Ziarah : Hidup Mati dan Cinta

Kalau bukan karena dorongan dari teman-teman saya, saya mungkin tidak akan menonton film Ziarah. Jelas saja, jika hanya membaca sinopsisnya, kemungkinan besar saya tidak akan tertarik menonton film yang bercerita mengenai Mbah Sri (Ponco Sutiyem , 95 Tahun) yang mencari keberadaan makam suaminya, Mbah Pawiro Sahid, untuk nyekar atau ziarah. Sejujurnya saya memiliki tendensi untuk menilai bahwa film ini akan membosankan karena pemeran utamanya seorang nenek-nenek. Pertama karena saya ragu terhadap pembawaan karakter dari Mbah Sri, mampu atau tidaknya Mbah Ponco menyampaikan kepada penonton keinginan untuk menemukan makam dari suaminya. Sosok Mbah Sri yang kecil, rapuh, dan sendiri berhasil digambarkan dengan jelas oleh BW Purba Negara dengan memberikan shot-shot seperti Mbah Sri yang sedang berjalan dilatari oleh kemegahan sawah, atau ketika Mbah Sri duduk dengan diam di dalam bus yang ramai. Shot yang menampilkan Mbah Sri sendirian seringkali dilatari oleh alunan musik yang pelan juga sehingga seakan-akan berusaha menarik simpati penonton.

Film ini dimulai dengan pengambilan gambar cucu dari Mbah Sri dan calon istrinya mengandai-andaikan ruangan yang akan ada dalam rumah mereka, mulai dari ruang tamu, dapur, bahkan kamar tidur. Pada hakikatnya, hidup manusia sangat terkait dengan apa yang ketiga ruangan ini representasikan: bercengkerama, bersantap, dan bersenggama.

Dengan sudut pengambilan gambar yang sama dengan adegan pembuka dari film ini, BW menutup film dengan memperlihatkan Mbah Sri dan Mbah Tresno seakan-akan mempersiapkan tempat penguburannya. Bahwa dalam siklus hidup manusia, bukan hanya kehidupan yang perlu direncanakan, melainkan kematian pun perlu direncanakan: dari mulai pembagian harta warisan hingga sesederhana tempat dimana mereka dikebumikan. Cara BW membuka dan menutup film Ziarah ini membuat saya berpikir bahwa dalam hidup ini ada dua hal yang sudah pasti (dan kecenderungan manusia adalah merencanakan dan mempersiapkan diri untuk hal yang sudah mereka tahu pasti akan terjadi); pertama adalah hidup itu sendiri, yang kedua adalah kematian. Sayangnya, untuk keduanya pula kita harus bersiap.

Selain hidup dan mati, ada satu hal lagi yang sudah pasti: ketidakpastian itu sendiri. Oleh karena itu dalam film ini ketidakpastian digambarkan melalui cinta Mbah Sri kepada Pawiro lewat perjalanan mencari makam Pawiro, suaminya. Secara ringkas, “perjalanan” nampaknya merupakan kata yang tepat untuk menyimpulkan film ini. Sang sutradara , BW Purba Negara, dalam mengelaborasi ide perjalanan ini tidak hanya menyajikan perjalanan dari sudut pandang Mbah Sri kepada penonton, tetapi juga sudut pandang dari cucu Mbah Sri sehingga dapat kita lihat bahwa alur cerita yang disajikan terbagi antara Mbah Sri, dan cucunya. Menariknya, pengembangan alur dengan cara memberikan dua sudut pandang dari tokoh yang saling terkait juga dilakukan oleh B. W. Purba Negara dalam filmnya yang lain seperti Bermula dari A dan Aku Serius.

Di satu sisi, perjalanan cucu Mbah Sri mampu menggambarkan ketidakpastian yang mungkin saja bisa kita temui ketika kita melakukan perjalanan kita sendiri. Entah itu perjalanan mencari jati diri, perjalanan kisah cinta Anda dengan orang yang Anda kasihi, atau mungkin perjalanan hidup. Akan ada begitu banyak suara-suara yang nampaknya memberikan arahan jalan yang benar padahal mungkin berujung pada sesuatu yang sebenarnya bukan ekspektasi dari akhir perjalanan kita. Melalui konflik terkait tanah tempat cucu Mbah Sri dan calon istrinya akan membangun rumah mereka, bisa saya tarik pelajaran bahwa hal yang sudah kita rencanakan tidak selalu akan berjalan sesuai dengan ekspektasi kita. Pelajaran lainnya yang bisa saya tarik adalah sama seperti halnya perjalanan dari cucu Mbah Sri yang tidak kunjung menemukan Mbak Sri dan pada akhirnya hanya duduk dan berhenti mencari, mungkin pada akhirnya kita juga akan berhenti melakukan perjalanan kita karena akhir yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita.

Di sisi lainnya, cara Mbah Sri menemukan jejak demi jejak keberadaan makam suaminya menggunakan hal-hal yang tidak umum penalarannya, seperti keris dan kekuatan magisnya, atau secara tiba-tiba bertemu dengan dua penduduk sekitar yang salah satunya secara kebetulan mengetahui bahwa tas milik Mbah Sri tertinggal di warung yang sebelumnya Mbah Sri kunjungi. Bagi saya, cara Mbah Sri menemukan jejak menuju makam suaminya yang ia cintai sama seperti cara kita, manusia, merasakan cinta: tiba-tiba, tanpa alasan, dan datang begitu saja. Ironinya, cara Mbah Pawiro meninggalkan Mbah Sri juga saya interpretasikan sebagai cara cinta meninggalkan manusia, yang kadang membuat manusia menunggu dalam ketidakpastian, hingga akhirnya merelakan.

Selain itu, alih-alih membosankan, pace film yang cenderung lambat ini membantah stigma yang saya kemukakan pada awal paragraf pertama, BW berhasil membawa saya ikut mencari keberadaan Mbah Pawiro. Oleh karena itu film Ziarah ini bukan sekadar film mengenai perjalanan mecari makam, melainkan mencari kebenaran terlepas dari ketidakpastian yang mungkin diberikan dan kemungkinan akhir yang tidak sesuai ekspektasi kita dan secara epistemologi memberikan penonton film ini keyakinan, akan tiga hal yang pasti:

Hidup, Mati, dan Cinta.

Author: faustokeiluhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *