West: Perasaan yang Ter-Resonansi

West (2013) bercerita mengenai seorang wanita (Nelly) yang bermigrasi bersama anaknya (Alexej) dari Jerman Timur ke Jerman Barat pada masa Perang Dingin dengan harapan dapat memulai hidup baru setelah kekasihnya dikabarkan meninggal dunia.

Terdapat kemiripan antara film West dan Dheepan (2015), walau keduanya terjadi pada era dan situasi yang berbeda. Sama-sama berbicara mengenai proses migrasi, kedua film ini sepakat bahwa permasalahan terpelik yang terjadi ketika melakukan migrasi bukanlah saat-saat ketika akan “menyebrang”, tetapi justru adalah ketika berupaya untuk beradaptasi di lingkungan baru. Lewat film Dheepan, ditunjukkan bahwa untuk bermigrasi berarti diperlukan identitas baru (yang tentunya tidak legal), yang tak tanggung-tanggung membuatnya tiba-tiba mempunyai seorang istri baru dan seorang anak baru. Hal ini sebegitunya ia perjuangkan, dengan harapan didapatkannya kehidupan yang lebih baik yang menantinya di “sebrang” sana.

Film West pun begitu halnya. Nelly perlu berbohong, bahwa ia mempunyai suami baru yang tinggal di Jerman Barat demi diizinkan menyebrang oleh pihak Jerman Timur. Upaya ini ternyata belum seberapa dibandingkan dengan kesulitan yang dihadapi Nelly ketika tinggal di sana. Walau sudah dilayani dan diterima dengan baik oleh Jerman Barat, tidak dapat dipungkiri bahwa “pindah” dan “beradaptasi” bukanlah suatu hal yang mudah.

Nelly yang semakin lama menjadi semakin anxious ketika berada di lingkungan baru ini, ditunjukkan tidak hanya lewat ekspresi dan tata tutur, tetapi juga lewat gerakan kamera yang sigap berpindah dari satu fokus ke fokus lain, seakan-akan Nelly selalu dihinggapi rasa awas dan khawatir. Efeknya adalah rasa simpatik yang justru memudar dari penonton terhadap peran protagonis satu ini. Pada suatu ketika, Nelly berperilaku temperamen terhadap seorang petugas migrasi. Sehingga menyulut pengunjung lain untuk menyaut, “You are not forced to do this, you know.” yang dibalas dengan tatapan mendelik dari Nelly. Pernyataan itu mungkin juga ikut menghinggapi penonton dan membuat ragu akan alasan sebenarnya Nelly berpindah dari Jerman Timur ke Jerman Barat.

“Untuk dapat memulai hidup baru” terasa menjadi alasan yang terlalu absurd. Di tempat yang baru ini ia bahkan tidak bahagia, dan penyebabnya bukan apa-apa selain ke-paranoid-an dirinya sendiri. Perasaan simpatik justru muncul untuk Alexej. Ia jelas-jelas tidak bahagia bersama ibunya yang sedang setengah gila itu. Penonton dibuat tidak mengerti oleh “drama” yang dibuat oleh Nelly, walau perilaku tersebut sebenarnya adalah cara Nelly untuk melindungi Alexej dan dirinya sendiri. Di sini rasanya seperti disindir bahwa menjadi seorang ibu yang baik ternyata bukanlah hal yang mudah untuk diri sendiri maupun untuk diterima orang lain.

Lewat kesulitan yang dihadapi Nelly dan Alexej di tempat baru ini, film West menjadi beresonansi pula dengan film lain yang sama-sama kompleks menunjukkan relasi antara ibu dan anak. Contohnya adalah The Kid with A Bike (2011), Mommy (2014), dan Room (2015). Keempat film ini sepakat bahwa sosok ibu selalu berupaya untuk melindungi anaknya. Kompleksitasnya adalah konsep melindungi sesungguhnya tidaklah sesimpel itu. Ada perang batin yang terjadi pada diri ibu sendiri dalam upayanya melindungi sang anak, yang berakibat pada “cara”nya yang tidak cukup dimengerti sang anak, sehingga berakhir pada penolakan mentah-mentah dari sang anak. Keempat film ini sama-sama menunjukkan hal tersebut walau masing-masing dibalut dengan kejadian yang berbeda, yang maka dari itu disebut bahwa mereka saling beresonansi.

Dengan berlatarbelakang perpolitikan Perang Dingin saat itu, film West bukan lagi berfokus pada peperangan yang terjadi pada saat itu, tetapi ia justru menyentuh suatu lapisan masyarakat yang secara tidak langsung ikut menerima efeknya. Alasan film ini saling beresonansi dengan film-film lainnya pun mungkin karena ia dengan tepat sasaran menyinggung realita yang ada, mengenai perasaan “menyebrang”, menjadi seorang ibu, menjadi seorang anak. Penggabungan konflik relasi ibu-anak dan migrasi yang menimbulkan efek samping rasa sepi dan mempengaruhi aspek sosial (ketidak”populer”an Alexej di antara teman-temannya) dan ekonomi (permasalahan harga diri yang membuat Nelly menolak pekerjaan yang ditawarkan kepadanya) membuat film ini seperti mempunyai perasaannya sendiri, dekat dan hidup.

mm

Author: Permata Adinda

Dinda, berkuliah di ITB jurusan teknik kimia. Menggemari film sejak kecil, namun baru berusaha memahami film sejak masuk ke Kineklub LFM ITB. Sampai saat ini juga aktif di komunitas Bahasinema demi menghidupkan pemutaran film-film Indonesia di Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *