Resensi Film : Dunkirk

Setelah sukses dengan film sci-fi Interstellar, Christoper Nolan kembali tampil dengan film anyar terbarunya yaitu Dunkirk. Film ini merupakan film yang berdasarkan peristiwa nyata Perang Dunia Kedua

Pada tahun 1940, Tentara Sekutu dipukul mundur dan terjebak di kota Dunkirk, pantai utara Perancis. Mereka terjebak dan memiliki satu misi yaitu bertahan hidup sampai mereka pulang. Tidak seperti film sejarah pada umumnya yang linier dan mudah diikuti alurnya, Dunkirk dibagi menjadi tiga sudut pandang cerita: di tanggul, di laut, dan di udara. Masing- masing memiliki durasi waktu yang berbeda: 1 minggu, 1 hari, dan 1 jam yang diceritakan secara bersamaan dalam film ini.

Sekutu yang digambarkan oleh enam tentara, terjebak di sebuah kota “mati” yang dikepung oleh luasnya laut didepan mata dan serangan tentara musuh di belakang. Setting tempat di sebuah kota dan suasana sepi tanpa penduduk sipil menggambarkan akibat perang di daerah Dunkirk. Sedangkan, cerita yang sama tentang peristiwa Dunkirk tapi dari sudut pandangmasyarakat sipil yang tergerak hatinya untuk menyebrangkan tentara sekutu dari Dunkirk. Menurut sejarah, hanya kapal- kapal kecil yang bisa melintasi laut itu karena dangkal dan penuh karang dan sebagai penyamaran agar tidak diketahui pihak musuh. Yang terakhir, menceritakan pilot pesawat tempur yang berjuang selama satu jam di udara untuk melindungi tentara yang menyebrang dari Dunkirk, sedangkan ia harus memperhitungkan dirinya dengan jumlah bensin yang pas-pasan.

Dari segi cerita, sejarah tentara Sekutu ini bisa dibilang tidak semenarik cerita Perang Dunia Kedua yang pernah diangkat menjadi film. Inti cerita ini cukup sederhana, yaitu perjuangan untuk “menyebrang” ke rumah. Film-film tentang perang yang sering ditayangkan pasti menunjukan pertempuran dan aksi heroik tentara Sekutu mengalahkan musuh (tentara Nazi) seperti Saving Private Ryan, Patton, Casablanca, dan lain-lain. Hal tadilah yang menjadi daya tarik masyarakat umum untuk ditonton dan dibicarakan. Nolan mengangkat cerita yang sederhana, tanpa ada tokoh yang diceritakan. Tapi, peristiwa ini bisa disulap oleh Nolan menjadi film yang tidak biasa.

Hal yang saya paling apresiasi di film ini tentu saja ide Christopher Nolan untuk bercerita dengan gaya yang sangat unik. Nolan menampilkan peristiwa yang cukup sederhana ini menjadi ketiga cerita yang bisa saling beririsan. Alokasi waktu yang berbeda- beda tidak menjadi masalah bagi Nolan untuk mengaitkan ketiga sudut pandang itu menjadi tiga cerita yang saling menceritakan. Contohnya, saat teman pilot Farrier(Tom Hardy) harus terpaksa tidak bisa mengudara dan harus mendarat di laut. Jika dari sudut pandang Farrier, pilot yang mendarat tampak tidak mengalami masalah berarti. Ternyata sebenarnya dia terperangkap dikursi pilot dan ikut tenggelam bersama pesawat tempurnya. Hal ini terungkap dari sudut pandang masyarakat sipil yang sedang menuju Dunkirk di yacht mereka. Itulah hal- hal yang membuat film ini berbeda.

, entah kenapa saya merasakan selama menonton adalah jenuh setelah memasuki babak pertengahan film. Pola cerita yang intens, berputar dengan rumitnya, dan dengan tempo yang sangat cepat membuat penonton harus bisa mengikuti tempo film untuk menikmatinya. Coba saja Nolan memberikan space kepada penonton seperti perubahan pace dan penekanan satu alur yang lebih mendetail dibanding yang lain. Itu akan sangat berguna untuk mencerna dan merasakan mood dari film ini, serta memberi kesan penonton terhadap situasi Dunkirk saat perang.

Dunkirk bagus untuk ditonton dan diikuti karena film ini berhasil memberikan terobosan baru berkat ide cemerlang Christopher Nolan dalam gaya berceritanya. Dia juga mampu membuat penonton merasakan perjuangan semua tentara Sekutu untuk “pulang” dari Dunkirk. Namun saya tidak merekomendasikan untuk penonton yang mencari alur yang santai dan melihat pejuang favoritnya berhasil meemberantas musuh dengan nuansa heroik dan dramatik, karena film menampilkan peristiwa bukan tokoh.

mm

Author: Johanes Deninov

Nama asli Johanes Deninov, biasa dipanggil Denijoh. Merantau dari Tangerang ke Bandung, berkuliah di ITB Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. Mulai suka film dari dulu, tapi mulai serius mengapresiasi film semenjak masuk LFM ITB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *