Catatan Forum Arkipel: Sudah Cukup Berkembangkah Komunitas Kita?

Jumat siang pada 19 Agustus 2016 yang lalu merupakan panel diskusi terakhir dalam rangkaian Festival Forum Arkipel di Goethehaus Jakarta. Dimoderatori Hafiz Rancajale, mendatangkan berbagai pegiat komunitas di Indonesia sebagai narasumber, Dimas Jayasrana (pegiat Festival Film Purbalingga), Fauzi Rahmadani (Layar Kamisan Jember),  Albert Rahman Putra (Gubuak Kopi, Solok), dan Yuli Lestari (Kineklub UMM, Malang) bercerita tentang “Komunitas dan Pengembangan Pengetahuan Sinema”.

Definisi komunitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban; yang selanjutnya dalam konteks sinema diartikan sebagai kolektif atau inisiatif dengan suatu tujuan bersama. Komunitas sinema banyak terbentuk dengan tujuan menyebarkan film dengan media pemutaran, diskusi, serta lokakarya untuk masyarakat, dalam berbagai skala mulai kelompok kecil di sekolah atau kampus hingga nasional.

Dimas menjelaskan bahwa pengetahuan sinema Indonesia dewasa ini hanya terbatas dari televisi, DVD, juga sedikit dari bioskop, dan mayoritas banyak tersebar hanya untuk masyarakat di Pulau Jawa. Komunitas sendiri berfungsi sebagai pengisi referensi-referensi perfilman yang kurang atau bahkan alpa tersebut. Di tahun 2016 ini seharusnya semakin banyak komunitas yang terbentuk dan mempermudah penyebaran film karena teknologi sudah sangat berkembang dan mendukung. Pada panel sebelumnya juga dibahas bagaimana seharusnya komunitas tidak hanya melulu mengerjakan produksi karya, tetapi juga memikirkan tentang distribusi dan penerimaannya di masyarakat.

Pada forum ini Fauzi menambahkan cerita tentang tentang target penonton komunitasnya yang berubah dari basis kampus menjadi masyarakat luas sehingga tidak ada batasan penonton dan bisa menimbulkan diskusi yang lebih menarik. Bagaimana membuat pemutaran based on issues yang penuh intimidasi dari berbagai pihak namun tetap meyakinkan komunitas dan masyarakat bahwa film-film yang ada memang layak untuk diputar. Menurut penulis, film merupakan sesuatu yang bisa mengubah sejarah dengan fakta-fakta yang diangkat. Perspektif dan sudut pandang seseorang bisa berubah akibat sebuah film. Oleh karena itu, diskusi memang perlu dilakukan agar masyarakat awam bisa lebih membuka pikirannya dengan kenyataan-kenyataan baru.

Albert menceritakan kesedihannya tentang masyarakat yang kurang sadar bahwa film-film yang ada bertujuan lebih dari sekadar memberi ‘hiburan’. Ketika dilakukan diskusi, banyak penonton yang tidak tertarik. Di sini komunitas diharapkan bisa membawakan sinema sebagai ‘teks’ yang bisa dibaca dan didiskusikan. Dukungan pemerintah juga dirasa sangat kurang, dia menilai bahwa tujuannya lebih mengarah pada pariwisata dibanding pendidikan.

Selanjutnya, Yuli menambahkan kekhawatirannya tentang pengetahuan masyarakat akan sinema di kota Malang. Para pelajar memproduksi film hanya untuk tugas sekolah, namun tidak pernah ada apresiasi dari masyarakat umum. Ketika diberi wadah festival, sekolah-sekolah sangat minim antusiasme. Padahal seharusnya pelajar-pelajar inilah yang akan membawa keberlanjutan sinema Indonesia.

Keberlangsungan komunitas tidak terlepas dari pengaruh ekonomi, namun menurut penulis hal itu tidak terlalu menjadi kendala jika ada kemauan yang berlebih. Penyebaran film, terutama film-film produksi Indonesia, bisa dilakukan dengan sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat dan ditarik donasi. Sebagai seorang mahasiswa dan anggota komunitas film, penulis berharap selanjutnya bisa berbagi banyak kepada masyarakat tentang pengetahuan sinema, bahwa sebenarnya sangat banyak film yang lebih menarik dan lebih mendidik dibanding tontonan sehari-hari di televisi komersil Indonesia. Salah satu hal yang penulis garis bawahi pada diskusi panel ini adalah kalimat ‘programmer sebagai pengamat’, artinya jika membuat suatu pemutaran, kita harus mengamati bagaimana respon penonton terhadap film sehingga selanjutnya tahu bagaimana memilih film yang sesuai dengan selera masyarakat dan topik-topik yang bisa diangkat sebagai bahan diskusi, sehingga komunitas tidak hanya berfungsi sebagai wadah pemutaran, namun juga sebagai wadah diskusi dan pendidik masyarakat tentang pengetahuan sinema.

Author: Nabilah Zuhairah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *