Dokumenter Ane Ane: Catatan Program

Idaman Obe : Rekaman Manasuka Dibaca Suka-Suka

Kata “dokumenter” begitu erat dengan “kenyataan”, “objektif”, atau “tanpa rekayasa”. Benarkah? Bukankah gambar-gambar yang dipertontonkan sudah melalui pemilihan-pemilihan yang sifatnya subjektif, dari pemilihan konflik, pemilihan estetika untuk menunjukkan gambar, sampai pacing serta cutting film. Dokumenter pun tidak jauh dari elemen-elemen sinematik yang menyusunnya, untuk memberikan kesan tertentu yang memperkuat atau menyokong gagasan yang ditawarkan kepada penonton.

Tiga film yang saya pilih untuk VVIP ini adalah “pilihan suka-suka” saya untuk memberikan sebuah perspektif lain yang menjadi kemungkinan bahasa-bahasa dokumenter, bahkan sampai melampaui batas fiksi/dokumenter.

Leviathan adalah film karya  Lucien Castaing-Taylor and Véréna Paraveefg yang merekam bagaimana penangkapan ikan oleh kapal besar untuk keperluan industri. Tidak seperti film dokumenter biasanya yang memasukkan wawancara atau menggunakan pendekatan observasional dalam merekam, film ini memilih untuk merekam dan menyalurkan “rasa” dan “kesan” dari fenomena-fenomena yang terjadi pada kapal besar ini. Kapal dianggap sebagai “monster laut” yang menelan ikan-ikan dengan masif dan eksploitatif. Hal ini terlihat dari bagaimana kamera diletakkan begituu dekat dengan ikan-ikan, jala, serta turbulensi ombak akibat gerak-gerak mesin kapal yang beringas. Dalam remang cahaya seadanya dan grain acak-adul, film ini siap menggoyang jiwa raga Anda dari layar claustrophobic-nya!

Ten adalah film karya sutradara legendaris Abbas Kiarostami. Abbas begitu lihai dalam memperlihatkan suasana dan kondisi multikonteks dari dialog antara dua orang yang duduk di kursi depan mobil. Apabila dalam Taste of Cherry  Abbas masih menggunakan bentuk fiksi, dalam Ten selama 89 menit ia mengemasnya dalam bingkai dokumenter. Dari permasalahan keluarga domestik dan harga diri seorang pekerja seks komersial, Abbas Kiarostami mampu berbicara soal hak-hak wanita yang tertekan di Iran oleh anak, (mantan) suami, dan stigma-stigma sosial yang telah diatur dalam undang-undang pemerintahnya. Abbas secara organik “merekam” yang “eksplisit” di Iran, namun hanya dengan pengemasan demikianlah isu-isu tersebut dapat “diingatkan” secara eksplisit. Sungguh bentuk yang menyegarkan!

Terakhir, Journey To The West merupakan salah satu rangkaian dari fim Tsai Ming Liang (diawali oleh The Walker dan diakhiri oleh No No Sleep) selaku sutradara yang mengintrepertasi kembali perjalanan ke barat yang dilakukan oleh karakter fiksi Xuanzang. Tsai Ming Liang menempatkan karakter fiksinya ke dalam dunia nyata di Prancis. Journey To The West memperluas kata “Barat” menjadi “Eropa” ketimbang hanya “Asia Barat” seperti pada novel fiksinya. Dokumenter ini menjadi rekaman nyata atas reaksi-reaksi “orang Barat” terhadap sosok Xuang Zang ini. Belum lagi ekspresi Tsai Ming Liang dalam tempo yang lambat dan komposisi yang menyesakkan Xuan Zang, adalah subjektifitas yang menarik untuk dilihat dalam film dokumenter (atau fiksi?!).

Ketiga film ini adalah pilihan sutradaranya masing-masing untuk menyampaikan gagasannya seobjektif mungkin (persetan subjektivitas industri, pemerintah, dan kaum Barat terhadap Asia!). Dari bahasa gambar yang dipertontonkan, tentulah pembacaan saya di atas hanya secuil dari yang pembacaan mahaluas. Dokumenter pun masihlah karya manasuka sutradara yang mempunyai ruang baca untuk penontonnya, secara suka-suka tentunya!

 

Idaman Toyib : META-Meta?

Film adalah medium yang magis. Suatu zat yang ditampilkan di layar dan mempunyai keajaiban sebanyak-banyak yang bisa kita pikirkan. Dan yang terpenting, dalam keajaiban itu, elemen-elemen dalam pembuatan film tersebutlah yang menjadi pembuat keajaiban. Sebut ssaja dari naskah, alur, sinematografi, musik, dan suntingan.

Film menawarkan banyak cerita dan alur. Misalkan alur maju, mundur, maju mundur, mundur maju, dan lain-lain. Film bisa juga merupakan cerita tentang heroisme dari sebuah subjek, komedi, drama, romansa, dan sebagainya. Bermacam-macam hal yang disajikan pada penonton melalui film, mulai isu, sudut pandang , keberpihakan, dan sebagianya.

Namun, pernahkah melihat film yang menceritakan tentang sebuah pembuatan film? Dalam istilah perfilman, hal ini yang disebut dengan metafilm. Film yang rekursif dalam penceritaan dan alur. Mungkin jika ada yang pernah melihat film buatan Spike Jonze berjudul, Adaptation. Film itu ialah contoh yang dari sebuah meta film.

Jika Adaptation, yang saya sebut tadi ialah film meta cinema yang tergolong fiksi, maka bagaimanakan konsep dari meta cinema yang berbentuk documenter? Sebuah documenter yang menceritakan tentang documenter itu sendiri? Atau menceritakan documenter tentang sebuah pembuat film documenter? A documentary inside a documentary, adalah arti kasar dari meta dokumenter.

3 film ini akan hadir dalam tayangan untuk memperkenalkan sebuah meta dokumenter: The Greatest Movie ever Sold, karya Morgan Spurlock, ialah meta yang memperkenalkan ke seluk beluk siklus pendanaan film-film, khususnya film film Hollywood (dan mungkin hampir semua film yang kemungkinan berbujet besar). Kita akan diajak kedalam bagaimana sang pembuat film yang  akan berusaha untuk menjilat para pemain modal dalam industry perfilman untuk pendanaan film, sekaligus kenyataan yang berada di sekitarnya, selagi menebak-nebak apa yang terjadi di film.

Salaam Cinema, karya Mokhsen Makhmalmabaf. Dalam memperingati seabad kebudayaan film di Iran, maka sang sutradara membuat film ini. Melakukan semacam Open Recruitment untuk publik untuk menjadi pemeran di film terbarunya, Mokhsen ingin melihat bagaimana perkembangan cinema Iran mempengaruhi kehidupan penduduk Iran. Merekam beberapa adegan casting pemeran, sebenarnya para penduduk yang mengikuti casting tidak tahu bahwa mereka sudah menjadi actor di film Mokhsan satu ini.

Dan terakhir, This Is Not A Film,  karya Jafar Panahi. Film pertama Jafar ketika dia sudah didakwa untuk tidak boleh membuat film lagi. Syuting dengan kamera seadanya, dan semapat dengan sebuah IPhone, kita akan sedikit menyelam ke fillmografi Jafar dan juga kehidupan Jafar ketika sedang ditahan di rumah. Simpel, tidak terlalu banyak efek, dan sebenarnya dengan adanya film ini dari Jafar menjadikan dia sebagai pemberontak otoritas dari media sinema. Menghargai karya orang yang sedang tertindas karena berusaha jujur.

Selamat menikmati film-film pilihan ini. Semoga terpuaskan!

 

Idaman Ghia : Ekstra Nyata, Ekstra Rasa

Ketika orang berbicara tentang dokumenter, hal yang pertama timbul di pikiran adalah suatu rekaman kenyataan. Pokoknya semua yang pasti-pasti dan beneran ada saja.  Sementara film fiksi mungkin memberikan lebih banyak ruang bagi imajinasi dan interpretasi, kebebasan meracik bumbu dan menafsirkan rasa, bagi yang membuat maupun menyaksikan. Di lain sisi, ada kecenderungan bahwa segala yang terlalu hambar dan wajar biasanya tak cukup menjual bagi sebagian besar masyarakat. Cerita karangan yang dikemas sedemikian rupa dalam film fiksi mampu membuat kita serasa berpindah dunia atau bahkan menjelma menjadi tokoh lain setelah menonton, tapi tak selalu demikian ketika kita dihadapkan dengan fenomena-fenomena nyata. Dapat dikatakan bahwa fiksi adalah realita yang senantiasa dilebih-lebihkan untuk memuaskan pasar. Lantas, bagaimana dengan dokumenter? Apa jadinya ketika sebuah dokumenter dibubuhi dengan berbagai ‘penyedap’ yang dapat membaurkan batas rekaan dan realita? Ketiga film pilihan saya kali membawa berbagai cerita dan menawarkan cita rasa yang berbeda-beda. Tak hanya dari topik yang diangkat, tapi juga cara setiap film menghantarkan personanya masing-masing.

Sebagai pembuka, That Sugar karya aktor dan sutradara Australia Damon Gameau mungkin merupakan dokumenter yang ‘paling dokumenter’ dari ketiga film. Menampilkan investigasi sang sutradara tentang bahaya tersembunyi gula dalam makanan, That Sugar dibumbui berbagai visual khas budaya populer dan humor nyaris satir yang menjadikannya sebuah hiburan ringan dan informatif. Tujuan kebanyakan dokumenter yang ‘bermain aman’. Namun menjadi bagian dari jajaran dokumenter yang cukup konvensional bukan berarti ia tak spesial. Di balik fakta-fakta mengejutkan seputar gula, That Sugar tak ketinggalan mengupas budaya masyarakat yang tak pernah lepas dari makanan, siasat besar-besaran para produsennya, hingga permainan psikologi di balik segala pilihan kita sebagai penonton dan konsumen. Bukan suatu hal mustahil bahwa setelah menyaksikan film ini, kita jadi berandai-andai: Apakah kita juga merupakan subjek Gameau dalam penelitiannya, yang harus terus-menerus disuguhi sajian manis untuk dapat mencerna suatu kenyataan pahit?

Waltz with Bashir adalah film karya sutradara dan komposer film asal Israel, Ali Folman. Film ini mengisahkan kejanggalan dalam ingatan Ali mengenai pengalaman pengabdian militernya pada masa Perang Lebanon, dan tragedi pembantaian di kamp pengungsian Sabra-Shatila pada tahun 1982. Tak jarang orang yang mengira—termasuk saya sendiri—bahwa Waltz with Bashir bukanlah sebuah dokumenter, karena Folman memilih mengemas memoirnya dalam bentuk animasi.  Namun siapa sangka, kartun tanpa banyak warna bergaya posterized yang sederhana, ternyata bisa menangkap kepedihan memori-memori tentang perang jauh lebih dalam dibandingkan dokumenter perang biasa dengan grafis mutakhir. Singkatnya, Waltz with Bashir membawa romantisasi sejarah dan kengerian ke suatu dimensi baru, atau bahkan turut mengacak-acak perasaan kita terhadap ingatan-ingatan sentimental selama hidup.

Untuk penutup, kita akan kembali ke Tanah Air: ada Position Among the Stars (berjudul asli Stand van der sterren) yang bertempat di sela-sela gemerlap ibukota. Film ini merupakan bagian terakhir dari rangkaian trilogi dokumenter keluarga Shamsuddin (bersama Eye of the Day dan Shape of the Moon). Karya Leonard Retel Helmrich, sutradara asal Belanda ini, menyorot sebuah keluarga dari kalangan menengah ke bawah beserta segala naik turunnya. Keluarga yang terdiri dari tiga generasi ini menjalani hidup dengan latar Jakarta pasca orde baru. Helmrich seolah merangkum kepribadian Indonesia yang sesungguhnya dengan menyorot kehidupan di satu rumah dalam deraan berbagai masalah sosial. Diskriminasi agama, rumitnya sistem pendidikan, hebohnya bersiasat untuk hidup di tengah himpitan ekonomi; inilah wajah asli dunia bagi segelintir masyarakat kita. Menyaksikan keseharian mereka bak menonton satu season panjang sinetron yang selalu penuh konflik, suatu guilty pleasure bercita rasa lokal. Kadang menghangatkan hati, kadang membuat haru, seringkali juga membuat kita tertawa di balik kemirisan, karena setiap kejadian benar-benar bisa membawa momen “Aha!—ini Indonesia banget”. Keras, jenaka, penuh prahara, dan sangat dekat di hati.

Seperti disebutkan sebelumnya, dokumenter-dokumenter ini memang saling berlainan karakter. Karena campur-campur, mungkin saja perpaduan pilihan tersebut menjadi sebuah sajian tiga babak dengan rasa yang beragam tak karuan. Meski demikian, garis besarnya adalah sebuah rangkaian yang penuh bumbu; ketika realita yang kadang ‘lebih film daripada film’, diolah sedemikian rupa menjadi semakin kompleks, dan tentunya menarik untuk disimak. Akhir kata, saya mengucapkan: selamat mencicipi!

 

Kontributor :
Albertus Wida Wiratama (Obe)
M. Nandradi Toyib (Toyib)
Widyandita Ghiamadura (Ghia)

mm

Author: Albertus ‘Obe’ Wida

Biasa dipanggil Obe, besar di pinggiran Jakarta, berkuliah di ITB sebagai mahasiswa fisika teknik. Mulai menaruh hati pada film sejak masuk Liga Film Mahasiswa ITB, sekarang sering hinggap ke pemutaran di sana-sini sebagai pelarian kuliah yang sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *