Resensi FIlm Susah Sinyal (2017)

Let’s start. Oiya, Spoiler Alert.

 

Menurut gw sih, dia mencoba mengkritik melalui sisi yang berbeda. Ketika denger teknologi dan keluarga ya otomatis gw mikir ni film bakal mencapai solusi melalui kedua sisi berhenti make teknologi untuk sejenak ya ga?

 

Bentar-bentar, mulai dari sinopsis dulu kaleeee~ Mulai darimana nih kul?

 

Mari kita ceritakan apa yang kita tonton. Silahkan reza.

 

Okay, Susah Sinyal (2017) merupakan film kedua Ernest yang gue tonton. Drama akhir tahun ini masih bergerak di topik utama keluarga masa kini. Sebuah keluarga yang terdiri dari Ibu dan Anak, pergi ke Sumba (tempat paling hits 2017, #visitindonesia2017) setelah mengalami reality check pasca peristiwa besar yang terjadi, berharap mereka bisa rebound dan move on dengan kehidupannya.

 

Kayaknya ernest emang suka dengan topik ini ya. Orang tua dan anak yang beda generasi walau kali ini ga sejauh dulu. Oiya, Ernest dan Meira Anastasia. Mereka berdualah penulis naskah Cek Toko Sebelah (2016) daaan Susah Sinyal yang sekarang kita bahas. Menurut gw sih mereka tau banget apa yang penonton saat ini sukai ketika ada sebuah film yang berusaha memberi pesan moral. Engga cringey ataupun annoying kaku jadul tapi ya sesuai dengan momen saat ini. Dialog-dialog dalam film ini kerasa banget natural dan sering gw denger bahkan pakai di kehidupan sehari-hari sehingga makin meresep dan jlebb….

 

Satu hal yang gue sangat suka dari Susah Sinyal (2017) dan Cek Toko Sebelah (2016) adalah kedua film ini terkesan tidak menggurui dan memaksa penonton untuk menjudge dirinya sendiri bahwa kehidupan berkeluarga itu sepantasnya seperti apa. Menurut gue juga, penulisan film ini benar-benar bagus banget, dan asumsi gue sih film ini telah melalui riset yang cukup panjang, gak cuma curcol penulis tanpa landasan teoritis yang mumpuni. Penurunan cerita melalui pendalaman karakter benar-benar disampaikan secara harmonis antar satu karakter dengan karakter yang lain, sehingga meskipun terdapat scenes yang cukup Tersanjung 101, gue gak mengernyitkan dahi sedikitpun, terasa bahwa it was necessary.

 

Gw gatau sih film pertama ernest sebagai sutradara kaya gimana (Ngenest, 2015) tapi gw rasa membahas CTS dan SS dalam review ini memang layak dilakukan. Menjadi semacam titik penentuan apakah Ernest sebagai sutradara ini cuman coba-coba jual apapun yang dia punya di gudang dengan ngajak temen-temen Stand Up Comedy-nya untuk mejeng dengan ngangkat cerita dangkal tanpa tujuan atau memang dia punya tujuan yang lebih mulia dalam perjalanannya sebagai sutradara ini. Well, di titik ini sih gw sudah bisa memastikan akan menonton tiap film yang Ernest buat ke depannya, sejajar lah posisi doi dengan Riri Riza (walau sering dikecewakan juga). Belum banyak bahas filmnya gw udah nyimpulin duluan begini~

Although there were moments gue berdeham karena ada scenes yang kurang gue sukai, seperti contohnya saat perdebatan Guru, Anak dan Ibu soal bagaimana cara melafalkan Instagram, atau momen ketertarikan seorang Anak sekolah-internasyenel-influencer-Instagram-yang-udah-bisa-nyari-duit-dari-endorsement terhadap penjaga hotel di rural area yang gak masuk ke akal gue dan terkesan sebagai fan service sehingga tetap muncul kesan-kesan FTV “Pacarku Tukang Ojek Ganteng”, However Ernest juga memiliki kemampuan untuk menghibur penonton seperti gue yang suka sok-sok filosofis kalau nonton film (sok-sokan lho ya, gue ga bilang gue filsuf film), seperti contohnya bagaimana Ibu dan Anak yang cukup fragmented udah pergi ke pulau buagus banget tapi yang dicari tetep sinyal internet untuk urusan duniawi melalui concall dan posting endorsement and in the end it was the thing that kickstarts the bond between the two of them, menurut gue merupakan bukti bahwa Ernest dan Istrinya bukan orang ecek-ecek yang bikin film khayalan babu seperti mereka yang terjebak di limbo penulis naskah roman picisan yang menggabungkan kondisi hidup masa kini dengan drama-drama didalamnya.

 

Eta pisan akang kaseeeeepppp! Mereka menyelesaikan masalah pasaran dengan cara yang ga pasaran klise yang ketebak tapi dari kesamaan itu. Karakter si anak yang eca sebut sekolah-internasyenel-influencer-Instagram-yang-udah-bisa-nyari-duit-dari-endorsement  pun dikuatkan dengan kelakuan dia manggil PRT-nya dengan nama Sasha padahal nama aslinya Saudoh  (Saodah kaleee) . Untunglah Kiara nggak mulai nyanyi tentang biaya dia bergaya dan kuliah bukan duit orang tua karena dia lulus sekolah ga mau manja. Oh dan gw sangat appreciate product placement halus di film ini loh. Pasca nonton Posesif (2017) dan Chrisye (2017) gw jadi Trauma kaya Charlie dengan product placement yang kelewatan. Film ini mengakali kebutuhan iklannya dengan naro iklan plek di awal banget film dan shot shot yang memuat produk walau jelas tapi dipojok dan ga ganggu atensi manusia konsumtif ini sih.

 

Bentar, nyalain rokok dulu.

 

Betul, betul, intinya menurut gue, film ini bagus karena satu hal: penulisan yang mantap banget. Di awal film, kalau diperhatikan, dicantumkan bahwa terdapat konsultan ahli yang membantu pembuatan film ini, yang isinya beberapa sarjana psikologi, mungkin jadi salah satu alasan kenapa bisa thorough pembahasan di film ini. Sebaga orang yang besar darii Stand Up Comedy, jokes di film ini juga bagus deh, build up dan punchline yang ada seringkali works buat gue. Mana ada Asri Welas, gue suka banget sama ini orang wkwkw.

 

Ah iya itu juga jadi point plus film ini dibanding CTS menurut gw. Dikala CTS dibalik seluruh keindahannya menjadi momen tampil sekejap cukup banyak artis Stand Up Comedy (yang somehow bunda bisa nyebutin namanya satu-satu beserta asal kota dan cerita hidupnya lengkap), SS cukup menampilkan karakter yang dibutuhkan dan ga berlebihan. Overall, This is a good Movie! Bukan “untuk ukuran film Indonesia” sebagaimana komentator kelas menengah ngehe yang sering katakan, tapi sebagai film, walau tidak seindah Cek Toko Sebelah (2016), Susah Sinyal (2017) MEMANG BAGUS!

 

Verdict: Susah Sinyal (2017) sangat gue rekomendasikan untuk ditonton. Meski kalau disuruh memilih antara Cek Toko Sebelah (2016) dan Susah Sinyal (2017), gue akan memilih Cek Toko Sebelah (2016) because it just hits to close to home :)(. Salut banget sama Ernest dalam film-filmnya, konsistensi beliau patut diacungi jempol, and in the end, this consistency will be the one determining whether or not he, or she, is a decent filmmaker, in my own parameter. To sum up, Susah Sinyal (2017) is like a Nasi Uduk breakfast set, it’s tasty, light, and very beautiful in its own modesty.

 

Rezandhk’s out!

Kula juga.

Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *