Tarix Jabrix : Cinta Melulu!

Pertama kali saya menonton Tarix Jabrix, saya cukup mempertanyakan mengapa filmmaker memilih The Changcuters sebagai pemeran utama dari film ini. Apakah karena The Changcuters mengalami breakthrough pada tahun yang sama dengan harapan filmnya juga mencapai commercial success dengan menjual nama mereka? Atau memang kebetulan sang filmmaker sedang mencari sekelompok orang yang bisa merepresentasikan pemuda-pemuda dengan pembawaan yang fresh dan berbeda, sehingga menjatuhkannya kepada The Changcuters? Hal inilah yang membuat saya pertama kali tertarik pada film ini, selain ketertarikan saya tentang sisi kota Bandung apa yang dibawakan oleh film ini.

Tarix Jabrix dirilis pada tahun 2008, bersamaan dengan melejitnya band representatif kota Bandung, The Changcuters, yang juga merupakan bintang utama dalam film ini. Film garapan Almarhum Iqbal Rais ini mengangkat sebuah isu yang memang diakibatkan oleh kelakuan turbulen pemuda Bandung pada saat itu, yaitu subkultur geng motor.

Isu sosial ini kemudian dipadukan dengan drama-drama klise kehidupan SMA, seperti perseteruan dua kelompok geng motor – Tarix Jabrix dan The Smokers – karena memperebutkan status quo dan cinta seorang wanita. Walaupun plot ini umum kita temukan di opera sabun layar kaca tanah air, Tarix Jabrix dikemas dengan humor ringan khas remaja Bandung yang dapat dinikmati seluruh penonton dari berbagai umur.

Tarix Jabrix dimulai dengan adegan dua pemeran utama film ini – Cacing dan Calista – berboncengan melewati jalan-jalan besar kota Bandung yang membuat saya secara tidak sadar bernostalgia tentang tempat-tempat tersebut. Kemudian kita diperkenalkan dengan sosok Valdin, anggota geng motor ‘The Smokers’ bersama dengan kakak Calista, Max. Valdin dan Max kemudian menyatakan ketidaksukaan mereka dengan kedekatan Calista dan Cacing, pentolan geng motor ‘The Tarix Jabrix’. Dari sinilah konflik-konflik antara dua geng motor tersebut berlanjut.

Isu geng motor yang dibawakan Tarix Jabrix disajikan dengan gaya satirikal, dimana geng motor Tarix Jabrix ingin menjadi geng motor yang mengajarkan perdamaian kepada geng motor yang terkenal akan kekerasannya. Hal ini digambarkan dengan mengubah stereotip geng motor yang sangar dan penuh kekerasan menjadi nyeleneh dan apa adanya, khas pembawaan personal dari band The Changcuters itu sendiri.

Sayangnya, isu geng motor disini hanya digunakan sebagai pengembangan main plot dari film ini yaitu percintaan terlarang a la Romeo dan Juliet yang terhalang oleh latar belakang kedua belah pihak dan ditambah lagi dengan perseteruan klasik antara si lemah melawan si kuat. Dengan main plot yang sebenarnya cukup basi dan tidak relatable ini, bisa dikatakan sang sutradara hanya memilih sebuah alur yang mudah untuk direalisiasikan. Karakter-karakter dalam film ini juga cukup one-dimentional dengan karakterisasi yang membosankan dan lagi-lagi identik dengan karakter-karakter di sinetron. Hal ini cukup membuat saya penasaran, apakah sang sutradara memang sengaja membuat karakternya tidak mempunyai depth karena keterbatasan kemampuan akting pemain (maklum, The Changcuters bukanlah pelakon profesional) atau memang film ini sengaja dibuat untuk mempromosikan – dan menjual nama – The Changcuters sehingga tidak memedulikan konten dan konsepnya?

Menjawab pertanyaan awal saya, saya rasa bentuk kerjasama antara Iqbal Rais dan The Changcuters ini memang menghasilkan win-win situation untuk kedua belah pihak. Di satu sisi, Iqbal Rais berhasil menarik perhatian hampir satu juta penonton yang memang pada saat itu sedang tergila-gilanya dengan sosok dan lagu The Changcuters. Dari kesuksesan ini, dibuatlah dua sekuel untuk Tarix Jabrix yang juga dibintangi oleh The Changcuters. Di sisi lain, The Changcuters berhasil mencapai mainstream success di industri musik dengan bantuan Tarix Jabrix yang melantunkan lagu-lagu ikonik mereka seperti ‘Racun’ dan ‘I Love You Bibeh’ kepada penontonnya.

Tarix Jabrix merupakan sebuah tontonan ringan yang dapat dinikmati oleh semua orang, karena memang pada akhirnya film ini ditujukan untuk menarik perhatian penonton dalam jumlah yang banyak sehingga plot dibuat agar mudah dicerna, namun sayangnya monoton. Kehadiran The Changcuters merupakan a breath of fresh air untuk film yang serba mediocre ini. Walaupun dengan usahanya untuk mengikutsertakan isu kota yang hangat pada saat itu, Tarix Jabrix masih saja berkutat dengan tetekbengek percintaan yang cenderung membahas hal yang itu-itu saja. Akhir kata, film ini untuk anda yang cinta mati pada musik dan pesona The Changcuters, namun bukan untuk orang-orang murni menonton film untuk film itu sendiri.

Author: Ayudhya Sukma Vidyaningtyas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *