Tiga Dara : Cerita Sedih Gembira

Sebelum terus kebawah, saya cuma mau bilang. Ini bukan tentang cerita Tiga Dara yang dimainkan oleh Tora Sudiro and the gank. Bukan Tiga Dara yang baru dirilis tahun 2015 kemarin. Bukan. Anda salah mengira? Sama. Saya juga awalnya salah dan tak tahu film apa yang hendak saya tonton pada siang itu.

Ini adalah cerita Tiga Dara yang diproduksi pada tahun 1956. Iya, ditahun ketika kondisi politik Indonesia masih carut-marut. Ditengah keterbatasan teknologi yang seharusnya membatasi kreativitas dan karya seni. Tetapi tidak. Usmar Ismail dengan lantang membantah statement saya dengan karyanya. Tak hanya berhasil membuat film yang menjadi ikon kisah romansa pada zamannya, film Tiga Dara juga merupakan film musikal pertama yang dirilis oleh anak bangsa. Tentu saya tak tahu tentang fakta-fakta di atas sebelum saya menonton film tersebut. Saya baru sadar ketika sang dara mulai menyanyikan lagu pertama mereka. Belum apa-apa saya sudah dibuat kaget lagi oleh film ini.

Film Tiga Dara dibuka dengan babak perkenalan. Cara pengenalan tokohnya pun sederhana. Usmar Ismail, sang sutradara, mengumpulkan semua tokohnya di ruangan yang sama untuk merayakan ulang tahun Nunung yang ke-29. Sebagai teman yang baik, Herman memberikan hadiah ulang tahun berupa sebuah tiket nonton. Hadiahnya pun sontak membuat Nana mencibir Herman yang dinilai “nggak modal”. Menanggapi kakaknya, si bungsu Neni mencoba membela Herman yang tentunya membuat sang kakak Nana mengeluarkan argumen berikutnya. Kondisi pun menjadi ramai. Untuk meredakan suasana, sang ayah mencoba menengahi dengan dalih kondisi Herman yang merupakan seorang mahasiswa, jadi wajar kalau dia tidak berduit. Satu hal yang tak berubah dari dulu hingga sekarang. Kondisi mahasiswa yang selalu digambarkan tak beruang dan hidup susah. Tapi memang benar sih…

Selepas kepergian para dara dan Herman, nenek mulai berkeluh kesah kepada sang ayah tentang jodoh para cucunya. Menurut ukuran lama, seharusnya Neni sudah dipertunangkan, Nana sudah beranak tiga, jadi seharusnya Nunung pun sudah berkeluarga. Terasa sekali bahwa tujuan dari babak ini adalah pengenalan konflik yang akan diangkat. Tentang Nunung yang sudah berusia namun belum kunjung menikah.

Selain permasalahan Nunung yang belum kunjung menikah, terjadi konflik lain antara ayah dan nenek yang memiliki perbedaan pradigma tentang pernikahan. Nenek yang sudah hidup dari zaman Belanda masih menjajah merasa perlu untuk ikut campur dalam urusan jodoh cucuk-cucuknya. Lain lagi dengan sang ayah, ia melihat kalau memang sudah jodoh ya akan datang dengan sendirinya. Umur bukanlah batasan penentu kapan seseorang harus memikirkan tentang pendamping hidup dan menikah. Sadar bahwa sang ayah memiliki pandangan yang berbeda, banyak jalan cerdik yang ia ambil agar tidak melukai hati sang nenek namun pendiriannya tetap bisa ditegakkan. Hal ini sangatlah umum terjadi pada kehidupan nyata. Sering kali ditemui perbedaan pendapat antara orang tua dan anak. Usmar Ismail seakan telah meramalkan kondisi ini sejak dahulu kala dan memberikan tips untuk menghadapinya. Kalau tidak bisa menurut, ya cari jalan pintasmu.

Walaupun menurut saya penokohan film ini adalah baik, namun ada bagian dari plotnya yang sedikit menggelitik imaji. Ketika Nunung sedang pergi keluar, ia tertabrak oleh seorang pengendara sekuter yang bernama Toto. Sehari setelah kejadian, Toto datang ke rumah Nunung dan disambut sangat ramah, bahkan kelewat ramah, oleh keluarga Nunung. Nenek yang baru sekali melihat Toto langsung mengundangnya untuk sering main ke rumah, padahal kenal saja tidak. Nana yang membukakan pintu ketika Toto datang pertama kali langung kesem-sem dan all over him dalam sekejap. Memangsih, mereka semua sedang dalam misi pencarian jodoh untuk Nunung sehingga semua bak cacing kepanasan ketika melihat pria gagah bersekuter menyambangi rumah. Entahlah, bisa jadi tingkat individualis yang semakin meningkat seiring perkembangan zaman membuat saya merasa hal itu tidak wajar, atau memang sang pembuat cerita ingin mempercepat proses basa-basi pengenalan tokoh Toto yang baru masuk di tengah-tengah film.

Film Tiga Dara yang sarat akan perkembangan teknologi pada zamannya memiliki kualitas gambar yang sangat noisy. Entah memang karena teknologinya atau karena penyimpanannya yang sedikit banyaknya merusak kualitas gambar. Dengar-dengar, film ini sedang di “benahi” di negeri orang agar para penikmatnya bisa menyaksikan lagi dengan kualitas yang lebih baik. Berharap saja paraahli bisa mengobati film Tiga Dara supaya kalau saya nonton lagi, semutnya sudah pada hilang.

Begitu pula dengan audionya. Ketika paraaktor menyanyikan nada tinggi, speaker zaman sekarang seperti kelabakan sehingga tidak dapat memproduksi suara yang jernih. Agak sulit untuk memahami lirik kata per kata yang dinyanyikan, padahal lagu itu berisi cerita. Ah tapi sudahlah, saya tidak mau banyak bicara tentang teknis karena sudah seharusnya film Tiga Dara di bandingkan dengan membayangkan kualitas film yang ada pada zamannya. Kalau dibandingkan dengan pengalaman menonton film masa kini ya jelas ambyar.

Selain berbagai kekurangan dari film Tiga Dara, saya memiliki lebih banyak alasan untuk mengagumi film ini. Ceritanya yang dikemas dengan sederhana tak membuat saya bosan menyaksikan film hitam putih ini walaupun tanpa ditemani semangkok berondong jagung. Kecerdikan pembuat naskah (ditulis oleh Usmar Ismail sendiri) dengan memilih diksi yang tepat pun turut menambah kespesialan dari film Tiga Dara. Ditambah lagi, humornya yang everlasting membumbui cerita dari awal sampai akhir tanpa kehilangan fokus. Walaupun film ini dibuat puluhan tahun lalu yang lalu, gelak tawa saya dan teman-teman yang menyaksikannya di Sinematek Indonesia tak bisa tertahankan.

Proses karakterisasinya pun dibuat dengan tepat tanpa berlebihan. Segala aspek digunakan sebagai media pendukung tokoh, seperti pakaian-pakaian yang digunakan paradara. Nunung yang mengambil peran ibu bagi adik-adiknya selepas kematian ibu mereka selalu mengenakan kain dan rambutnya di sanggul. Nana yang easygoing mengenakan pakaian anak muda gaul pada tahun 50an. Serta Neni si bungsu, rambutnya selalu di kepang dua. Kecerdikan Usmar Ismail dalam penjiwaan tokoh perlu diacungi jempol.

Sebagai film musikal, tak heran jika scoring dari film ini dikagumi oleh banyak orang. Buktinya, film ini berhasil menyabet Piala Citra sebagai tata musik terbaik di Festival Film Indonesia pada tahun 1960. Lagu-lagu yang ada tak hanya berperan sebagai filler, namun juga sebagai  media untuk menyampaikan cerita. Lagu-lagu ini pun turut disertai dengan koreografi yang menarik. Mungkin itu yang dapat membuat saya betah menonton film yang berdurasi 116 menit ini.

Tiga Dara benar-benar merupakan cerita sedih gembira. Gembira karena guyonan yang kerap menggelitik, juga sedih karena fakta perkembangan film musikal di Indonesia cenderung stagnan walaupun sudah dipiloti sejak tahun 1956. Sulitnya mengakses film ini juga membuat ironi karena kemajuan teknologi seharusnya memudahkan segalanya. Tapi tak apalah, semakin sulit diakses, semakin puas ketika berhasil ditonton. Saya beruntung masih bisa menyaksikan film ini di tahun 2016. Semoga kedepannya semakin banyak orang beruntung lainnya dan film musikal seperti Tiga Dara semakin banyak di produksi di tanah air.

 

 

Tiga Dara | 1956 | Durasi: 116 menit | Sutradara: Usmar Ismail | Negara: Indonesia | Bahasa: Indonesia | Pemeran: Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Indriati Iskak, Rendra Karno, Bambang Irawan, Fifi Young, Hassan Sanusi

 

Author: geiteaes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *