Mereka Bilang Saya Monyet: Keambiguan Sosok Lintah

Tulisan berikut merupakan notulensi hasil diskusi pemutaran film Mereka Bilang, Saya Monyet yang diadakan di IFI, Bandung pada tanggal 14 April 2016 dan diselenggarakan oleh komunitas Bahasinema.

Mereka Bilang Saya Monyet adalah film kedua karya Djenar Maesa Ayu yang diadaptasi dari dua cerpennya: Lintah dan Melukis Jendela. Film ini mendapat beberapa penghargaan, yaitu: Pemeran Wanita Terbaik (IMAA), Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (IMAA), dan Skenario Adaptasi Terbaik (FFI).

Mereka Bilang Saya Monyet lebih banyak mengadaptasi cerita dari cerpen Lintah, di mana sosok Lintah seringkali membayang-bayangi hidup Adjeng. Sementara cerpen Melukis Hujan ditunjukkan lewat sosok Adjeng kecil yang hobi menggambar namun sering di-bully di sekolah karena kesenangan menggambarnya itu.

Film yang rilis pada tahun 2008 ini mempunyai kesamaan cerita dengan film terbaru Djenar yang rilis tahun 2015: Nay. Dengan rentang tahun yang cukup jauh, Djenar tetap konsisten menceritakan kehidupan karakter utamanya yang penuh tekanan akibat trauma diperkosa oleh kekasih ibunya saat kecil. Menariknya, karakter Adjeng terasa mirip sekali dengan  karakter Djenar, terlihat dari paras dan gaya berpakaian Adjeng, kebiasaan minum, dan profesi nya sebagai penulis yang mengingatkan kita pada Djenar itu sendiri. Titi Sjuman seakan-akan berhasil bertransformasi seluruhnya menjadi “Djenar”, tanpa menyisakan dirinya sendiri.

Adjeng, karakter utama pada film, beberapa kali menyebut-nyebut Lintah sebagai suatu makhluk hidup yang dipelihara oleh ibu, diberi tempat tidur, dan diberi makan. Lintah beberapa kali “menempel” pada bagian-bagian sensitif tubuh Adjeng, membuatnya tak nyaman dan berharap ibu mengganti peliharaannya dengan binatang lain. Lintah sebagai makhluk hidup yang suka menghisap darah dan dapat membelah diri kemudian diinterpretasikan sebagai sosok kekasih ibu yang suka “menggerayangi” Adjeng, menempelkan dirinya di setiap jengkal tubuh Adjeng.

Mereka Bilang Saya Monyet sc 1

Farraz (LFM) mengungkapkan kesukaannya pada film ini, bagaimana ke-intens-an setiap adegan membuatnya merasa menjadi Adjeng itu sendiri. Namun, Farraz juga menyayangkan bahwa Lintah sebagai metafora kekasih ibu malah ditunjukkan di akhir film dengan melakukan pengulangan adegan, di mana lintah berubah menjadi tangan kekasih ibu.

Mereka Bilang Saya Monyet sc 2

Hal ini berakibat pada tertutupnya interpretasi-interpretasi lain terhadap film tersebut. Sebagaimana Adrian (LFM) melihat bahwa Lintah adalah penyedot harta dan jiwa Adjeng ketika kecil. Namun ironisnya Adjeng justru menjadi tidak berbeda dengan ayahnya ketika telah dewasa: perokok dan peminum berat, menjadi simpanan suami orang, dan sebagainya. Adjeng menjadi sama-sama “beban” seperti ayahnya dulu yang tidak bertanggungjawab atas istrinya dan Adjeng. Hal ini diinterpretasi lebih lanjut oleh Toyib (LFM) yang menyatakan bahwa Lintah bisa dimetaforakan menjadi banyak orang, salah satunya adalah Adjeng itu sendiri. Adjeng mungkin saja bercerita mengenai dirinya sendiri ketika ia bilang sang ibu memelihara seekor lintah dan bagaimana ia ingin sekali menyingkirkannya dari rumah.

Secara umum, film Mereka Bilang Saya Monyet sebenarnya menarik karena ia dapat diinterpretasi berbeda dengan bukunya, tidak seperti film-film hasil adaptasi lain (Harry Potter, Lord of The Rings) yang buku dan filmnya sama-sama beralur linear sehingga tidak membuka interpretasi baru. Namun, sayangnya pintu untuk menginterpretasi sedemikian rupa ini juga menjadi tertutup akibat adegan akhir film yang malah menginterpretasi dirinya sendiri.

 

Notulensi oleh: Albertus “Obe” Wiratama

 

Mereka Bilang, Saya Monyet! | 2008 | Durasi: 83 menit | Sutradara: Djenar Maesa Ayu| Produser: Djenar Maesa Ayu, Riyadh Assegat| Negara: Indonesia | Pemeran: Titi Rajo Bintang, Henidar Amroe, Ray Sahetapy, Bucek, dll.

mm

Author: Permata Adinda

Dinda, berkuliah di ITB jurusan teknik kimia. Menggemari film sejak kecil, namun baru berusaha memahami film sejak masuk ke Kineklub LFM ITB. Sampai saat ini juga aktif di komunitas Bahasinema demi menghidupkan pemutaran film-film Indonesia di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *