Notulensi: Diskusi Lewat Djam Malam

Lewat Djam Malam (1954) merupakan film Indonesia karya Usmar Ismail yang menjadi film Indonesia pertama yang di-restorasi dan diputar di Cannes Film Festival tahun 2012. Menceritakan situasi pada saat pasca kemerdekaan di mana Indonesia terutama Kota Bandung memberlakukan batas jam malam, film ini mengisahkan seorang pejuang kemerdekaan bernama Iskandar (A. N. Alcaff). Setelah kemerdekaan Iskandar ingin memulai hidup yang baru bersama tunangannya, Norma (Netty Herawati). Iskandar pun mencoba melakukan pekerjaan di luar dunia ketentaraan namun Ia mengalami masalah dan merasa kurang cocok sehingga pada akhirnya ia pun dipecat. Keadaan tersebut yang membuatnya kembali menghubungi teman-teman lamanya saat berjuang dulu. Ia bermaksud meminta bantuan dalam mencari pekerjaan yang baru. Namun pertemuannya dengan Gunawan, mantan atasannya dulu, ternyata membuka permasalahan baru. Gunawan telah menjadi seorang pengusaha besar. Namun ternyata modal usahanya adalah hasil merampas harta seorang perempuan yang mati ditembak oleh Iskandar atas perintah Gunawan. Dalam situasi tersebut Iskandar pun marah atas perbuatan Gunawan dan bersama Puja (Bambang Hertanto) kawan seperjuangannya dulu,  memutuskan untuk melakukan tindak penegakkan keadilan. Pada suatu malam, Iskandar menodongkan pistol kepada Gunawan dan menarik pelatuknya tanpa benar-benar ia sadari. Waktu pun berlalu, Iskandar pun gelisah karena telah melakukan pembunuhan terhadap Gunawan. Iskandar berusaha bersembunyi dan bersikap biasa atas berita pembunuhan itu, Sayangnya ia tetap mendapat masalah ketika Ia melanggar batas jam malam. Ia pun ditembak karena melanggar jam malam dan kabur saat akan ditangkap polisi militer ketika itu.

Bioskop Kampus LFM ITB memutarkan film ini pada tanggal 7 Oktober 2016 dengan diskusi dihadiri oleh Gorivana Ageza (Echa) sebagai perwakilan dari komunitas Bahasinema dan Fauzan Makarim (Fauzan) sebagai Menteri Advokasi Kebijakan Kampus ITB. Diskusi dimoderatori oleh Mochammad Nandradi Toyib.

DISKUSI

Toyib (Moderator): (Menanyakan pendapat Narasumber)

Gorivana Ageza (narasumber, Pendiri Bahasinema): Film yang sangat luar biasa, sangat relevan terkait bagaimana kebijakan negara mengenai jam malam pada saat itu.

Fauzan (narasumber, Menteri Advokasi Kebijakan Kampus ITB): Opini saya, saya sangat bersyukur jam malam di ITB tidak seketat saat dulu.

Yustinus: Filmnya buat saya sendiri terlalu emosional, menonton film ini layaknya menonton film bicycle thief yang tidak ada penyelesaiannya. Selingan di tengah-tengah film tersebut juga satir. Usmar memasukkan masalah yang sangat getir-getirnya pada waktu itu ke dalam perfilman Indonesia. Selain itu juga sebagai penanda kemerdekaan Indonesia bukanlah sesuatu yang main-main. Film ini juga sangat menggambarkan Neorealisme Itali yang ditunjukkan dengan kemewahan pada jaman itu. Kota Bandung jadi cikal bakal yamg baik untuk perfilman Indonesia. Karya Usmar Ismail ini sangat pantas menjadi film pertama restorasi Indonesia yang akhirnya masih bisa kita tonton sampai sekarang.

Farraz: Responnya sama, film ini keren banget. Saya pengen sharing, jadi saya pengen banget ngebaca film ini. Dari judulnya juga sangat provokatif, untuk saat dulu bahkan sampe sekarang. Film ini tetap relevan walaupun untuk saat-saat sekarang, pasca kemerdekaan musuh kita makin tidak keliatan. Dalam film ini terlihat tiga dosa utama manusia, harta, wanita, takhta. Terus film ini juga menceritakan banyak situasi, saat malam ada mereka yang berpesta tapi ada juga yang tidak bisa tidur walaupun pasca kemerdekaan.

Toyib: (Menanyakan tanggapan Narasumber)

Gorivana Ageza: Di tahun ‘50an setelah peristiwa bandung lautan api kota tersebut menjadi tidak kondusif. Pejuang-pejuang pada saat itu banyak yang masuk ABRI (sebutan tentara pada waktu itu), tapi tidak semua diterima. Karena itu pejuang-pejuang tersebut pada waktu itu malah melakukan tindakan kejahatan. Lebih dari 50 tahun permasalah ini masih ada saja mengingat tahun 2014 kembali diadakan jam malam oleh pemerintah kota yang bertujuan untuk menjaga keamanan warga.

Fauzan: Jam malam di ITB kan 11 malam, kebijakan ini layaknya pisau bermata dua. Pertama untuk alasan keamanan. Tetapi selain mengamankan, banyak juga mahasiswa yang jadi merasa terbatasi karena kebijakan tersebut..

Anonim: Mengenai film tersebut, Usmar membawa sensualitas Hollywood namun dengan kearifan lokal, seperti berkebaya yang sunda banget. Terlihat ini adalah kemenarikan yang lebih. Setelah diputar bagaimana tanggapan pemerintah dan masyarakat mengenai hal tersebut? Mengingat jika ditayangkan di berbagai stasiun sekarang pasti di sensor.

Gorivana Ageza: Aku sendiri gatau, tapi aku pikir jaman itu gada sensor2. Dan pada film ini, sosok Laila ternyata juga mengalami perkara transisi. Seperti Iskandar pejuang yang tidak dapat tidur di kasur bersih pasca kemerdekaan, Laila, yang berasal dari daerah, membaca majalah Life dan ingin menjadi perempuan modern seperti Norma. Ia mengalami kegamangan.dalam perkara transisi itu,

Zacky: Di sekitar kita banyak yang mengalami mental illness, yang kadang dilupakan oleh kebanyakan orang. Saya harap banyak orang yang aware dan lebih peduli mengenai masalah ini setelah menonton film ini.

Gorivana Ageza: Mengenai mental illness, Zacky udah bilang awareness mengenai hal itu. Kadang2 kita ga sadar mengenai mentall illness. Contoh pada film Iskandar merasa dengan membunuh Gunawan, Ia menegakan keadilan. Kita bisa lihat penegakan keadilan kadang menggunakan kekerasan.

Fahmi: Saya mau mengomentari sedikit ya, film ini seperti kapsul waktu. Permasalahan yang masih saja terjadi sampai sekarang, bukan hanya masalah jam malam tapi mengenai permasalahan sosial juga. Sosial yang berstrata tinggi berpesta dengan kemewahan, sedangkan orang-orang yang menari adat di taman-taman merupakan strata sosial yang lebih rendah. Seperti yang saya tau dari keluarga saya, dulu mereka yang berpendidikan tinggi memiliki gaya ke eropa2an.

Fauzan: Seperti dalam kampus juga ada pembagian “kasta”, kasta aktivis, akademis, dan mereka yang langsung pulang. Masalah jam malam ini sangat berpengaruh pada kasta aktivis. Pembagian kasta pasti selalu ada di dalam kehidupan, masa lalu maupun kampus.

Zurya: Penasaran mengapa yang di restorasi film ini? Mengapa film ini? Selain itu saya merasa mungkin yang kita anggap komedi pada film ini sebenarnya bukan dimaksudkan sebagai komedi. Mungkin sekarang anggapan mengenai film ini telah bergeser.

Gorivana Ageza: Singapore National Museum pada waktu itu sedang mencari film Indonesia yang bisa direstorasi. Kemudian karena film ini merupakan salah satu film terbaik Indonesia hasil rekomendasi dari salah satu kritikus film Indonesia.

Anonim: Saya berterimakasih untuk yang buat acara ini karena saya jauh-jauh datang dari universitas lain dan filmnya pun sangat worth it. Gaya menyampaikan unek-unek menurut saya jarang banget di Indonesia. Trend shifting di Indonesia harus happy ending atau harus bikin sekuel yang jadi agak maksa. Menurut saya film di indonesia harus mulai banyak film-film indie yang beda.

Dhendi: Pengetahuan saya dikit dan film hasil restorasi yang saya tonton baru  film ini dan film Tiga Dara. Saya penasaran apakah style film di asia seperti ini pendekatan nya? Mainstream ga film ini? Menurut saya masalah dark comedy, mengapa kebanyakan pada tertawa saat menonton film ini karena facial expression yang theatrical, seperti misalnya ketika bernyanyi.

Ray: Ini film restorasi pertama yang saya tonton. Mau nanya, kita sebagai apresiator film, kita menempatkan diri kita sebagai apa? Saya suka mengenai peralihan dari satu scene ke scene lain pada film ini. Seperti di akhir film, saat Iskandar berlari. Peralihan scene kaki ketika dia berlari kemudian ketika ia dikejar.

Gorivana Ageza: Si pejuang yang telah lama pergi ini, hanya bisa pulang ke rumah kekasihnya. Seperti pada scene terakhir ia merasa norma yang loyal pada nya. Sehingga pulang baginya bukan lagi masalah bangunan tapi siapa tempatnya pulang. Untuk penempatan diri, film bersifat dua arah. Seperti film superhero memberikan film yang mengeluarkan manusia sejenak dari permasalahan hidupnya. Neorealisme itali mau memberikan refleksi mengenai gambaran situasi saat itu. Usmar pada tahun ’54 juga memproduksi Tiga Dara. Rumah produksi nya terguncang perekonomiannya pada waktu itu. Sehingga Tiga Dara lebih menghibur untuk pasar perfilman.  Usmar juga punya latar belakang sastra teatrikal dan kedokteran hewan. Sempat berkuliah ke Amerika untuk belajar sastra teatrikal. Pada zaman itu nuansa teatrikal kuat karena tahun itu masih awal-awal kemunculan film. Apresiator bebas penempatannya tergantung kita sendiri mau mengapresiasi nya seperti apa. Film hadir untuk mengapresiasi seni secara demokratis.

Yustinus: Jika dibilang Indonesia sukanya film hollywood, tidak bisa di ilang begitu juga karena buktinya kalian datang ke sini menonton film ini.

Anonim: Usmar teater banget, menanggapi Laila tadi saya mau mengampaikan bahwa revolusi masih dipertanyakan. Film ini membuat saya mempertanyakan mengenai revolusi. Laila karakter yang sangat menyentil dalam film ini masalah revolusi.

Fauzan:  saya merasa takjub bahwa film bisa membawa saya ke jaman itu. Saya berpikir jika universitas-universitas lain atau ITB membuat film, mungkin 50 tahun ke depan bisa memjadi sebuah time capsule. Jika saat sekarang bisa dibuat film maka bisa memberikan sejarah yang lebih baik untuk ke depannya.

Gorivana Ageza: Ketika teknologi belum maju film-film dulu bisa sangat menyentil. Ironis ketika teknologi telah maju sekarang, film jadi sentil teknologi saja. Film Indonesia hari-hari ini terpengaruh film luar. Amat sayang naskah film sekarang seperti banyak template-nya. Atau film-film yang sekarang banyak ditonton remaja-remaja Indonesia yang tidak tahu mengangkat realitas kehidupan siapa. Semoga benar kata Fauzan film sekarang dapat menjadi film yang memberikan sejarah situasi pada saat itu dengan lebih baik untuk ke depannya.

Film Lewat Djam Malam merupakan film yang berhasil menggambarkan situasi pasca kemerdekaan dan mampu memberikan gambaran visual sejarah Indonesia tahun 50’an. Sangat menarik mengetahui bagaimana keadaan Indonesia pasca kemerdekaan yang berbeda dari bayangan. Diberlakukannya peraturan mengenai jam malam menggambarkan ketidaknyamanan masyarakat yang harus mematuhi peraturan tesebut walaupun Indonesia telah merdeka. Bukan hanya itu, para pejuang kemerdekaan yang telah berjuang demi bangsa Indonesia ternyata mengalami banyak kesulitan pasca kemerdekaan. Hal itu membuat mereka memilih untuk melakukan pekerjaan yang tidak jujur, kotor, dan hanya menguntungkan diri mereka sendiri. Tidak disangka permasalahan yang kurang lebih 50 tahun yang lalu dialami oleh bangsa Indonesia masih terjadi hingga sekarang. Masyarakat belum sepenuhnya “merdeka”. Pejuang bangsa masih ada yang melakukan pekerjaan “tidak jujur” yang menguntungkan dirinya sendiri. Lewat Djam Malam telah membukakan pemikiran mengenai hal-hal tersebut.

 

Author: Anisa Natalia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *