NOTULENSI V-NITE X NGOPI : ON THE ORIGIN OF FEAR

Pada hari Selasa, 24 Januari 2017 yang lalu. LFM ITB memutarkan film pendek yang menarik dan sayang untuk dilewatkan bagi kru LFM ITB: karya Bayu Prihantono Filemon berjudul On The Origin Of Fear. Diskusi dimoderatori oleh Permata Adinda Priyadi (Dinda) dan Mohammad Nurfariza Ilahude (Trojan).

Film debut Bayu Prihantoro sebagai sutradara ini sudah pernah ditayangkan di berbagai ajang kompetisi dan festival film seperti 11th Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016, Venice International Film Festival 2016, Toronto International Film Festival 2016, dan Busan International Film Festival 2016.  Bayu Prihantoro sendiri sebelumnya pernah terlibat sebagai seorang sinematografer di banyak film seperti: Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya, Istirahatlah Kata-Kata, dan Kisah Cinta yang Asu.

Film On the Origin of Fear adalah film pendek sederhana tentang seorang pengisi suara (dubber) yang memerankan korban sekaligus pelaku pada saat yang bersamaan. Film ini lahir dari rasa trauma sang sutradara saat melihat adegan kekerasan di bagian penyiksaan para jenderal TNI yang ada dalam film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C Noer, dimana pada masa Orde Baru menjadi film yang wajib ditonton setiap 30 September, setiap tahun.

Diskusi

Dinda (moderator) : (menanyakan tanggapan dari penonton)

Utari: Pertama kali menonton film yang tipikalnya audio jadi lebih ngeri sendiri waktu membayangkan adegan aslinya di film Pengkhianatan G30S/PKI. Makin lama makin intens. Adegan terakhir yang mata berdarah jadi makin menguatkan bayangan akan torture-nya.

Tayo: Dari film Pengkhianatan G30S/PKI terlihat kalau hatred kepada PKI sangat dipertahankan. Padahal sebenarnya sejarah tidak begitu. Gue jadi mikir apa emang Indonesia dari zaman dahulu udah bumbu ya? Lalu yang disukai dari film ini adalah, Bayu sebagai sutradara berhasil membuat suasana terasa nyata. Tidak perlu ribet memainkan visual secara eksplisit. Modal suara dan ekspresi saja.

Dinda: Suara dari pemain yang depresi saat proses dubbing adegan menciptakan ketegangan bagi penonton. Dalam film ini, Bayu cukup hemat dalam membuat plot dan tidak banyak memanfaatkan elemen – elemen. Justru itulah kekuatan dalam film pendek. Dimana film berdurasi panjang tidak bisa selalu sama formulanya dengan film pendek.

Daffa: Konflik dalam film ini dibuat pendek justru untuk lebih menunjukkan kuatnya pesan.

Petet: Kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh penyiksa dan korban. Semakin lama tone suara berubah dari yang tadinya bernada tinggi sampai nada merintih kesakitan dan memohon ampun.

Trojan: Seperti saat harus mengekspresikan suara orang yang sedang diinjak, sang pemain benar – benar mengeluarkan suara yang semirip mungkin dengan aslinya.

Elba: Yang menarik dari film ini adalah cara menyampaikan premis yang dibuat secara simple dan lebih padat. Sutradara berhasil menyampaikan rasa trauma lewat penekanan intonasi suara melalui teriakan berulang kali dengan intensitas yang terus meningkat dan pengulangan shoot. Premis diolah menjadi sebuah sensasi baru melalui kekuatan audio. Teknik visual digunakan untuk menaikkan tensi penonton melalui movement shoot, seperti menggoyang-goyangkan kamera, atau pergerakan kamera yang mengikuti shoot kaki pelaku yang menginjak korban. Shoot lampu yang berbuah dari merah menjadi biru membawa penonton ke aspek emosi daripada rasional, jadi lebih terasa traumanya. Di akhir film juga terlihat bahwa dibalik trauma orde baru juga ada rekayasa dari sutradara pembuat film.

Dinda: Dengan sakit yang sedemikian rupa akhirnya terlihat itu semua adalah rekayasa. Aktor seakan-akan tersiksa untuk menghayati. Menariknya lagi kalau dari awal film tidak diberitahu film ini adalah film fiksi, bagi sebagian orang yang pertama kali menonton On the Origin Of Fear mungkin akan menganggap film ini merupakan sebuah dokumenter karena yang menunjukkan behind the scene film Pengkhianatan G30S/PKI.

Alya Jahe: Feel-nya semakin terbangun saat klimaks di bagian terakhir film.

Trojan: Saat setengah bagian terakhir dari film, suara makin keras, scoring, visual membuat penonton menahan napas. Benar – benar stressful.

Anggi Ruth: Ternyata melalui audo saja dalam film ini lebih bisa memberi makna.

Afif: Dahulu tiap 30 September film Pengkhianatan G30S/PKI diputar agar semakin benci dengan PKI dan isu – isu tentang paham komunis. Film pun direkayasa menjadi sebuah doktrin selama rezim Soeharto agar orang – orang percaya.

Toyib: Film ini adalah film rekayasa ulang dibalik film asli Pengkhianatan G30S/PKI yang menjadi sejarah kelam Indonesia. Apakah ‘bumbu’ perlu sampai sesadis itu?

Farraz: Film ini adalah sebuah terobosan baru. Sempat membaca buku berjudul Kekerasan Budaya Pasca 1965, media dipakai pemerintah untuk membuat opini publik. Sehingga jika membandingkan dengan film Pengkhiatan G30S/PKI yang asli, proses produksinya agak dipaksakan. On the Origin of Fear adalah sebuah demonstrasi dari apa yang diceritakan di buku tersebut.

On the Origin Of Fear berhasil memanfaatkan audio sebagai elemen yang menjadi kekuatan dalam film ini, membuat penontonnya larut dalam emosi dan imajinasi tentang rasa traumatik yang dirasakan setelah menonton film propaganda Pengkhianatan G30S/PKI. Tidak hanya itu, film ini menunjukkan bahwa rasa trauma dan kebencian akan sesuatu bisa direkayasa, dalam hal ini PKI dan komunis. Sejarah yang ada sekarang mungkin sudah banyak modifikasi di sana – sini. Film ini berani mengangkat isu sensitif tanpa makin membumbui dan menimbulkan kontroversi.

Author: mayanglrst

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *