Ngabuburit : Ketika Syndrome Formalitas dan Krisis Strata Melanda

Ngabuburit adalah istilah dari Bahasa Sunda, Jawa Barat yang berasal dari kata “burit” yang merepresentasikan waktu yang berarti sore, senja, atau menjelang Maghrib. Istilah Ngabuburit juga umum diucapkan banyak orang ketika menunggu waktu berbuka puasa, tepatnya setelah Ashar. Biasanya, orang – orang menghabiskan waktu dengan beritikaf di masjid, berbelanja kebutuhan untuk lebaran, atau sekadar bercengkerama dengan keluarga.

Ngabuburit merupakan salah satu film yang diputar di Malang Film Festival 2017. Malang Film Festival adalah salah satu festival film di Indonesia yang digagas oleh mahasiswa dalam wadah Unit Kegiatan Mahasiswa Kine Klub UMM. Film ini termasuk dalam Program Kompetisi yang diputar pada tanggal 12 April lalu bersama beberapa film lain, diantaranya adalah Oleh – Oleh, 10 Wit Mbojo, dan Penganten Sunat.

Film fiktif berdurasi delapan menit ini, disutradarai oleh Candra Aditya. Candra Aditya adalah seorang penulis dan pembuat film. Sehari – hari, ia bekerja sebagai peninjau untuk DetikHot dan kontributor untuk majalah Provoke!. Saat ini ia sedang sibuk menyelesaikan studinya sebagai mahasiswa jurusan Film di Binus International.

Diawali dengan close-up shot berbagai street food dan orang – orang yang sibuk berlalu – lalang membeli jualan para pedagang, cukup berhasil dibawa sutradara untuk menyampaikan suasana yang mendukung dari Ngabuburit itu sendiri.

Film ini bercerita mengenai sepasang suami istri yang sedang berdiskusi sambil menunggu berbuka puasa. Kondisi kehidupan sepasang suami istri ini tidak bisa dikatakan mapan. Hal ini bisa terlihat dari omongan sang istri yang masih membandingkan apa yang dimilikinya dengan orang lain. Hal ini juga diperkuat dengan tuntutan sang istri yang minta dibelikan barang mewah oleh sang suami hanya untuk naik strata dan dilirik oleh tetangga – tetangganya. Dari raut wajah serta cara bicaranya, memperlihatkan bahwa seolah hanya itu yang penting di hidupnya. Indomie yang dimasak untuk makanan buka puasa mereka juga, adalah tipikal makanan 101 yang dimakan oleh para anak kost saat sedang mengalami krisis keuangan di akhir bulan.

Peran sang istri sebagai ibu rumah tangga cukup berhasil dibawa oleh Tiara Anggraini. Terlihat dari penampilannya yang hanya memakai daster, rambut yang dijepit ala kadarnya, serta kegiatan masak-memasak yang terjadi di dapur. Peran Betet Kunamsinam sebagai bapak juga sukses mendukung suasana yang terjadi. Terlihat dari penampilannya yang tidak mengenakan sehelai baju, boxer rumahan, dan kondisi fisiknya yang tambun serta gerak – gerik nya yaitu menggaruk – garuk perut sambil duduk mengampar di lantai, memperlihatkan bahwa ia sedang tidak sibuk dan ingin bersantai manja di rumah bersama sang istri. Untuk keprofesian dari sang suami, tidak terlalu jelas digambarkan oleh sang sutradara.

Dalam film ini, sepasang suami istri tersebut membicarakan mengenai mudik saat Lebaran nanti. Mudik sendiri juga sudah menjadi budaya di Indonesia, yaitu waktu saat kita pulang untuk mengunjungi orang-tua kita setelah pergi merantau jauh atau sudah berkeluarga. Biasanya istilah mudik dipakai pada saat Lebaran ketika orang – orang, keluarga, dan sanak saudara saling bertemu untuk saling memaafkan.

Film ini banyak menyinggung mengenai budaya mudik yang masih dianggap oleh sebagian orang sebagai formalitas belaka agar tidak melanggar budaya, bukan untuk melepas rindu bersama orang – orang terdekat. Ritual mudik ini pun , seiring berjalannya waktu, mengalami distorsi perubahan budaya dan maknanya menjadi kurang mendalam. Hal ini bisa disebabkan karena era globalisasi yang mewajibkan kita untuk sibuk pada urusan individu. Dari keadaan ini, maka kita bisa dikatakan sedang mengalami sindrom formalitas, baik dalam hal sosio-kultural kemasyarakatan, penyelenggaraan ritual keagamaan, dan kegiatan interaksi antar budaya. Maka tidak salah jika kondisi ini dapat disebut sebagai pencitraan.

Pada akhirnya, film pendek “Waiting For Iftar” atau yang biasa dikenal dengan “Ngabuburit”, menunjukkan bagaimana sosial dapat mempengaruhi tindakan – tindakan kita. Masa era-globalisasi yang memaksa kita untuk mager dan hanya fokus kepada kehidupan pribadi, membuat nilai budaya yang sudah ada menjadi kosong akan makna. Beragam perubahan kemajuan yang terjadi di sekitar kita, baik dalam hal teknologi, pendidikan, dan budaya membuat kita gelap mata akan sesuatu hal yang baru agar tidak di cap katro atau ketinggalan zaman. Hal ini tidak secara langsung, membentuk kasta – kasta sosial di masyarakat. Maka dari itu, kita sebagai tersangka dan saksi dari era globalisasi, sebaiknya pandai – pandai dalam menghadapi situasi ini, agar bisa menjalaninya secara cerdas dan bijaksana.

Author: Arliza Nathania

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *