Shame on SKAM

Sulit rasanya menemukan film tentang remaja yang cukup dekat dengan kehidupan saya. Terakhir adalah Galih dan Ratna. Setelahnya saya dikenalkan dengan SKAM, serial televisi dari Norwegian. Awalnya, saya merasakan kesenangan yang mirip-mirip sebagaimana kebanyakan orang (tertentu) rasakan. Tapi setelah dipikir-pikir, selain karena karakter Noora dan Emma (iya, Emma) yangsaya sukai secara dangkal, saya tidak punya tempat di jajaran fans SKAM yang lain ternyata.

 

Salah satu alasan SKAM begitu popular adalah realitasnya dengan kehidupan remaja kebanyakan. Saya setuju memang, realisme yang dibawa oleh SKAM melalui konten kasat matanya – pembawaan (female/male) gaze dalam close up dan gerak lambat, logat valley girl ABG yang gagap, dan interaksi tak habis-habisnya dengan gawai – cukup menarik. Khusus pada musim ketiga, penggmbaran hubungan gay Isak dan Even (kulit putih kelas atas, dengan Isak berada di dalam keluarga Katolik taat) digambarkan cukup wajar tanpa romantisasi atau malah imajinasi kelewat liar. Namun menilik lebih dalam, tidak ada bedanya dengan film-film anak SMA kebanyakan.

 

Kalaupun ada hal-hal krusial yang dapat memberikan diskursus lebih luas (wasiat “feminis” Noora, pemikiran Sana tentang Islam, gangguan makan Vilde, menyoal Even yang bipolar, isu spiritualitas Isaak),  hal tersebut malah ditampilkan hanya melalui dialog quotable (pas untuk dicomot ke Tumblr) dan lewat dalam sekejap saja. Namun, (sepertinya) karena hal tersebut SKAM dicap juga sebagai serial pro-feminis/LGBTQ atau ameliorasi lainnya. Apa benar?

 

Kita tak dapat memungkiri bahwa SKAM adalah serial Norwegia. Konteks yang berlaku adalah konteks Norwegia. Lebih sempit lagi bahkan, pada golongan kelas atas Oslo yang mampu membeli bus seharga minimal 300.000 NOK ( sekitar Rp450. 000.000,00). Konsekuensinya, diskursus feminisme yang hadir adalah soal self-image (toh tidak konsisten karena mereka masih remaja), penolakan lelaki sebagai rasionalisasi tindakan (hanya dalam kata dan pikiran), kekerasan seksual. Khusus yang terakhir, Noora sebagai korban akhirnya bungkam. Hal ini bisa dibaca sebagai kewajaran (mengingat masih anak remaja, mereka cukup gagap di depan hukum dan pengadilan) atau malah tidak feminis sama sekali. isu tersebut masih dalam Keberterimaan warganya pada LGBTQ sudah baik (dari sejarah hukumnya saja, atau secara umum, namun nyatanya homophobia masih ada dalam hati anak remaja terutama). Isu global seperti soal pengungsi (atau ini) memang ada, namun tidak dikupas lebih dalam. Bahkan alasan karakternya (Eskild dan William) “menyisihkan” sumbangan/uang mereka adalah untuk kepentingan asmara mereka. Oh, mungkin saya yang lupa kalau SKAM hanya serial anak sekolahan yang sedang jatuh cinta dan rajin rapat russefeiring. Maka “kehidupan anak sekolahan” yang “dekat” itu adalah esensialisme belaka?

 

Meskipun kadangkalan-kedangkalan di atas, musim keempat (yang baru saja mulai) ternyata cukup menarik akibat adegan dalam episode pertamanya. Adegan tersebut memperlihatkan sulitnya Sana menunaikan ibadah shalat di tengah pesta. Selain kesulitan menjaga wudhu, di tengah shalat pun ia terganggu karena ada yang masuk ke ruangan dan bersembunyi di kasur sehingga Sana keluar pelan-pelan, entah akhirnya shalatnya berjalan bagaimana. Musim keempat (sementara) menceritakan bagaimana Sana mempertahankan keyakinannya dalam konteks Norwegia sekarang. Sayang, sudah episode 4, namun belum ada tanda-tanda realita tersebut menjelma dalam mise-en-scene Oslo, sehingga konflik Sana sendiri pun belum krusial. Hal ini jadi penyakitnya di musim ketiga juga (seperti orang-orang sekitar Sana terhadap Islam, seolah semua orang oke-oke saja dengan gay. Memang ada skeptisme tapi belum sampai penolakan yang menimbulkan konflik berarti). Dunia SKAM sepertinya kelewat sempurna dan ideal untuk saya yang tinggal di Indonesia. Huft.

 

Tapi justru utopia itu yang disenangi, kan? Jangan-jangan topik-topik khusus di atas (terutama musim ketiga dan keempat) hanyalah upaya SKAM untuk dapat menembus pasar internasional? Seolah SKAM sedang mengampanyekan bentuk pergerakan sebagaimana Eva, Noora, Isaak, dan Sana lakukan sesuai dengan isu-isu identik mereka berempat pada agenda negara lain, yang tentunya punya konteksnya sendiri-sendiri. Apabila label-label pro-isme-isme telah disematkan dan dijadikan alasan selera (masalah bukan pada seleranya), bukankah itu menunjukkan betapa reduksionis dan inlandernya penonton-penonton SKAM?

mm

Author: Albertus ‘Obe’ Wida

Biasa dipanggil Obe, besar di pinggiran Jakarta, berkuliah di ITB sebagai mahasiswa fisika teknik. Mulai menaruh hati pada film sejak masuk Liga Film Mahasiswa ITB, sekarang sering hinggap ke pemutaran di sana-sini sebagai pelarian kuliah yang sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *