Ziarah : Melihat Narasi Rekonstruktif Bekerja

Seabstrak dan seideal apapun yang dibayangkan oleh orang-orang perihal cinta pada akhirnya akan senantiasa dijelmakan menjadi sesuatu yang dapat diterima secara pasti oleh panca indera kita. Kata-kata aku cinta kamu saja tidak cukup. Ia harus ditambah dengan pelukan, ciuman, kado hari jadi, atau kalau sudah lebih tinggi jenjangnya–begitu kata orang-orang–mas kawin, cincin, rumah, bahkan anak.

Namun tidak hanya berlaku pada cinta, manusia sebagai homo significans nyatanya memberikan penanda pada hal-hal abstrak lainnya. Bentuknya macam-macam: makam, tasbih, rosario, salib, cinderamata, patung, atau foto. Kalau bukan tanda pembuktian, maka ia adalah pengingat–upaya untuk menjaga ingatan. Cinta dan ingatan bukanlah hanya sekadar gagasan, apalagi perasaan. Bagi manusia, kedua hal tersebut harus dapat dibuktikan dan dijelmakan.

Ziarah, film yang disutradarai BW Purbanegara, sarat dengan gagasan di atas. Tokoh utamanya, Mbah Sri, biasa menyekar nisan bertuliskan “Tidak Dikenal”. Identitas tersebut tentu dibuat oleh orang lain yang tidak mengenal nama si jenazah.

Nama adalah salah satu penanda yang pertama diberikan sejak lahir. Tapi terkadang nama saja tidak cukup. Seseorang perlu nama belakang atau julukan. Dalam Ziarah, hal ini digambarkan dengan rujukan orang-orang atas seseorang berdasarkan profesinya: “Dalang”, “Peternak Sapi”, “Veteran”, atau “Pelukis”. Yang perlu digarisbawahi adalah penamaan dapat dilakukan seenaknya, tergantung si pemanggil nama, tergantung bagaimana ia mengenal si empunya nama. Bagi Mbah Sri, orang tak dikenal tersebut adalah suaminya yang telah gugur pada Agresi Militer II, dengan nama Pawiro Sahid. Identitas ini, secara khusus, hanya milik Mbah Sri.

Oleh karena itu, berziarah bagi Mbah Sri adalah hal yang sakral. Tidak cukup, Mbah Sri juga masih menyimpan foto Pawiro, dan yang paling penting adalah salah satu pasang keris–yang pasangannya dipegang oleh Pawiro. Namun pada suatu kali, ia mendengar bahwa makam suaminya ada di tempat lain. Fungsi makam tersebut sebagai penanda tergugat, bahkan menjadi kesia-siaan. Maka pergilah Mbah Sri sampai 100 kilometer lebih untuk mencari. Bagi penonton, usaha Mbah Sri yang sudah sangat renta tersebut adalah bukti cinta Mbah Sri kepada Pawiro.

 

Menyoal Cinta dan Pernikahan

Apabila kegigihan tersebut adalah pembuktian cinta Mbah Sri, lain halnya dengan yang dilakukan cucunya, Prapto. Menyiapkan kehidupan pernikahan dengan calon istrinya menjadi hal yang krusial bagi Prapto. Ia harus membeli tanah, menakar ruangan dalam rumah, tidak lupa mendapatkan restu dari Mbah Sri. Semua dilakukan untuk dapat menikah, membahagiakan calon istrinya. Sehingga, ketika mengetahui ternyata tanahnya dibeli dahulu oleh orang lain, Prapto dicap tidak serius mengurus pernikahan mereka. Malah ia didaulat tidak akan bisa mengurus istri dan anaknya kelak. Tanpa tanah, tak ada cinta, apalagi masa depan.

Namun apabila ditilik lebih jauh, argumen mereka berdua berkutat pada materi-materi sebagai pemenuh kebutuhan dan keinginan hidup. Perkara mempunyai kulkas (pangan) atau pondasi (papan) yang kuat adalah perkara kebutuhan primer. Dialog soal ukuran ruang tidur berikut tempat tidurnya adalah persoalan kebutuhan sekunder. Alih-alih pembukti cinta, fungsi ekonomisnya jauh lebih penting. Bisa hidup (dan) nyaman lebih penting daripada aku cinta kamu.

Sudah begitu, nyatanya prioritas keduanya berbeda sehingga perlu dikompromi menurut demand subjektif pasangan. (Calon) suami istri seolah tak ubahnya dengan penjual-pembeli di pasar yang sedang tawar-menawar. Relasi Prapto dan calon istrinya menggambarkan persepsi bahwa pernikahan (modern) sudah tidak lagi bisa berbicara cinta belaka, ia juga ditumpu asas supply/demand.

Pernikahan pada masa ini tidak hanya sekedar romantisme “hidup bersama” belaka. Kalau dahulu cukup dengan modal cinta tanpa jaminan Pawiro (atau Mbah Sri) dapat hidup dalam kondisi rawan perang, lain halnya dengan pernikahan kini. Persepsi tetek bengek seperti besar resepsi, harga rumah, dan perhitungan modal untuk beranak akan selalu menguntil calon suami-istri sekarang. Bukan berarti dulu tidak dipikirkan, namun diskursusnya lebih banyak terbahas karena meningkatnya kesadaran untuk tetap mempertahankan kualitas hidup ketika belum menikah, ketika belum harus mengurusi hidup orang lain juga. Ziarah tidak sendiri dalam hal ini. Ada film-film yang mempertanyakan relevansi materialitas pernikahan pada masa sekarang, misalnya tentang mas kawin dalam Seserahan (2014, Jason Iskandar), tentang sumber dan jumlah penghasilan dalam Cek Toko Sebelah (2016, Ernest Prakasa), atau kombinasi keduanya, bahkan sebagai budaya turunan dalam Nokas (2016, Alberto Manuel).

Perlawanan pada pakem-pakem pernikahan tidak hanya terletak pada aspek materinya tentu. Ketika individualisme menjadi populer, restu, yang membuat seolah izin menikah ada pada tangan orang (atau entitas) lain, adalah sesuatu yang sedang dipertanyakan logikanya sekarang. Restu seolah ada dan tiada. Ia bahkan dapat direka-reka seperti ramalan dalam Suan Ming  (2014, Meliantha Olivia), atau dipaksakan (direbut dalam  film Bukaan 8 [2016, Angga Dwimas Sasongko]), misalnya dengan menghamili pasangan di luar nikah. Dalam Ziarah,  restu dapat dibuat-buat seperti Prapto yang seenaknya menyatakan almarhum orangtuanya “sudah merestui”.

Ziarah tidak berhenti menampilkan kedua aspek penguntil pernikahan secara terpisah, seolah terdapat dikotomi di antara keduanya. Prapto (dipaksa calon istrinya) membantu Mbah Sri dilakukan supaya mendapatkan restu. Restu ini pun sebenarnya adalah wasiat mendiang ibunya untuk selalu menjaga Mbah Sri. Selain itu, apabila Mbah Sri cepat berada di rumah kembali, transaksi penjualan tanah rumah Mbah Sri dapat berjalan lebih cepat, yang berarti Prapto dapat membeli calon tanah rumahnya (dengan uang penjualan), alhasil ia dapat menikah lebih cepat sesuai keinginan calon istrinya. Restu dibutuhkan Prapto supaya aspek materi pernikahannya terpenuhi, sekaligus supaya tidak kualat. Motivasi Prapto dan konflik pernikahannya nyatanya tak jauh beda dengan kondisi asli Indoenesia. Di hadapan orangtua (dan calon mertua) bertanya hal tabu akan berujung mati kutu.

 

Memori Naratif

Materialitas yang dibahas dalam Ziarah tidak terbatas membicarakan pernikahan saja. Hal lain yang krusial juga adalah soal memori dan sejarah yang sangat tergantung pada suatu penanda sebagai sebuah pengingat. Tidak dapat dipungkiri, seperti nama, memori dapat dikurangi, ditambah, bahkan diganti. Apabila ada beberapa orang yang memiliki memori atas penanda yang sama, interpretasi dan narasinya pun pasti berbeda. Waduk Alas Pucung adalah tempat ziarah bagi warga sana, sekaligus pengingat keberingasan tentara. Pawiro bagi Mbah Sri adalah cintanya, namun bagi orang lain adalah intel Belanda, maling ternak, pengkhianat, orang sakti yang kebal peluru, atau tentara yang ditembak mati kawan sendiri karena dikira londo.

Hal ini kentara pada percakapan tokoh-tokoh dalam Ziarah soal pandangan mereka terhadap pahlawan. Kata “pahlawan” begitu mudah terlebur atau terpisah dengan “pejuang” atau “tentara”. Apakah seluruh pahlawan hanya “pahlawan nasional” saja? Apakah pahlawan hanya “pejuang” yang mengangkat senjata pada masa sebelum kemerdekaan saja? Apakah tentara juga pahlawan? Apakah Pawiro yang mati oleh peluru kawan sendiri dapat disebut “pejuang”? Tapi tentu pertanyaan di atas tidak dapat dijawab dengan kebenaran yang diketahui dan diamini secuilnya saja.

Konsekuensinya adalah generalisasi. Impresi yang sifatnya sebagian tersebut akan dikenakan pada objek secara keseluruhan, tanpa memerhatikan konteksnya. Hal ini ditunjukkan pada dialog antara Prapto dengan seorang warga Alas Pucung. Ketika Prapto mengatakan “tentara” (dengan konteks Agresi Militer II) sebagai identitas Pawiro, warga tersebut justru menunjukkan kekesalannya dan bercerita tentang tentara yang menggusur warga desanya karena adanya pembangunan waduk (linimasanya berbeda). Pemikiran seperti ini kembali muncul kembali sekarang-sekarang ini dalam bentuk sentimen anti-PKI/LGBTQ/ras/agama tertentu. Dengan narasi sepotong-potong, kebenaran yang diamini hanya akan terbatas pada kebenaran yang mau diamini saja. Bahkan kemauan sendiri bersifat subjektif pula.

Kemauan Mbah Sri berziarah sebenarnya sederhana. Apabila sudah meninggal, Mbah Sri ingin dimakamkan bersebelahan dengan suaminya, “bersama” baik di bumi maupun di surga. Lantas mengenang Pawiro melalui penanda tanah Indonesia yang telah merdeka bukanlah logika yang masuk akal bagi Mbah Sri. Mbah Sri butuh letak tanah (atau air) yang pasti. Seperti ruang tengah tempat seorang nenek biasa mendongeng, disanalah Mbah Sri dapat menceritakan kepada cicit-cicitnya bahwa buyut mereka adalah pengharum nama bangsa.

Lagipula memori Mbah Sri tentang Pawiro yang masih lekat adalah perpisahan pahit mereka ketika Pawiro berangkat perang. Lantas menjadi wajar apabila Mbah Sri ingin mengakhiri narasi hidup mereka dengan reuni bahagia, selama nisan mereka berdua berdiri berdampingan.

Lantas bagaimana apabila agenda dan realita tidak sesuai? Apabila konsekuensi emosionalnya dapat kita lihat pada 45 Years (Andrew Haigh, 2015), Ziarah memberikan re-aksi Mbah Sri meski hanya satu adegan pada scene terakhir: mengubah realita tersebut dengan narasi yang ia mau. Penyamaan sudut pengambilan adegan terakhir tersebut dengan adegan Prapto-menakar-ruangan mempertegas kesamaan yang terjadi antar keduanya: materi sifatnya penting dan subjektif. Yang berbeda, Mbah Sri yang masih hidup memegang kendali penuh atas realita tersebut. Lebih jitu, narasi “asli” Sawiro hanya diketahui oleh Mbah Tresno dan Mbah Sri saja. Lantas, “kebenaran” yang akan ditelan Prapto dan anak-anaknya kelak adalah “kebenaran” versi Mbah Sri. Tercapailah agenda Mbah Sri! “Kebenaran” nyatanya adalah hal duniawi yang repot-repot dipikirkan orang-orang hidup, supaya nantinya tidak mati penasaran.

Interpretasi akhir film Ziarah versi Anda bisa jadi berbeda dengan versi saya. Tapi disitulah kecerdikan BW Purbanegara, memberikan open ending untuk mengingatkan kita sebagai penonton bahwa kita sendiri sebagai penontonnya pun sedang merekonstruksi (bahkan mengadu) narasi Ziarah menurut kemauan masing-masing penonton. Perdebatan ini tentunya tidak akan ada habisnya, sama seperti adu benar narasi-narasi soal Pawiro. Selama masih hidup, kita yang hidup di dunia nyata tak ubahnya dengan tokoh-tokoh Ziarah. Pencarian kebeneran macam ini yang membuat kita terjerat samsara bukan?

mm

Author: Albertus ‘Obe’ Wida

Biasa dipanggil Obe, besar di pinggiran Jakarta, berkuliah di ITB sebagai mahasiswa fisika teknik. Mulai menaruh hati pada film sejak masuk Liga Film Mahasiswa ITB, sekarang sering hinggap ke pemutaran di sana-sini sebagai pelarian kuliah yang sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *