat puisi Widji Thukul lebih terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Dari orang yang berpendidikan sampai orang yang tidak.

Melalu film ini, kita diingatkan kembali tentang peristiwa yang menimpa tokoh-tokoh seperti Widji Thukul: dihilangkan secara paksa pada saat Orde Baru. Film ini membuka kembali lembaran kisah yang telah lama terkunci sekaligus menampilkan sosok humanis seorang pejuang kebebasan.

 

Resensi sebelumnya telah dipublikasikan di koran Ganeca Pos 13 Maret 2017

Author: Shevalda Gracielira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *