Notulensi Ngopi: The Witch

Acara Ngopi Selasar yang berlangsung pada hari Rabu, 9 November 2016 ini memutarkan film horror yang cukup fenomenal, yaitu The Witch (2015). Selain dihadiri para kru, ngopi selasar kali ini juga mengundang cakru untuk ikut menonton dan berdiskusi bersama. Diskusi dimoderatori oleh Christopher Fernaldy K.

The Witch (2015) merupakan film horror karya sutradara Robert Eggers. Berlatar di New England pada abad ke-17. Menceritakan tentang sebuah keluarga Puritan yang tinggal di tepi hutan, keluarga tersebut merupakan satu-satunya yang tinggal disana. Ketika bayi mereka hilang secara misterius, dimulailah kejadian-kejadian janggal dan gaib hingga memecah belah keluarga mereka.

 

Diskusi

 

Vicky : Film yang gelap secara apapun. Karena untuk apa ‘dia’ membunuh keluarga itu.

Toyib :

Film yang unik karena gak kayak film-film horror lainnya yang cenderung banyak jumpscare. Kita  gak bisa lihat hantunya dan mereka pun juga gak bisa lihat. Trus untuk settingnya dan pemakaian bahasanya sesuai sama masa itu. Ditambah dengan keadaan mereka yang seakan akan terisolasi. Dan pemahaman kalo melakukan kesalahan/dosa langsung menyatakan kalo dia witch.

Di akhir film yang scene Thomasin kayak mencari sesuatu, kayak menceritakan tentang orang yang ngebunuh-bunuhin itu sebenarnya ngapain. Beberapa yang terbang – terbang itu kayak menunjukkan bahwa gak cuma keluarga mereka aja yang kena religious madness. Dan hal itu untuk menarik cewe-cewe dari keluarga tersebut jadi witch.

Kester (Moderator) :

Film ini penuh dengan symbol, contohnya gagak. Tapi antagonisnya si kambingnya, karena secara sihir, kambing erat kaitannya sama satan. Selain kambing, juga gagak.

Untuk melakukan hal magis, mereka butuh semacam salep. Salep itu berasal dari darah bayi dan isi perutnya. Seperti salah satu scene pas bayinya diambil sama witch, kemudian si witchnya keliatan seperti menumbuk dan mengoleskan sesuatu di badannya.

Trus selain itu, ada scene dimana susu kambing berubah jadi darah saat diperah sama Thomasin. Hal ini karena penyihir kalau minum susu, mereka akan memerah susu yang seketika menjadi darah dan yg memerah itu adalah perantaranya.

Momen dimana Caleb muntahin apple. Apple itu symbol dosa. Cukup merepresentasikan mereka sebagai katolik yang saleh tapi mereka juga gak luput dari dosa.

Nabilah Z :

Setelah Caleb hilang di hutan kemudian dibalikin lagi. Mungkin aja seolah – olah dia kabur atau teknik dia biar propaganda gitu supaya keluarganya gak percaya

Dinda :

Dengan dibalikinnya Caleb jadi keliatan gitu buruk-buruknya keluarga itu. Mungkin selain bayinya digunakan sebagai salep, tp juga sebagai bait buat keluarganya. Dengan dia menghilangkan si bayi, jadinya bapaknya dan anaknya (Caleb) itu harus masuk ke hutan untuk cari, karena dikira yang ngebunuh serigala.

Amus :

Menurut gue grand plannya itu Thomasin, Karena semua kematian itu selalu berhubungan sama Thomasin.

Farraz :

Witch ini gak selalu witchcraft gitu. Pemerintah di negara barat zaman dulu gasuka sama feminist. Jd pemerintah itu nyari orang-orang feminist ini dan ngefitnah mereka. Kaitannya erat dengan sejarah, karena witch gak selalu hal yang supranatural tapi juga perjuangan feminist.

Obe :

Film ini mampu mendobrak iman dan takwa. Mempermainkan kepercayaan yang ada atau gaada di depan mata. Menariknya nama Thomasin, karena Thomas ini rasul di alkitab yang gak percaya akan kebangkitan Yesus. Dari konflik – konfliknya, mulai yang pertama bayinya hilang, sampe akhirnya Caleb kayak kesurupan dan seolah-olah diangkat ke surge. Tapi di akhir dia ngasih buku ke ibunya. Yang jadi pertanyaan, sebenarnya Caleb itu ke surga atau ke neraka?

Ketakutan katolik pada masa itu adalah sangat takut sama dosa. Hal itu bikin orang lebih takut dosa dibandingkan dengan berbuat baik. Dari semua karakternya yang selalu mohon ampun dan sangat takut dosa, kemudian yang agak berbeda dengan mereka adalah Thomasin. Thomasin paling terlihat ‘manusia’, yang pada akhirnya dia gak banyak berdoa dibandingkan yang lain.

Kester (Moderator):

Ada kemungkinan di film ini, gangguan dan konflik ini bukan peran siapa-siapa atau dengan kata lain tidak ada yang jadi witch. Pada scene dimana jagung yang mereka tanam menjadi mati, sebenarnya ada jenis jamur yang bisa menginfeksi jagung dan membuat halusinasi. Atau bisa jadi ini hanya ketakutan bapaknya karena belum membaptis Samuel (bayi). Pada akhirnya gak ada batasan jelas mana yang nyata dan gak nyata kembali ke interpretasi dari penontonnya.

Film The Witch mungkin menimbulkan tanda tanya banyak bagi yang menontonnya, namun diskusi yang dilaksanakan di akhir film sangat menjawab kebingungan para penonton Ngopi Selasar. Film ini cukup erat kaitannya dengan sejarah serta pesan-pesan yang disampaikan secara implisit. Sekaligus menambah pengetahuan  bagi para kru dan cakru LFM yang hadir.

Author: rifdahyt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *